Ubah Stigma, Apresiasi Kesehatan Mental Lewat Karya Seni

Jakarta - Memperingati World Mental Health Awareness Day pada 10 Oktober 2019, organisasi yang concern menghapus stigma di masyarakat bernama Ubah Stigma baru saja menggelar 'Senigma: Into Wanderland'. Pameran seni dan sesi art therapy ini dilaksanakan pada 12-13 Oktober 2019 di Cecemuwe Cafe and Space, Jalan Hang Jebat, Jakarta Selatan.

Senigma sendiri berasal dari kata 'seni' dan 'enigma' yang merepresentasikan kesehatan mental sebagai sebuah teka-teki yang tidak mudah untuk dipahami oleh semua orang. Kemudian ditampilkan melalui seni sebagai media penyampaiannya. Sementara tema 'Into Wanderland', adalah simbolisasi seseorang dengan kondisi kesehatan mental yang cenderung terhanyut dalam pemikirannya sendiri.

Karya-karya seni yang ditampilkan berasal dari teman-teman yang ikut berpartisipasi dalam kampanye Ubah Stigma. Kampanye ini mengajak publik untuk mengirimkan karya seni bertemakan kesehatan mental dalam bentuk visual, seperti lukisan, verbal, seperti prosa, maupun auditif, seperti lagu.

Melalui rilis tertulisnya, salah satu pendiri Ubah Stigma, Asaelia Aleeza BSc, MSc, menjelaskan harapannya untuk dapat berbagi wawasan dengan masyarakat tentang apa yang dialami oleh seseorang dengan isu kesehatan mental.

"Kami ingin menjadi wadah bagi orang-orang yang memiliki isu kesehatan mental untuk dapat menyalurkan pikiran dan emosi mereka dengan mengekspresikan diri melalui seni. Banyak orang merasa lebih nyaman berkomunikasi melalui seni sebagai media, karena dengan seni, pesan dapat tersampaikan dan diterima oleh masyarakat dengan baik," ujar Asaelia.

Tahun ini bukanlah kali pertama Senigma diadakan, pada 2018 Senigma telah dilaksanakan secara virtual di situs resmi Ubah Stigma (www.ubahstigma.org) dan diikuti oleh berbagai senigman, yakni sebutan bagi para seniman yang ikut serta. Mulai dari berbagai latar belakang dan media seni. Pada tahun ini, Ubah Stigma kembali mengajak publik untuk mengirimkan karyanya, yang nantinya akan dipamerkan.

Beberapa publik figur seperti Ray Shabir, Tatyana Akman, Hana Madness, dan Salwaa Chetizsa juga ikut serta mengirimkan karya mereka untuk dipamerkan di acara ini. Sebagai wujud realisasi Senigma tahun ini, Ubah Stigma juga melakukan kolaborasi dengan Adelline Art Therapy Center untuk memfasilitasi art therapy workshop pada tanggal 13 Oktober 2019.

Baca Ini Juga Yuk: Bersiap! Ada Prosesi Hajad Dalem Sekaten di Keraton Jogja

Art therapy adalah sebuah metode yang membantu menciptakan sensasi terapeutik dengan mengekspresikan diri melalui seni visual. Metode ini digunakan untuk mengeksplorasi emosi seseorang, yang dapat mengurangi kecemasan, meningkatkan rasa percaya diri, dan membantu proses penyelesaian masalah psikologis lainnya.

Rekan pendiri Ubah Stigma, Emily Jasmine, mengungkapkan keinginannya untuk menyalurkan pikiran dan emosi, dan menjadikannya sebuah karya. "Orang-orang cenderung terintimidasi dengan kata 'terapi' dan berpikir bahwa terapi hanya untuk orang yang mengidap penyakit. Namun sebenarnya, bentuk terapi ini sangat bermanfaat untuk memperbaiki hubungan antara diri dan pikiran. Art therapy adalah satu bentuk di mana kita bisa meluapkan emosi dan pikiran kita kedalam satu bentuk positif, yaitu seni," jelasnya.

Senigma merupakan sebuah bentuk apresiasi Hari Kesehatan Mental dan cara lain Ubah Stigma dapat berkontribusi untuk mengakhiri stigma di masyarakat di mana kesehatan mental masih dianggap tabu dan diremehkan. "Dengan mengajak publik untuk ikut serta dalam acara ini, Ubah Stigma berharap, mereka yang mengalami isu-isu dengan kesehatan mental dapat merasa diterima dan terwakilkan." ujar Emily.

Asaelia menambahkan, lewat acara ini, orang-orang yang sudah mengirimkan karyanya dapat didengar dan diharapkan dapat mengubah pandangan sekitarnya. "Kami berharap melalui pameran seni ini, cerita teman-teman yang sudah mengirimkan karyanya dapat didengar dan mengubah pandangan di sekitarnya menjadi lebih baik," harapnya.  

Foto: dok. Ubah Stigma

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler