Mengenal Kesenian Bantengan Asal Mojokerto

Mojokerto - Mendengarkan suara tabuh gendang dan musik gamelan yang penuh dengan aura mistis selalu mampu menyihir masyarakat Indonesia yang masih kental dengan kepercayaan akan hal-hal yang berbau ‘klenik’. Perasaan itulah yang juga akan kita rasakan ketika menonton Kesenian Bantengan, kesenian asal Mojokerto. Namun sayangnya, kesenian ini masih belum dikenal secara luas di Indonesia.

Seni Tradisional Bantengan menurut Ruri Darma, peneliti asal Universitas Negeri Surabaya adalah seni pertunjukan budaya tradisi yang menggabungkan unsur sendra tari, kanuragan, musik, dan syair atau mantra yang sangat kental dengan nuansa magis. Sedangkan menurut Anam Anis, ketua komunitas Gotrah Wilwatikta Mojokerto, Bantengan adalah kesenian yang dilakukan khusus untuk menyambut tamu, atau dipertontonkan untuk memperingati hari-hari yang sakral dan penting dalam kebudayaan di wilayah Mojokerto.

Selain beberapa pengertian mengenai Bantengan tersebut, terdapat mitos yang beredar di masyarakat bahwa saat pertunjukan berlangsung, kita dianjurkan untuk tidak mengambil foto terlalu dekat dengan lakon yang menjadi banteng, karena akan menyebabkan banteng tersebut mengamuk dan mengejar siapapun yang berniat untuk mengabadikan wajah mereka. Konon katanya, roh yang berada di dalam tubuh banteng tidak suka jika wujudnya dipamer-pamerkan.

Kesenian Bantengan yang masih bertahan hingga kini banyak ditemukan di daerah Pacet dan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto. Menurut legenda dan sejarahnya, Bantengan memang pertama kali ditemukan di daerah tersebut. Lakon atau cerita yang disajikan dalam pertunjukan ini sangatlah beragam, seperti pada saat peringatan Ulang Tahun Pemprov Jatim yang ke-73, pertunjukan bantengan diselenggarakan dengan mengangkat lakon Geger Alas Purwo yang menceritakan tentang seseorang yang sedang menjalani pertapaan di tengah hutan, lalu tiba-tiba mendapat serangan dari puluhan banteng dan ‘memedi’ (makhluk halus).

Baca Ini Juga Yuk: Lebih dari Seabad, Bendungan Rolak Songo Ini Masih Begitu Memikat

“Bantengan ini juga merupakan media bagi para pegiat seni untuk menyebarkan dakwah yang penuh dengan nilai-nilai moral dan keagamaan. Sebagian besar memang menggunakan cara dakwah yang islami. Biasanya, bantengan juga diiringi dengan selawat kepada Nabi Muhammad, yang menandakan bahwa di dunia ini akan selalu ada kejahatan dan kebaikan, namun bagaimanapun, kebaikan akan selalu menang,” tutur Anam Anis ketika ditemui di kantornya di Jalan Jawa, Kota Mojokerto.

Ketua Forum Komunikasi Banteng Mojopahit, Mulyadi, dalam peringatan hari jadi Kabupaten Mojokerto ke-724 mengatakan, “Bantengan kini tidak hanya menampilkan sisi magis yang melulu kesurupan-kesurupan saja, melainkan cerita-cerita rakyat yang mengandung pesan-pesan moral tertentu. Kami tidak ingin bantengan hanya dikenal sebagai kesenian yang menakutkan saja, tetapi juga sebagai kesenian yang mampu mengedukasi masyarakat.”

Mulyadi juga menambahkan, “Banteng itu melambangkan masyarakat kecil. Pada masa peperangan, banteng mewakili rakyat kecil yang menegaskan bahwa setinggi apapun jabatan yang dipegang oleh seorang pemimpin, ia tetap berasal dari rakyat kecil. Selain itu, simbol banteng juga merupakan simbol untuk melawan penjajahan.” Mulyadi juga berharap agar kesenian ini bisa terus diapresasi oleh pemerintah, karena untuk membuat sebuah pertunjukan bantengan juga diperlukan properti yang tidak sedikit, sehingga membutuhkan biaya yang besar.

Dinas pariwisata, pemuda dan olahraga juga berusaha untuk terus mengembangkan kesenian bantengan sebagai ikon kreatif Mojokerto, karena bantengan merupakan kesenian yang melibatkan banyak orang dalam setiap pertunjukannya. Kebudayaan ini diharapkan selalu hidup untuk membentuk masyarakat yang guyub rukun dalam mewujudkan kedamaian dan persatuan.


Foto: Lintang Budiyanti

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler