Bayu 'Jreng!' Ardianto, Musik yang Inklusif & Kesadaran Berbagi

Bandung - Kalau didengar sepintas, 'Jreng!' boleh jadi salah satu kata dengan unsur musikal yang paling menohok. Coba saja, mungkin kamu enggak mudah untuk menemukan kata selain 'Jreng!' yang lebih musikal.

Berangkat dari filosofi tersebut, Bayu Ardianto kemudian membawa entitas Jreng!, bahkan menjadikannya nama panggung. Hanya saja, ia cekatan dan lebih cerdik. Lebih dari sekadar bikin musik, Bayu juga benar-benar bisa mengembangkan musik menjadi sumber penghidupan.

"Kalau dalam Bahasa Jawa, 'Jreng' itu artinya saya bayar lunas. Artinya enggak hanya main musiknya aja, tapi dibayar tunainya juga," ujarnya sembari tertawa.

Bisa hidup nyaman dengan waktu penuh mengerjakan musik, boleh jadi ini adalah dambaan bagi siapapun yang tertarik menggeluti bidang ini. Enggak orang dengan mimpi ini memilih untuk menggugurkan mimpinya karena tuntutan realistis yang mengharuskan si pemimpi menjalani hari dengan peran di luar musik.


Tetapi tidak dengan Bayu. Dua kali "kandas" kuliah, pernah ngeband kemudian harus karam, ketertarikannya pada musik enggak surut sama sekali. Seolah tak kehabisan akal, Bayu yang selalu melakukan dua hal kunci: riset dan development dalam tiap proses berkaryanya kemudian membuat proyek musik dengan nama 'Jreng!'. Luar biasanya lagi, proyek musik ini enggak sekadar bikin lagu, manggung, dibayar, selesai. Ya, pernak-pernik kecil yang dibutuhkan Bayu dalam proses kreatif Jreng! juga mengantarkannya ke gerbang pundi-pundi yang lain.

Simak obrolan beritabaik bareng Jreng! di bawah ini yuk!

Baca Ini Juga Yuk: Memacu Kuda Besi Bareng Jenggala lewat Single 'Menantang Jarak'

Ngeri nih, kita sedang bersama Bayu, multi instrumentalis kebanggaan…
"Waduh. Ha ha ha, enggak! Orang emang banyak bilang 'duh maneh ngulik sagala' (duh, lu ngulik semuanya), padahal saya hanya ngulik Jreng! aja."

Jadi maksudnya gimana, Bay?
"Ya. Jadi semua hal yang keliatannya lagi aku kerjain sekarang, itu semua karena aku ngerjain Jreng!. Awalnya dari Jreng! dulu.”

Kayak pengembangan software dan bikin konten ya?
"Iya. Sekarang kan nge-development software di Kuassa (salah satu kreator amplifikasi kenamaan dari Bandung) dan bikin konten di Screamous. Dua-duanya ini awalnya karena si Jreng! bikin konten dan bikin software. Terus akhirnya ketemulah sama beberapa pihak yang mengantarkan aku ke pekerjaan atau proyek-proyek ini."

Oh, jadi kayak ada yang ngeliat potensi Bayu di bidang-bidang tadi, ya?
"Iya. Kayak misalnya Mas Indra Qadarsih (eks kibordis Slank), dia ngeliat kok saya suka nge-develop software. Diceburin lah sama Mas Indra dan saya kayak berenang se berenang-berenangnya. Ha ha ha."


Kalau di Screamous?
"Ya sama aja. Kan kalau main musik di Jreng! itu pasti bikin konten, karena emang mainnya digitalan. Kebutuhan-kebutuhan yang dikulik waktu produksi Jreng! akhirnya kepake untuk pekerjaan lainnya.”

Jauh sebelum Jreng! dicetuskan, Bayu malang melintang di Bandung dan Jakarta untuk beberapa kegiatan musik. Setelah tak berjodoh dengan jurusan Teknik Geodesi ITB selama lima semester sejak 2001, Bayu memutuskan pindah kuliah ke Institut Musik Indonesia (IMI). Ia memulai petualangan di Jakarta pada tahun 2004.

IMI dipilihnya karena ia mulai menyerah untuk mendapatkan beasiswa sekolah musik di luar. Namun alih-alih berjodoh dengan IMI, ia malah berpisah lebih cepat dengan jurusan yang justru senafas dengan keinginannya: seni musik. Di jurusan tersebut, Bayu hanya bertahan dua semester saja.

"Eh, tapi gua ngerjain materi Tugas Akhir anak-anak sana tuh sepuluh semester," ujarnya sembari tertawa.

Ya, sepuluh semester dihabiskan dirinya untuk terlibat dalam proses tugas akhir. Untuk kamu yang belum tahu, kuliah di jurusan seni pertunjukan biasanya diakhiri dengan proses resital. Proses ini memakan waktu, energi, biaya, dan upaya yang besar karena kamu dituntut membuat sebuah pertunjukan.

Dalam konteks seni musik, resital biasanya melibatkan banyak orang, mulai dari session player, kru, hingga orang-orang yang tak nampak saat proses garapan termasuk yang membuatkan partitur musik sebagai syarat pertunjukan. Nah, di sanalah Bayu banyak terlibat.

Joki partitur maksudnya, Bay?
"Ha ha ha iya. Sebetulnya waktu itu apa aja dikerjain sih, karena kepentingannya pun untuk bayar sewa kost aja. Ha ha ha."

Apa yang bikin Bayu mundur dari IMI sih saat itu? Kan itu jurusan yang udah dipilih?
"Gimana ya? Gua sih ngerasa tekanannya itu bukan saat mengasah skill atau bikin apa gitu, enggak. Tapi datang dari temen-temen yang udah jago duluan. Sedangkan gua masih segini-segini aja. Yang kayak gitu-gitulah.”

Enggak terpikir ngeband saat itu?
"Ngeband. Saat itu bahkan sampai jalan sama salah satu label, dan tur ke puluhan radio. Tapi umurnya enggak lama, hanya lima tahun.”


Apa yang bikin Bayu akhirnya udahan sama band tersebut?
"Banyak berantem. Aku ngerasa proyek musik bareng band itu kayak abu-abu aja. Enggak jelas tujuannya mau jualan apa mau idealis: mau bikin lagu yang sesuai lu suka? Mau jualan? Atau mau di antaranya? Itu selalu abu-abu.”

Selepas perjalanan bersama band tersebut, akhirnya Bayu meriset konten video untuk kebutuhan YouTube. Saat itulah, salah satu komunitas penggemar grup Radiohead menggelar semacam lomba cover musik Radiohead. Saat itu, Bayu mencetuskan proyek musik untuk acara ini dengan entitas Jreng!

Ide itu muncul secara spontan. Bayu terinspirasi dari headstock gitarnya yang diberi nama Jreng!. Lalu, tulisan pada headstock gitar yang tadinya diproyeksikan sebagai ikon proyek musik itu justru malah menjadi nama proyek musiknya sendiri.

Singkat cerita, video lomba pun dikirim. Setelahnya, Jreng! memang enggak memenangkan lomba cover lagu tersebut. Namun menariknya, mereka justru tampil sebagai bintang tamu di acara puncak saat komunitas penggemar musik Radiohead tersebut membuat acara berikutnya.

Baca Ini Juga Yuk: 'Mulai Langkahmu' Single Baru yang Enerjik dari Yura Yunita

Mungkin karena videonya bagus kali, Bay?
"Ha ha ha. Tapi yang jelas pressure lah. Kayak, wah ini gua siapa? Mereka kan udah jelas penggemar Radiohead, bawain lagu-lagu Radiohead.”

Terus Jreng! bawain lagu apa dong?
"Ya lagu-lagu Radiohead lah, kayak 'Paranoid Android', itu lagu wajib gitu. Tapi kita bawain 'Nyaris Sempurna' juga kok. Ha ha ha."

Penontonnya gimana?
"Sing along dong pas bawain ‘Nyaris Sempurna’. Gila itu gua masih enggak nyangka. Hahaha.”

'Nyaris Sempurna' itu sendiri merupakan single yang membuka jalan bagi Jreng! untuk memulai karir musiknya. Secara musikal, lagu ini mengusung jenis musik pop, tak ubahnya komposisi pop pada umumnya. Hanya saja, yang membedakan, memang kreativitas Bayu dalam meracik lagu ini enggak bisa dipandang sebelah mata.

Bayangkan saja. Tahun 2010, mana ada kreator video yang menunjukkan usaha alias effort untuk membuat video musik sendiri? Terlebih, Bayu memainkan seluruh instrumen musik sendirian. Selain itu, ia juga merekam video sendiri, menyuntingnya, kemudian mengunggahnya. Hal gila ini sudah dilakukannya, bahkan saat boleh jadi kita masih menggunakan ponsel berlayar monokrom.


Keren sih ini, 2010 udah segini niatnya…
"Ha ha ha."

Terus, 'Nyaris Sempurna' itu berdasarkan pengalaman nyata?
"Itu tentang seorang wanita petualang. Jurnalis cewek. Ciee.."

Siapa, Bay? Based on true story?
"Ceritanya…"

Di sini, Bayu melakukan apa yang Bayu suka? Maksudnya, di sini lebih idealis gitu?
"Iya. Awalnya sih ini karena bikin konten, terus ya 'viral' lah ya istilahnya. Aku sebenernya enggak peduli sih sama nilai komersil, soalnya itu tuh kayak konsekuensi logis dari apa yang udah kita lakuin."

Proses kreatif Bayu dengan nama Jreng! dilakukannya sendiri. Ia merekam musik, menyunting musik, membuat video musik, hingga mengunggahnya sendiri. Belakangan, ia mengerjakan proyek-proyek musiknya di studio pribadinya.


Semua digarap sendiri ya?
"Sendiri dulu. Hehehe, sebenernya istilah multi instrument itu identik sama produser, ya. Entah itu untuk memproduseri diri sendiri atau orang lain. Pengembangannya ke arah sini, walau aku masih nyaman memproduseri musik buat aku sendiri."

Ada waktunya enggak sih pas Bayu merasa enggak bisa mengerjakan ini sendiri?
"Di beberapa bagian yang memang aku butuh profesional, aku pasti rekrut freelance. Dan jadi tantangan tersendiri buat saya. Soalnya ada duit yang dikeluarin, dan waktunya terbatas. Jadi, gimana cara maksimalin apa yang kita punya.”

Luar biasanya lagi, di fase awal mengunggah video ke YouTube, kanal milik Jreng! menarik salah satu produsen efek gitar ternama, Electro-Harmonics meliriknya. Mike Matthews selaku pendiri Electro-Harmonix pun bahkan mengakuinya. Alhasil, Bayu mendapat kiriman berupa pedal efek dari Electro-Harmonics.

Merasa semakin termotivasi, ia kembali meneruskan konten video yang dibuatnya. Kali ini, Bayu menampilkan pedal efek Electro-Harmonics yang dimilikinya. Hal itu membuat pihak produsen senang dan terus mengiriminya pedal baru. Secara umum, Bayu seolah menjadi endorser untuk produk alat musik ini, walau menurutnya Electro-Harmonics punya regulasi tersendiri saat bekerja sama dengan musisi.


Bisa jalan bareng Electro-Harmonics (EHX) itu gimana?
"Sama EHX itu karena konten. Cuma ya di EHX itu perjanjian kerja samanya enggak yang 'wah gua support dan kontrak lu nih' enggak gitu. Jadi mereka itu fair. Kalau mereka suka sama musisi. Di manapun lu, siapapun lu, ya dia akan kirim lu pedal.”

Ada banyak dong?
"Wih, gile. Se-lemari. Ha ha ha. Nanti abis ini kita studio tour, ya.”

Tapi awalnya memang beli?
"Beberapa ada yang beli di fase awal. Cuma setelah beli, bikin musik, dan ternyata orang EHX-nya keburu suka, dan dapet support terus.”

Selama menjalankan Jreng! Bayu memang dominan melakukannya sendirian. Ia baru akan memanggil musisi tambahan apabila merasa perlu. Misalnya: ia memerlukan formasi kuartet dalam pertunjukannya, maka ia akan memanggil musisi tambahan sesuai dengan pos-pos kosong yang sekiranya perlu diisi.

Di tengah proses produksi Jreng!, lagi-lagi Bayu menemukan kendala, antara lain penggunaan perangkat lunak musik. Pantang menyerah, Bayu menyelesaikan masalah ini sendiri. Ia kemudian membuat dan merancang perangkat lunak musik yang sesuai dengan kebutuhannya.

Kemampuan itulah yang kemudian dilirik oleh Indra Qadarsih dan Kuassa. Indra kemudian menyalurkan kemampuan luar biasa Bayu untuk penggarapan beberapa proyek musiknya. Salah satu proyek musik Indra Qadarsih yang melibatkan Bayu adalah Oxytron. Selain itu, ia juga dipercaya merancang perangkat lunak untuk produsen ampli Kuassa.

Bayu menyebut, proyek-proyek musik di luar dirinya sebagai penampil bersama Jreng! ini lahir karena riset dan pembentukan yang dilakukannya. Misalnya, saat ia hendak membuat perangkat lunak untuk ampli, kemampuannya merancang amplifier virtual terendus oleh produsen, yang berujung terjalinnya proses kerja sama.

Bay, bisa ada di titik nyaman saat memilih musik sebagai profesi tuh gimana sih? Ini kan kayaknya emang dambaan semua orang ya?
"Pertanyaannya: apa yang lu cari sih dari musik ini? Itu harus kejawab dulu. Si titik nyaman ini tuh kayak konsekuensi logis dari apa yang kita kerjain. Aku enggak pernah membayangkan diri aku menjadi developer program audio software, atau mungkin jadi apa gitu, aku hanya mengerjakan musik di Jreng! dan si Jreng! ini jadi laboratorium aku untuk me-riset hal baru. Walau biasanya hasil riset itu jadi kerjaan baru.”

Jadi si Jreng ini kayak kendaraan buat riset-riset kamu ya?
"Iya. Bisa jadi kayak free pass jurnalis kalau mau wawancara seseorang gitu. Ha ha ha, tapi ini konteksnya buat media seni pada umumnya dan si Jreng! ini yang bikin aku banyak ngobrol dan ketemu banyak orang. Ini juga yang bikin aku menjauhkan ekslusifitas.”

Ada enggak sih sisi enggak nyaman dari proses kreatif kamu?
"Ada dong. Terlalu nyaman itu enggak baik. Karena wujud karya seni kan lahir dari ketidaknyamanan. Nah, cuma yang bisa bikin orang menyerah karena dia enggak tau mau ke mana. Enggak tau mau ngapain? Misalnya, orang main musik buat terkenal. Pas dia udah terkenal, eh lu enggak tau mau ngapain? Ha ha ha. Percaya deh, ada di spotlight tuh terus enggak enak. Lu harus tampil ganteng terus, harus ngomong bener terus dan kadang enggak semua orang siap sama itu semua. Balik lagi, terlalu nyaman itu enggak baik buat seniman.”

Setelah cukup stabil dengan kegiatan bermusiknya, Bayu kemudian menepi dari hiruk pikuk Kota Bandung. Ia memindahkan studionya ke wilayah Tanjungsari, Kabupaten Sumedang. Enggak berhenti di situ, Bayu juga coba meregenerasi ekosistem musik terdekatnya. Ia membuka kelas teknisi audio secara independen.

Murid-muridnya memang masih berasal dari lingkaran pertemanan terdekat. Namun, Bayu percaya, proses transfer ilmunya ini bisa menjadi lahan pekerjaan baru bagi murid-muridnya. Ada dua jalur yang bisa kamu tempuh kalau mau belajar banyak tentang musik dengan Bayu; pertama dengan cara magang, kedua dengan cara privat.

Studio pribadi Bayu bisa dibilang sangat komplit. Berbagai alat kerja audio dan visual, semuanya tersedia. Kamu hanya tinggal datang dan belajar sungguh-sungguh serta mencuri ilmu Bayu saja jika hendak belajar. Kamu bisa coba bertanya melalui akun Instagram @jrengmusic atau mengunjungi website jrengmusic.com.

"Ada salah satu murid gua, sekarang sih udah jadi teknisi di produksian si Jreng!. Dan dia gua bayar sebagai profesional, bukan sebagai murid. Karena anak ini gua lepas dulu nih, dia dapet klien profesional dari mana-mana. Terus gua tarik deh," katanya.

Setelah semuanya kayaknya udah di dapetin nih Bay, apa sih harapan selanjutnya?
"Apapun yang Jreng! lakuin, entah sebagai ekspresi seni, ngajar, atau apapun, semoga bisa bermanfaat aja sih. Ngebalikin juga hal yang sering kita lupa. Media Jreng! emang banyak, hasil riset dan development-nya juga banyak banget, tapi muaranya satu: musik. Banyak orang lupa kalau musik itu inklusif. Gua seneng banget kalau lagu-lagu gua itu kayak berdampak untuk pendengarnya. Yang tadinya galau jadi seneng, yang lagi PDKT bisa jadiin lagunya sebagai soundtrack. Segitu aja sebenernya udah seneng.”

Regenerasi tadi tetep dilakuin ya, Bay?
"Iya. Aku buka kelas, yang mana muridnya enggak perlu harus keluar duit. Kamu bisa keluarin tenaga, effort, atau apapun itu, atau ya kalau mau SPP juga enggak apa-apa, ya soalnya studio kan harus dibayar listriknya. Ha ha ha. Belajar di sini tuh enggak ada rem, bebas sebebas-bebasnya. Aku cuma minta komitmen kamu untuk belajar yang bener aja. Aku kepengin kamu tau manfaat dari belajar di sini, biar manfaat itu kamu aplikasiin lagi ke orang lain.”

Obrolan kita enggak ada yang sensitif kan ya? Kita kirim draft wawancaranya deh ya abis ini?
"Tulis dan potret aja sih, santai aja kali. Aku malah makasih banget, udah lama enggak banyak cerita dan jeprat jepret. Terbaik memang kalian!”

TemanBaik, perjalanan bermusik Jreng! boleh jadi pembelajaran bagi kita, bahwasannya di tiap proses penelitian yang pasti kita lakukan dalam bidang apapun, biasanya ada celah pengembangan potensi baru yang bisa kita jadikan pekerjaan. Nah, obrolan bareng Jreng! bikin kita sadar pentingnya kepekaan tersebut.

Selanjutnya adalah keuletan. Saat ini, yang kita lihat adalah ruang nyaman yang dimiliki Jreng! saat bekerja di studio. Ada pedal efek gitar yang banyaknya segudang, alat musik dan olah suara yang lengkap, dan segudang fitur produksi musik yang memudahkan pekerjaan. Namun, proses yang dialami Bayu saat ia masih membuka jasa bantuan tugas akhir, saat menjalani promo radio yang melelahkan hingga menjadi band debutan juga enggak bisa dilewatkan begitu saja. Artinya, jangan dulu berekspektasi terlalu tinggi jika usahamu belum terlalu maksimal.

Lebih dari itu, Jreng! juga menginspirasi kita bahwasannya popularitas hanyalah konsekuensi logis dari apa yang sudah kita lakukan. Fokusnya mempersiapkan kualitas diri membuatnya enggak perlu berkoar untuk bisa dikenal banyak orang, bahkan sampai mendapat dukungan dari produsen alat musik ternama.

Terakhir adalah kesadaran untuk senantiasa berbagi dan percaya pentingnya regenerasi. Kelas audio yang dibukanya walau dalam skala kecil bisa kita jadikan inspirasi, sehebat apapun kamu di bidangmu, bakal tetap sia-sia kalau kamu enggak membagikannya dengan orang lain. Jadi, jangan ditelan sendiri ya ilmu yang kamu punya.

Selamat berakhir pekan, TemanBaik! Panjang umur kreativitas dan ide-ide kreatif.

Foto    : Djuli Pamungkas/beritabaik.id
Layout : Agam Rachmawan/beritabaik.id 


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler