'Penumbra', Debut Album Segar dari Suarloca

Bandung - Setelah memperkenalkan trilogi single 'Umbra', Suarloca akhirnya memperkenalkan debut album berjudul 'Penumbra'. Debut album ini diyakini sebagai angin segar untuk pencinta musik rock Indonesia.

Lewat keterangan resminya, grup musik beranggotakan Fahman Fauzi (drum), Husein Muhammad (gitar), Lana Syahbani (gitar), Levi Arie (vokal, synth), dan Rami Satria (bass) ini menyebut 'Penumbra' sebagai wujud eksplorasi dalam memainkan emosi pendengar lewat musik dan lirik yang disajikannya. Terdapat sembilan lagu dalam album ini yang seolah membawa pendengarnya naik wahana roller coaster.

Membedah singkat lagu-lagu dalam album ini, 'Penumbra' dibuka lagu 'Surut'. Bebunyian synthesizer seolah jadi gerbang bagi pendengar menyelami album ini. Dinamika tinggi berbalut iringan musik familiar di telinga menjadikan lagu pembuka ini mudah dicerna dan membuat kita penasaran akan kejutan pada lagu-lagu berikutnya.

Selanjutnya, ada 'Mind Thieves' yang dibuka bebunyian trinada alias arpeggio yang mengalun, mengiringi 'vokal malas' ala Levi Arie. Pembuka lagu ini disambut distorsi gitar, tabuhan drum, serta ketukan-ketukan ganjil yang cukup membuat kita menganggukkan kepala sejenak menghayati lirik lagu.

Dua lagu berikutnya, 'Umbra' dan 'The Sixth Day', memang sudah diperkenalkan ke pada publik jauh sebelum album ini dirilis. Dua lagu ini menampilkan sentuhan fuzz dari gitar, dengan tetap mengusung pendekatan garage rock yang kental.

Dalam lagu 'Umbra', mereka coba mengangkat isu sosial. Sedangkan dalam lagu 'The Sixth Day', mereka coba membicarakan hal jenaka atau menyenangkan.

'Pawai fuzz' dan tabuhan drum enerjik masih berlangsung hingga lagu kelima yang berjudul 'Pasang'. Nah, kita baru diberi sedikit waktu menghela napas, merenung, dan berimajinasi kembali pada sepertiga awal lagu keenam, 'Ramblin'.

Ya, sepertiga awal lagu ini menyajikan sentuhan berbeda. Pendengar seolah ditempatkan di ruang kedap suara. Buat kamu yang sudah terbiasa datang ke studio musik, mendengarkan intro lagu 'Ramblin' seolah mengingatkanmu pada suasana di depan pintu masuk ruangan studio musik.

Saat sepertiga bagian itu selesai, 'pintu studio imajiner' yang tertutup itu seolah dibuka. Kendati selanjutnya tetap menampilkan pendekatan musik tak berbeda jauh, eskplorasi dinamika semacam ini patut diacungi jempol, termasuk upaya menyelipkan nuansa berbeda di tengah bagian lagu. Praktis, 'Ramblin' menjadi pembeda di album ini.

Selanjutnya, lagu ketujuh dan kedelapan, 'Bungkam' dan 'Remedy', seolah menjadi repetisi dari nuansa lagu yang sudah ada. Perlu beberapa kali mendengarkan dan mengenali lirik dari kedua lagu ini agar bisa memaknai kedua lagu ini lebih dalam.

Ngomong-ngomong soal lagu pembeda dari sembilan nomor di album 'Penumbra', lagu itu jatuh pada lagu pamungkas bertajuk 'Way Back to The Sun'. Jika album 'Penumbra' lekat dengan teriakan vokal, fuzz dan distorsi gitar, serta hentakan drum, maka kita tak mendapati itu pada 'Way Back to The Sun'.

Proses penggarapan 'Penumbra' dimulai saat pandemi gelombang pertama, 2020. Proses perancangan materi lagu dalam album banyak dilakukan secara daring. Ini menjadi proses yang menarik bagi Suarloca.

“Kami tersadar bahwa proses pembuatan karya masih dapat dilakukan meskipun banyak keterbatasan dalam hal tatap muka dan latihan di studio,” kata Fahman, sang drummer, mengenai proses kreatif terciptanya album ini.

Sembilan materi lagu dalam album ini tersaji dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Penggunaan kedua bahasa tersebut mereka sesuaikan dengan suasana lagu agar pesannya sampai kepada pendengar.

Lirik-lirik dalam album ini cukup beragam, mulai dari “Umbra” yang mengangkat masalah sosial, jenakanya “The Sixth Day”, hingga “Way Back to The Sun” yang membicarakan mimpi tentang keadaan setelah masa pandemi selesai.

Sebagai klimaks dari perjalanan tiga single yang dirilis berturut-turut dalam tiga bulan terakhir, Suarloca mencoba menyampaikan berbagai macam keresahan saat proses membuat album melalui sampul atau artwork single dan album. Salah satu keresahan yang Suarloca soroti saat merampungkan album adalah nasib band rock di masa sekarang.

Sampul ketiga single dan album merepresentasikan bagaimana band baru dan band senior bertahan di ekosistem musik Bandung yang punya problematika tersendiri. Seluruh konsep dan eksekusi sampul ini dirampungkan dan didiskusikan Suarloca.

Selain hadir dalam bentuk digital melalui layanan pemutar musik, album 'Penumbra' hadir dalam bentuk kaset dan box set dalam jumlah terbatas. Perilisan album dalam bentuk fisik ini adalah upaya Suarloca menawarkan pengalaman mendengarkan lebih menyeluruh, dengan minuman pendamping, lirik, dan dokumentasi visual dari penggarapan sampul atau artwork.

Proses rekaman album 'Penumbra' dilakukan di Studio Rekamkamar Jakarta. Suarloca menggaet Rama Harto dan Febio Sondakh sebagai co-produser untuk lagu ini. Proses mixing dan mastering 'Penumbra' turut dikerjakan Rama Harto yang sebelumnya pernah mengerjakan proyek bersama Iga Massardi, Ringgo 5, dan Zombie Autopilot.

Dengan sembilan materi yang membawa angin segar bagi perpustakaan lagu kita dalam menemani aktivitas sehari-hari, rasanya album 'Penumbra' dari Suarloca ini sayang banget jika dilewatkan.

TemanBaik, selamat mengapresiasi debut album Suarloca, ya!


Foto: Dokumentasi Suarloca


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler