Jadi Juara Dengan Drone Bersensor Kamera Wireless dan Gyrosscope

Malang - Fibrianti Shinta Dewi, Dhea Nasekha Oktaviola dan Aditya Aji Novtara, tiga mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP UB) ini tak pernah menyangka bisa meraih juara 1 dalam ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional, awal Februari ini.

Ketiga mahasiswa ini sukses mengungguli Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Hasanuddin melalui tahap seleksi abstrak, fullpaper, dan grand final 10 besar.

Tidak hanya itu. Tim yang diketuai oleh Fibrianti Shinta Dewi ini juga diganjar dengan penghargaan 'Poster Favorit'.

Prestasi ini diraih dalam ajang 2020 5th Agriculture Farming System Competition (AGRIFASCO), kompetisi ilmial tingkat nasional yang diadakan oleh Rekayasa Pertanian Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB).

Kompetisi di tahun ke-lima ini mengangkat tema 'Agriculture 4.0 : A Major Breakthrough or A Fall Through?'. Tujuannya untuk mempertemukan inovator-inovator muda berprestasi melalui penemuan-penemuan hebat agar mampu bersaing di kancah internasional.

Prestasi ini diraih berkat pengembangan konsep pesawat udara tanpa awak dengan sensor kamera wireless yang diintegrasikan dengan sensor Gyrosscope melalui perangkat android.

Baca Ini Juga Yuk: Siswa-siswi SMP Malang Juara di Global Youth Summit Melbourne

Proyek penelitian tim ini menggabungkan konsep pesawat udara tanpa awak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dengan Virtual Reality (VR).

"Kami menggabungkan konsep pesawat udara tanpa awak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dengan Virtual Reality (VR) yang saat ini sedang trend di perangkat android," ungkap Fibrianti Shinta Dewi.

Pesawat udara tanpa awak yang dinamai 'Agrioutro' ini memang dikonsep untuk memantau hama pada kedelai. Fungsinya untuk mengetahui intensitas serangan hama terhadap kedelai pada suatu lahan.



Dengan pesawat tanpa awak ini, maka petani dapat melakukan pemantauan serangan hama secara lebih cepat dan tepat.Dengan begitu, petani dapat menggunakan hasil pemantauan tersebut untuk mengambil langkah dalam hal pengendalian hama pada kedelai.

"Agrioutro dikonsep untuk memantau hama pada kedelai sehingga dapat diketahui intensitas serangan terhadap kedelai pada suatu lahan serta dapat membantu meningkatkan produktivitas kedelai di Indonesia," tegasnya.

Kata Fibrianti, kelebihan pesawat tanpa awak ini yakni bisa digunakan untuk pemantauan secara real time, efisien, dan tidak merusak tanaman saat proses pemantauan.

Ide untuk mengembangkan teknologi ini muncul dari fakta bahwa produksi komoditas kedelai Indonesia cenderung rendah dan belum mampu memenuhi kebutuhan konsumen nasional. Oleh karenanya, Indonesia harus melakukan impor kedelai yang cukup besar setiap tahun.

Bahkan, menurut Badan Pusat Statistik, data mpor kedelai dari tahun ke tahun menunjukkan kenaikan. Untuk periode Januari-Juni 2018 saja, impor kedelai mencapai 1,17 juta ton atau 43,7% dari total impor tahun sebelumnya.

Dengan begitu, tim di bawah bimbingan Mochammad Roviq ini berharap, inovasinya mampu berkontribusi dalam mengatasi permasalahan rendahnya produktivitas kedelai nasional dan juga mendukung revolusi industri 4.0 di bidang pertanian.

Foto: dok. FP Univeritas Brawijaya

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler