Kenalan dengan Musik Folktronica Lewat Dua Lagu OMEMI

Bandung - Musisi eksperimental OMEMI baru saja melepas single berjudul ‘The Dark Tribe’. Lagu ini coba menawarkan perpaduan eksplorasi musik menawan.

Lewat keterangan resminya, OMEMI memperkenalkan diri sebagai musisi dengan pendekatan Folktronica. Aliran musik ini diklaim sebagai perpaduan antara musik folk atau tradisional dengan musik elektronik. Ia juga coba menggabungkan dua aliran musik yang memiliki perbedaan secara teori menjadi karya layak dinikmati.

Menariknya, karya-karya ini berawal dari proses studi yang dijalaninya di University of Fontys, Tilburg, Belanda. Berawal dari proposal Artistic Research untuk program Master of Music yang tengah diambil, OMEMI menjelaskan musik tradisional Indonesia sejatinya memiliki daya tarik luar biasa di mata dunia.

“Ketika saya mempresentasikan The Dark Tribe dan The Light Pilgrims kepada para panelis penguji yang terdiri dari pengajar senior, professional producer, dan DJ di Belanda juga Eropa, mereka tertegun dengan keunikan suara gamelan, kecak, suling, dan sinden yang bisa menyatu dalam musik yang diolah secara elektronik atau modern,” ungkap pria bernama asli Ibrahim Ismullah ini.

Pada lagu ‘The Dark Tribe’, OMEMI coba menyelipkan elemen suara gamelan juga tari kecak. Sementara itu, divisi vokal dengan isian sinden melibatkan musisi Surabaya, Nadine Makalew. Isian tersebut bertujuan menonjolkan suasana amarah, magis, juga mistis.

Baca Ini Juga Yuk: Empat Band Indonesia Bakal Tampil di ASEAN Music Festival 2021

Sebaliknya, pada lagu 'The Light Pilgrims' yang dirilis awal Juli 2021, terasa lebih ringan dan menenangkan dengan alunan suling yang jadi melodi utama. Menariknya, konsep musik ini dipadukan dengan vokal rap yang diisi musisi asal Tilburg, JSaya.

Kedua lagu ini bisa disebut duet saling melengkapi. ‘The Dark Tribe’ lagu yang menggambarkan kemarahan akan keadaan bumi yang semakin rusak oleh ulah manusia. Sedangkan pendahulunya, ‘The Light Pilgrims’, adalah lagu yang memberikan harapan atas kedamaian di bumi yang berasal dari kasih sayang di antara makhluk hidup.

Proses kreatif pembuatan lagu ini juga diceritakannya sebagai runutan cukup kompleks. Pasalnya, gamelan sebagai elemen lagu tersebut memiliki perbedaan sistem musikal signifikan dengan teori musik pop kontemporer. Kesulitan lain dirasakan saat produksi kedua lagu ini yang digarap jarak jauh.

Baca Ini Juga Yuk: Nuansa Jakarta 1970-an di Single Baru Compadres

“Saya berada di Tilburg berkolaborasi dengan teman-teman musisi di Indonesia untuk bisa mendapatkan sampel-sampel gamelan dan suling yang dibutuhkan untuk menyelesaikan karya ini,” ungkapnya.

Meski begitu, proses kreatif yang terbilang rumit ini berhasil dilalui OMEMI. Ke depan, ia menargetkan membuat album beraliran folktronica dengan mengeksplor alat musik khas Indonesia lainnya. Ia juga berharap Folktronica Indonesia dapat diterima di pasar musik Internasional.

TemanBaik, kamu bisa mendengarkan dua karya terbaru OMEMI melalui layanan pemutar musik digital favoritmu. Selamat mengapresiasi!


Foto: Dokumentasi OMEMI


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler