Musik Gudang, Inovasi & Solidaritas Pegiat Musik saat Pandemi

Bandung - Banyak cara ditempuh untuk bertahan dan membangun solidaritas di tengah pandemi. Musik Gudang misalnya, konsep ini lahir di Ruang Putih Bandung. Ini jadi ajang seru sekaligus saling bantu.

Sesuai namanya, tempat yang dipakai adalah gudang. Lalu, bagaimana sih para kreator ini mengubah gudang usang menjadi wahana pertunjukan yang seru?

Beritabaik.id mengunjungi Ruang Putih Bandung dan bertemu para pegiat musik di sana yang sedang menggarap pertunjukan daring berjudul 'Musik Gudang', Rabu (15/9/2021). Banyak hal menarik dibahas bareng mereka.

Ide membangkitkan kembali semangat bermusik ini berawal saat mereka menyadari ada satu lahan kosong di Ruang Putih yang bisa disulap jadi wahana kreatif. Lahan kosong itu adalah eks studio musik di Ruang Putih yang kini beralih fungsi menjadi gudang.

Ya, gudang dengan bentuk ruangan memanjang sekitar 7x3 meter itu disulap menjadi tempat pertunjukan musik. Peralatan sederhana, mulai dari kamera hingga alat perekam suara, dimaksimalkan menjadi 'senjata tempur'.

Saat ngobrol dengan kami, Mia Sjahir selaku Show Director Musik Gudang menyebut, program reguler ini sebagai solusi jitu dan relatif paling aman untuk menunjang hidup para pelaku seni, khususnya bidang musik. Keterbatasan sumber daya menggelar acara musik secara luring membuat para kreator Musik Gudang melirik wadah digital sebagai wahana permainan yang baru.

"Kalau nunggu punya alat bagus, kayaknya enggak bakal terlaksana kegiatan ini. Sedangkan, di sisi lain, kita enggak tahu PPKM kapan berakhirnya. Temen-temen musisi juga perlu kegiatan atau panggung, bikin acara offline belum memungkinkan. Konsep virtual begini kami rasa bisa menjadi solusi buat kita," terangnya.

Sejauh ini, Musik Gudang sudah menampilkan dua episode. Pertama, ada penampilan Nissan Fortz, solois dari Bandung yang dikenal lewat lagu 'Sore Sebelum Hujan'. Selanjutnya, ada legenda musik blues Budi Arab yang nampil pada episode kedua.

Baca Ini Juga Yuk: Yuk! Bantu Pekerja Musik Lewat '100 Untuk 100'

Ditanya mengenai antusiasme, Mia mengaku terjadi peningkatan audiens cukup signifikan. Berkaca dari hal itu, terbesit keinginan dari punggawa Musik Gudang lebih melebarkan jangkauan penampilnya. Sebab, dua nama awal yang nampil boleh dikatakan telah menjadi langganan di setiap acara reguler Ruang Putih Bandung sebelum terpaan pandemi.

Pertunjukan musik serta penggalangan donasi ini benar-benar memanfaatkan peralatan yang ada. Bermodalkan tiga kamera sederhana, tata suara, dan lampu 'seadanya'. Namun, bukan berarti hasil yang ditampilkan juga seadanya.

Lihat saja penampilan pada dua episode Musik Gudang di kanal YouTube Ruang Putih Bandung. Kita pasti tak menyangka hasil audio visual ciamik itu lahir dari peralatan sederhana.

"Kendala mah pasti ada, namanya juga alatnya seadanya. Tapi, alat-alat ini tuh punya performa terbaiknya, kok. Jadi, ya tugas kita ngulik ke sana," ujar Ricky Destiawan, penata suara Musik Gudang yang juga musisi.

Sementara itu, dari segi visual, Kherisna Irawan selaku penata visual menyebut keterbatasan alat tak jadi halangan bagi membuat karya. Namun, pengalaman membuat karya dengan keterbatasan alat dianggapnya sebagai modal penting.

"Di beberapa proyek visual sebelumnya juga memang alatnya enggak yang mewah. Tapi, justru pengalaman itu yang bikin kita jadi terbiasa. Alat seadanya, kenapa enggak?" ujar Kherisna.


Traktir Kopi untuk Bantu Sesama
Enggak sekadar membuat pertunjukan virtual saja, Musik Gudang menghadirkan pengumpulan dana di setiap pertunjukan yang digelarnya. Penggalangan dana minimal Rp10 ribu per orang ini bakal disalurkan kepada musisi penampil dan orang di balik layar produksi.

Sebagai pengingat, situasi yang enggak mudah boleh jadi dialami semua pihak. Dalam industri musik misalnya, bukan hanya musisi saja yang mengalami kesulitan, melainkan seluruh punggawa ekosistem musik mulai dari teknisi suara, fotografer, videografer, kru, dan banyak divisi lainnya dalam keberlangsungan pertunjukan musik.

Cara berdonasinya pun mudah. Saat pertunjukan berlangsung, bakal ada tautan yang mengarahkan penonton ke laman web untuk berdonasi. Seperti sudah disebutkan, nominal donasi dibatas minimum di angka Rp10 ribu sampai tak terhingga. 'Traktir Kopi' dipilih menjadi nama untuk donasi.

"Ini seperti orang mau nonton konser, nih. Kalau kamu punya rezeki lebih, ya, silakan berdonasi. Tetapi, kalaupun enggak ada, ya enggak apa-apa. Kita seru-seruan bareng walau belum bisa tatap muka," tambah Mia.

Menurutnya, kegiatan semacam ini bisa diadopsi para pegiat musik di manapun. Berkaca pada pengalamannya berkegiatan kolektif selama pandemi, Mia menyebut kekuatan kolektif bisa jadi senjata ampuh, khususnya bagi pelaku seni untuk bertahan hidup.

Mia juga senang jika konsep Musik Gudang ditiru pegiat musik di daerah lain di luar Bandung. Mengandalkan kekuatan kolektif, bukan tidak mungkin industri musik akan tetap kokoh di tengah situasi yang enggak mudah.

"Biasanya, temen-temen itu hanya sampai niat, pas pelaksanaan enggak jadi. Kita banyak nunggu segala sesuatu sempurna, tapi, ya, enggak jadi-jadi akhirnya. Jadi, ya, memang perlu keberanian buat memulai. Risiko dicela mah ada aja, tapi, ya, hadapi aja, kita kan tumbuh bareng," katanya.

Baca Ini Juga Yuk: Kenalan dengan Musik Folktronica Lewat Dua Lagu OMEMI


Libatkan Komunitas Musik
Saat ini, penampil di tiap episode Musik Gudang masih diisi pegiat musik yang sering dijumpai dalam kegiatan musik reguler di Ruang Putih Bandung, seperti Monday Blues atau Folk Night. Namun, ke depannya, Musik Gudang bakal menjadi panggung pegiat musik dari mana saja. Hari Pochang selaku kurator aktivasi ini mengamini hal tersebut.

"Di awal-awal begini, kita memang masih berupaya membentuk karakter acara ini. Format yang tampilnya pun masih musisi dengan sajian akustik. Tapi eksplorasi kita menghadirkan banyak varian musik bakal terus dilakukan. Artinya, selain siapapun bisa manggung di sini, kami sebagai kurator pun bakal terus eksplorasi ngasih sesuatu yang beragam buat pemirsa," katanya.

Ke depan, Musik Gudang akan menjadi wahana seru buat pegiat musik. Pihak penyelenggara juga sangat terbuka bagi siapapun yang ingin nampil di program reguler Ruang Putih Bandung ini.

Mengenai proses kurasi, baik Mia maupun Pochang menyebut, kamu hanya perlu mengontak tim kurator lewat Instagram @musikgudang.ruangputih. Jangan lupa sertakan karya-karya orisinilmu di dalamnya, ya!

Sebagai penutup, keduanya berharap program reguler ini bisa menghidupkan lagi panggung musik di tengah pandemi, mengobati kerinduan pecinta musik, serta di sisi lain menjadi ajang saling bantu para pegiat industrinya.

"Kita berharap bisa konsisten dulu aja, deh. Kita mengasumsikan ini sebagai wahana pemanasan buat nanti menyambut kebangkitan industri musik saat pandemi berakhir. Dan semoga kalau situasi sudah pulih, kita enggak ninggalin acara reguler ini," pungkas Mia.

TemanBaik, yuk dukung kreativitas dan aktivasi musisi serta seniman lokal! Tetap semangat ya!


Foto: Istimewa/Dokumentasi Musik Gudang


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler