Ombak Banyu Asmara, Kapal Megah Terbaru Milik The Panturas

TemanBaik, siapa sih yang enggak kenal The Panturas? Sebuah band dengan musik yang mereka sebut kelab rock selancar kontemporer ini telah dikenal masyarakat luas semenjak 2017. Di tahun 2021, band yang beranggotakan Abyan Zaki Nabilio pada vokal/gitar, Rizal Taufik pada gitar, Bagus ‘Gogon’ Patria pada bas, dan Surya Fikri Asshidiq pada drum, baru saja merilis sebuah album penuh terbaru yang berjudul “Ombak Banyu Asmara”.

Album penuh ini berisikan 10 lagu, lebih banyak dari album mereka yang sebelumnya berjudul “Mabuk Laut” pada tahun 2018. The Panturas pada album ini masih menghadirkan surf rock sebagai akar di setiap lagu mereka, tetapi di album ini akar tersebut tumbuh ke arah yang lebih liar namun tetap indah nan elegan.

Beritabaik.id berkesempatan hadir dalam sesi dengar album “Ombak Banyu Asmara” pada Kamis, (9/9). Selain para personil hadir pada sesi dengar tersebut, turut hadir Iksal R. Harizal sebagai manajer, dan juga Lafa Pratomo sebagai produser utama album ini.

“Ombak Banyu Asmara” dibuka dengan lagu instrumental berjudul “Area Lepas Pantai”. Lagu yang menjadi pembuka album ini masih bernuansa surf rock kental, menggambarkan persiapan berlayar dari album sebelumnya ke album yang terbaru.

“Kalau si ‘Area Lepas Pantai’ kita ini sih jembatan antara album pertama dan album kedua, si lagu ini kan rasa-rasanya masih ‘Mabuk Laut’, kalau diibaratkan sebuah pelayaran ini di dermaga nih siap-siap mau berangkat,” jelas Gogon.

Lalu, di lagu kedua ada “Tipu Daya”, eksplorasi musik dari The Panturas mulai terlihat, dan mulai muncul suara khas dari sang vokalis. Tempo enerjik diperlihatkan sejak awal dan suara gitar khas The Panturas semakin terasa. Uniknya, Kuya bercerita bahwa lagu ini awalnya berjudul “Karpet Turki”.

Selanjutnya lagu ketiga, yaitu “Tafsir Mistik”. Lagu yang telah dirilis terlebih dahulu sebelum albumnya memiliki unsur mediterania yang sangat kental. Seakan-akan mengajak para pendengar beristirahat dengan suasana kota padang pasir di malam hari, ditambah gemerlap cahaya lampu remang-remang.

Tempo enerjik dan cepat kembali dibawakan The Panturas pada lagu keempat, “Jim Labrador”. Lagu ini memiliki lirik yang bercerita tentang kisah seorang preman yang berani dan tidak takut mati. Pemilihan nama Jim Labrador dijelaskan oleh Gogon pada sesi dengar album tersebut.

“Untuk pemilihan nama Jim Labrador sih menurut gua nama Jim keren aja, dan nama Labrador gagah. Jadi kayaknya cocok aja jadi nama preman, gak ada maksud lain sih,” terang Gogon.

Lagu instrumental kembali muncul di tengah album ini, yaitu lagu yang berjudul “Menuju Palung Terdalam”. Penempatan lagu ini di tengah album membuat pendengar bersantai sejenak dengan tempo yang mengayun santai. Tapi suasana laut dan pantai tentu masih kental pada lagu ini.

“Balada Semburan Naga” jadi lagu selanjutnya yang menemani TemanBaik. Lagu ini juga telah dirilis lebih dulu sebelum album. Dengan berkolaborasi bersama Adipati ‘The Kuda’, lagu ini punya warna baru dibanding lagu sebelumnya. Cerita tentang penolakan orang tua terhadap hubungan sang putri dengan pria yang belum jelas asal-usulnya, menjadi bumbu yang menarik di lagu ini. Celotehan-celotehan betawi khas almarhum Benyamin Sueb juga menjadi pembeda di lagu ini.

Selanjutnya ada lagu yang dinahkodai oleh Abyan mulai dari musik hingga liriknya, “All I Want”. Lagu ini berlirik bahasa Inggris dan nantinya akan dibuat film pendek oleh Edy Khemod dari Cerahati/Seringai. Abyan bercerita sambil tersenyum tentang inspirasi dari lagu ini.

“Lagu cinta sih gua, terinspirasi sama Wanitaku-nya Noah, jadi ini sebenernya terinspirasi sama lagu itu, kan udah kita rencanain sebelum lagunya beres,” ucap Abyan sambil tertawa.

Menuju bagian akhir album, di lagu kedelapan ada “Intana”. Kembali lagu instrumental dengan musik khas The Panturas menemani TemanBaik, dengan tempo yang lebih lambat lagi. Suasana santai sambil membayangkan deburan ombak dan desir pasir pantai sangat dimunculkan di lagu ini.

Lagu kesembilan yaitu “Masalembo” jadi lagu kejutan dari The Panturas. Berkolaborasi dengan Nesia Ardi dari NonaRia, membuat Abyan seakan-akan punya lawan untuk beradu vokal di lagu ini. Latar musik di lagu ini kental dengan suasana tahun 50-an dengan layar hitam putih, dalam sebuah jamuan makan malam di atas kapal pesiar sambil berjoget bersama. Sungguh, lagu bertempo cepat ini sungguh syahdu dan menjadi lagu terbaik The Panturas di album “Ombak Banyu Asmara”.

Dan yang terakhir sebagai lagu penutup adalah “Ombak Banyu Asmara”. Sebuah lagu instrumental yang diceritakan Kuya sebagai outro saat The Panturas manggung. Lagu ini memang berkesan menyambut The Panturas kembali ke dermaga setelah berlayar di sepuluh lagu sebelumnya. Komposisi album ini memang sungguh ciamik, kumpulan lagu berisik yang ternyata sangat cantik dan enerjik.

“Ombak Banyu Asmara” menjadi kapal baru yang lebih megah dan mewah dibanding kapal sebelumnya yaitu “Mabuk Laut”. Pendalaman dan eksplorasi musik dari akar mereka yaitu surf rock tidak menjadikan mereka berubah, tapi malah punya hal lebih lagi untuk dinikmati dan dikagumi.

The Panturas berhasil meyakinkan dan memuaskan para Anak Buah Kapal (ABK) untuk kembali berlayar bersama mereka di kapal terbaru ini. Patut diyakini, bahwa The Panturas akan menjadi sebuah kru yang lebih terkenal lagi di lautan musik Indonesia.

“Ombak Banyu Asmara” dapat didengarkan lewat berbagai platform musik digital. Album ini akan dirilis secara fisik, dan tentu akan muncul merchandise lainnya dari The Panturas.

Ayo TemanBaik, berlayar bersama The Panturas di “Ombak Banyu Asmara”!


Foto: Dok. The Panturas

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler