Bikin Aplikasi 'Jepret', ITB Jadi Juara di Hackathon 2019

Bandung - Ada aplikasi unik nih yang dibuat oleh tim mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) bernama Jepret. Lewat aplikasi tersebut, tim ini berhasil menjadi juara satu di kompetisi skala nasional yang diselenggarakan oleh Perusahaan Umum Jaminan Kredit Indonesia (Perum Jamkrindo), Hackathon 2019.

Jamkrindo Hackthon 2019 adalah kompetisi yang dirancang untuk menyelesaikan masalah internal Jamkrindo. Dalam kompetisi yang digelar di Jakarta pada 9-13 Juli 2019 yang lalu ini mengangkat tema 'Smart Access Technology'. Peserta berasal dari berbagai kalangan, baik mahasiswa, masyarakat umum bahkan hingga startup. Peserta diminta merealisasikan ide yang telah diajukan dalam 48 jam.

Tahap pertama kompetisi ini adalah pengumpulan proposal serta tahap final. Dari 41 proposal yang diterima, hanya 10 tim yang masuk ke tahap Hackathon. Sepuluh tim tersebut kemudian merealisasikan ide mereka serta mempresentasikan hasilnya di depan juri. Uniknya tidak semua pesertanya mahasiswa loh. Dari 10 tim, tiga di antaranya mahasiswa dan sisa peserta lainnya sudah bekerja.

Aplikasi Jepret dibuat oleh tim mahasiswa ITB yang berjumlah lima orang. Mereka adalah Cornelius Yan Mintareja (IF 16) sebagia ketua tim, Feby Eliana Tengry (STI 17), Christzen Leonardy (IF 16), Gabriel Bentara Raphael (IF 16), dan Muhammad Aditya Hilmy (STI 17).

Salah seorang anggota tim, Feby Eliana Tengry merasa bersyukur atas pencapaian yang diraih timnya. "Kami sangat bersyukur bisa dapat pencapaian ini. Enggak menyangka bisa jadi juara satu, malah sempat pesimis awalnya," tutur Feby di laman itb.ac.id.

Apa sih gunanya aplikasi ini? Jepret berguna sebagai pelengkap dan memperbarui data Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Indonesia yang beroperasi dengan cara mengajak masyarakat untuk melakukan peninjauan (review) serta pendokumentasian UMKM yang terdapat di sekitarnya.

Pengguna aplikasi ini dapat melihat daftar UMKM di sekitarnya dan saat berada di salah satu UMKM. Pengguna juga dapat menjawab beberapa pertanyaan untuk memenuhi data UMKM pada data jamkrindo. Setelah itu diarahkan untuk menjepret alias memotret lokasi usaha. Jepretan atau hasil foto pengguna ini akan dianalisis lebih lanjut dengan memvalidasi data yang diterima.

Mau tahu apa saja fitur dari aplikasi ini? Fitur Jepret meliputi verifikasi dan review yang dapat diakses untuk jenis usaha UMKM di sekitar pengguna. Foto yang diinput akan diproses dengan teknologi image processing untuk validasi data.

Terdapat juga dashboard Jamkrindo di mana pihak Jamkrindo dapat melihat data UMKM dan menyetujui pinjaman yang diajukan UMKM yang telah lengkap datanya. Terakhir, terdapat laporan hasil data analytics di mana pihak Jamkrindo dan UMKM dapat melihat semua laporan hasil analisis data. Fitur insentif pengguna juga tak kalah menarik karena tentu akan banyak bermafaat bagi pengguna.

Jamkrindo merupakan Perusahaan Umum yang memiliki pelanggan dengan jumlah yang sangat besar. Dalam memberikan kredit, tentu Jamkrindo harus mempertimbangkan prospek UMKM dari data yang dikumpulkan. Semakin besar jumlah customer Jamkrindo, maka proses pendataan akan semakin banyak pula, baik untuk kepentingan verifikasi maupun validasi.

Hingga saat ini, Jamkrindo masih menggunakan cara konvensional untuk memperoleh data dan melakukan verifikasi UMKM. Yakni dengan menggunakan tenaga outsource yang mengunjungi UMKM dan mengsi data secara manual. Selain mahal, cara ini terkadang menghasilkan data yang kurang lengkap dan tidak terverifikasi dengan baik.

Menurut Feby, Jepret hadir sebagai solusi untuk meningkatkan efektifitas pemenuhan data UMKM. "Tim kami memperkenalkan Jepret. Jepret hadir sebagai solusi yang memberdayakan masyarakat Indonesia dan kemajuan teknologi untuk meningkatkan efektivitas pemenuhan data UMKM," jelasnya.

Dampak dari memanfaatkan masyarakat umum adalah UMKM tidak perlu melakukan pembaruan data secara manual ke Jamkrindo dan data yang diperoleh akan lebih up to date. Selain itu, insentif yang diberikan kepada pengguna setiap selesai melakukan verifikasi akan mendorong pengguna untuk terus melakukan verifikasi sehingga semakin memudahkan pembaharuan data.

Foto: itb.ac.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler