Mengenal Badud, Seni Khas Dusun Merjan di Pangandaran

Pangandaran - TemanBaik ada yang tahu dengan seni badud? Badud adalah kesenian khas Dusun Merjan, Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Kenalan lebih jauh dengan seni badud ini yuk!

Menurut Abah Hudli (70), seni badud sudah ada sejak tahun 1600-an. Itu berdasarkan cerita turun-temurun dari para orang tua warga setempat. Seperti apa sih kesenian badud ini?

Dalam pementasannya, para pemeran akan memakai kostum dan topeng. Ada yang memakai topeng simbol suami-istri petani, babi hutan, harimau, hingga monyet. Singkatnya, seni ini menampilkan semacam cerita petani dalam mengusir hewan penggangu pertanian atau perkebunan.

Selama pergelaran, para pemeran akan bergerak sesuai peran masing-masing. Mereka akan diiringi tetabuhan musik dan angklung. Salah satu yang akan membuat bergidik adalah adegan pemakai topeng hewan dibuat seperti orang kesurupan. Mereka pun bertingkah seperti hewan sesuai dengan topeng yang dikenakan. Ujungnya, mereka akan disadarkan oleh pawang.

Kesenian badud biasanya ditampilkan dalam acara seperti hajatan, ruwatan, menyambut tamu, serta kegiatan meriah lainnya. Waktu yang dipilih untuk pementasan biasanya adalah malam hari. Lalu, bagaimana kesenian ini lahir?

Baca Ini Juga Yuk: Melihat Kultur Bali yang Dibingkai di Museum Kehidupan Samsara

Dulu, saat kawasan setempat masih hutan belantara, sangat banyak hewan liar dan pengganggu tanaman. Untuk mengusirnya, warga setempat menggunakan kostum ala binatang pengganggu tersebut dan diiringi tetabuhan.

"Dulunya untuk mengusir binatang pengganggu. Karena saat itu masih sederhana, digunakan cara seperti itu," kata Abah Hudli.

Seiring perkembangan waktu, cara mengusir hewan pengganggu seperti itu akhirnya pudar. Sebab, tak ada lagi hewan pengganggu seperti babi hutan atau harimau. Kebiasaan para petani di zaman dulu itu pun akhirnya bergeser menjadi kesenian.

"Kalau sekarang mah cuma jadi kesenian. Sudah enggak dipakai lagi (untuk mengusir hewan dalam pertanian). Sudah puluhan tahun enggak dipakai lagi, mungkin sekitar 20-30 tahun lalu sudah ditinggalkan," jelas Abah Hudli.

Kini, Abah Hudli bersama warga setempat tetap berusaha melestarikan keberadaan kesenian badud. Ia ingin kesenian khas tersebut tetap lestari. Regenerasi pun dilakukan dengan membina anak-anak muda warga setempat. Harapannya, kesenian itu tetap lestari meski kelak para orang tua yang bisa mementaskannya sudah tak ada lagi.

Untuk membina anak-anak muda, ada semacam sanggar di Dusun Merjan. Di situ mereka dilatih untuk bisa mementaskan badud. "Kami tetap akan berusaha eksis dan melestarikan kesenian ini," ucap Abah Hudli.


Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler