Berbagi Kebaikan Lewat Musik, Belajar Bas untuk Seniman Jalanan

Bandung - TemanBaik, ada banyak cara untuk berbagi, salah satunya berbagi ilmu. Seperti apa yang dilakukan oleh kelas bas seniman jalanan yang satu ini.

Kita enggak asing dengan peribahasa yang seolah menempatkan musik sebagai bahasa universal yang dapat menyatukan berbagai kalangan. Ya, malam itu, kami merasakan betul makna peribahasa tadi.

Diprakarsai oleh Firman Ari, kelas belajar bas digelar di teras depan bangunan Rumah Musik Harry Roesli (RMHR), Jl. Supratman No. 57, Bandung. Kelas yang baru berjalan dua edisi ini bermaksud menggandeng seniman jalanan untuk belajar alat musik bas lebih serius lagi.

"Baru edisi kedua nih. Ada satu orang yang berhalangan datang," ujar Firman di sela-sela kegiatan kelas bas, Kamis (24/6/2021) malam.


Firman yang menjadi mentor bas pada kelas ini merupakan salah satu personel grup 57kustik dan jebolan Seni Musik di SMK Negeri 10 Bandung. Pengalamannya menjadi seniman jalanan sebelum mendapat kesempatan mengenyam pendidikan musik secara formal diakuinya menjadi alasan, kenapa ia ingin turun lagi ke lapangan untuk menggandeng sesama rekan seniman lainnya.

Baca Ini Juga Yuk: Wujud Cinta Kasih Asteriska dalam Single ‘Ibu Pertiwi’

Ia juga menambahkan, terpaan pandemi virus korona cukup berdampak pada profesinya sebagai musisi profesional. Dalam kondisi normal, Firman adalah musisi yang tampil dari panggung ke panggung. Mulai acara festival musik hingga menjadi pemusik di acara pernikahan (wedding band).

"Sejak pandemi, industrinya kena, akhirnya jadi balik lagi ke jalan. Turun gunung lah. Dan ketemu sama temen-temen ini," terangnya.

Pada kelas bas edisi pertama yang digelar minggu lalu, Firman berhasil menggandeng 4 seniman jalanan untuk belajar memainkan instrumen bas. Kelas bas edisi pertama merupakan hari terakhir sebelum diberlakukannya kembali jam malam di Bandung.

Pada edisi kedua, kelas bas diikuti oleh 3 seniman jalanan. Mereka antara lain Ari, Asep, dan Dinar. Ketiganya nampak antusias mengikuti materi bermain bas dasar yang disampaikan oleh Firman.


Dua kali pertemuan yang telah dilewati ini, para seniman jalanan belajar mengenai teknik bermain bas dasar. Salah satunya menghitung tempo musik, belajar irama, pola nada dasar, hingga improvisasi sederhana. Firman menyebut hal ini penting diasah agar seniman jalan punya tingkat musikalitas yang lebih baik.

Ia juga menambahkan kelas ini dikhususkan untuk seniman jalanan saja. Jadi, barangkali kamu punya kegiatan yang mengorganisir aktivitas seniman jalanan dan berminat menjejali mereka dengan asupan musik, kamu bisa ngobrol dengan Firman agar seniman-seniman jalanan ini bisa ikut kelas.

Oh ya, kelas ini bersifat gratis untuk seniman jalanan. Nah, Firman juga menggarisbawahi, selain seniman jalanan, kamu dipersilakan untuk masuk ke kelas RMHR.

"Buat seniman jalanan dulu sih kalau ini. Kalau dari umum, masuknya ke sini ke RMHR, ada tarif dan lain-lainnya," kata Firman.

Di tengah materi improvisasi, ketiga seniman jalanan ini mengaku materi yang diberikan bisa teraplikasikan saat ia sedang ‘manggung’ di titik-titik ngamen mereka. Salah satunya Dinar, seniman jalanan yang menggelar panggungnya di perempatan Cikapayang ini begitu antusias saat diberi materi tangga nada dasar.

"Ini kalo bawain lagu tertentu kepake (bisa teraplikasikan ilmunya) loh!" ujarnya, antusias.

Sementara itu Ari menyebut minatnya untuk mengikuti kelas bas ini agar dirinya bisa mendapat penghasilan tambahan dengan menjadi musisi di acara pernikahan (wedding band). Ia merasa dirinya perlu membenahi skill bermusiknya agar bisa bekerja di industri tersebut.

"Saya sebenernya mah anak punk, dan cuma bisa main gitar. Terus, waktu itu ketemu temen, dan ditawarin main wedding-an, tapi banyak kosongnya buat pemain bas. Enggak apa-apalah saya belajar bas," ujarnya. Ia juga mengaku tak keberatan kalau harus memainkan dua peran: sebagai seniman punk setiap hari biasa, lalu menjelma menjadi klimis dan rapi sebagai musisi di acara pernikahan pada akhir pekan.

Saat ini, kelas bas yang dibesut Firman Ari tersebut memang baru dihuni empat orang saja. Materinya pun masih sangat mendasar. Firman enggak menutup kemungkinan kelas bas ini terus berjalan dan melibatkan lebih banyak seniman jalanan lagi.

Rencananya, kelas bas ini akan terus digelar di Rumah Musik Harry Roesli, saban Kamis malam mulai pukul 19.00 WIB. Namun, untuk informasi lebih lanjut, kamu bisa menghubungi Firman melalui akun Instagramnya @firman_ari.

Semoga kreativitas dan upaya kreatif para seniman enggak pernah padam biar bumi enggak jadi sepi, ya. Tetap semangat!

Foto: Rayhadi Shadiq/Beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler