'When I'm 64', Buku Kumpulan Karya Foto Agus Leonardus

Yogyakarta - Baru-baru ini, Agus Leonardus menggelar sebuah pameran fotografi tunggal selama 18-24 Februari 2020 di Bentara Budaya Yogyakarta, Jl. Suroto No.2, Kotabaru, Gondokusuman, Yogyakarta. Sejumlah 64 karya fotografi hasil jepretannya yang terpajang di ruang galeri merupakan hasil kurasi dari 8 orang sahabat Agus Leonardus, di antaranya Arbain Rambey, Bernie Liem, Eddy Hasby, Oei Hong Djien, Oscar Motuloh, Seno Gumira Ajidarma, Sindhunata SJ, dan Suwarno Wisetromo.

Agus Leonardus merupakan seorang fotografer kelahiran 11 November 1955 yang sudah malang melintang dan meraih segudang penghargaan di bidang fotografi. Pada tahun 1982, ia meraih Lisensi dari Royal Photography Society of Great Britain dan mendapat penghargaan dari Federation Internasionale DeL’art Photographique, Belgia. Pada tahun 1987, fotonya terpilih untuk dipamerkan di Kodak Pavillion Professional Photographers’ Showcase, EPCOT Center Walt Disney World, Florida USA. 

Agus juga meraih peringkat tertinggi dari Federasi Perkumpulan Senifoto Indonesia. Selain itu, ia juga pernah menerbitkan buku karya foto yang berjudul 'Waton Urip' bersama beberapa fotografer lainnya dan buku karya foto yang berjudul 'Djogdjakarta in My Nokia' pada tahun 2006.


Saat diwawancarai BeritaBaik di Bentara Budaya Yogyakarta dalam sebuah kesempatan, Agus Leonardus menjelaskan bahwa pameran tersebut ternyata merupakan salah satu rangkaian dari peluncuran buku terbarunya. 

"Jadi, sebenarnya ini acaranya bukan pameran foto, tapi lebih ke launching buku, tapi terus diminta sekalian dipamerin. Jadi, kalau ngelihatnya sebagai sebuah pameran itu enggak pas juga, karena sebetulnya saya bikin buku, terus di launching," tuturnya.

Buku kumpulan fotografi karya Agus Leonardus yang terbaru itu berjudul 'When I’m 64'. Selain dalam rangka memperingati ulang tahunnya yang ke-64, ternyata 'When I’m 64' dipilih oleh Agus Leonardus sebagai judul buku sekaligus pamerannya, karena ia menggemari band legendaris asal Inggris, The Beatles.

"Karena saya suka The Beatles juga, jadi saya ambil salah satu judul lagu mereka buat buku ini. Jadi, waktu peluncuran buku tanggal 18 kemarin itu, peresmiannya bukan dengan menggunting pita atau memukul gong, tapi kita menyanyikan bersama-sama lagu itu. Waktu itu para tamu langsung saya kasih fotokopian liriknya, biar bisa nyanyi bareng,' akunya sambil tertawa.

Baca Ini Juga Yuk: Peringati Hari Bahasa Ibu Melalui Monolog 'Apun Gencay'

Lalu, ia memberikan gambaran tentang apa saja yang dimasukkan ke dalam buku 'When I’m 64' miliknya. "Sebetulnya saya motret kan udah dari tahun 1977. Jadi, mekanisme pemilihannya itu, saya cetak sekitar 200 foto dari tahun 1979 sampai yang terkini. Nah, terus 200 foto itu saya kelilingkan ke penulis-penulis itu. Terserah mereka mau pilih fotonya yang mana. Setelah mereka pilih fotonya, kemudian mereka menulis tentang foto itu," bebernya.

Kemudian, ia membagikan kenangan dan pengalaman memotret yang memiliki kesan paling mendalam baginya. 

"Saya kan enggak sekadar memotret keindahan visual ya, saya memotret apa yang mengesankan buat saya. Jadi, apa yang saya potret pasti itu semua berkesan buat saya. Tapi dari semua foto ini, kalau saya terpaksa disuruh suruh milih satu foto yang kenangannya jadi panjang itu ya yang tentang Papua," katanya.

Foto yang dimaksud ialah foto yang ia potret saat ia berkunjung ke Wamena, Papua. Sebagai ibu kota kabupaten Jayawijaya, Wamena yang terletak di Lembah Baliem tentunya juga jadi pusat bisnis. "Saya dua kali datang ke sana. Saya lihat kehidupan penduduk di situ itu kasihan sekali. Jadi, usaha warung itu enggak ada yang milik orang Papua, semuanya milik pendatang. Orang Papua asli itu jualannya kaki lima. Ketika saya motret itu, terus saya pulang, aduh rasanya miris sekali, saya prihatin," kenangnya.

Foto tentang kehidupan orang Wamena hasil jepretan Agus Leonardus itu sebenarnya sudah lama ia buat, tetapi ia tidak pernah berani untuk mempublikasikan, karena sangat sensitif. Ia takut saat orang-orang melihatnya, foto itu malah jadi memberikan kesan negatif bagi mereka.

"Jadi itu tadinya hanya saya munculkan ketika saya memberi seminar-seminar tertutup gitu. Nah, tapi kemarin waktu bikin buku ini, foto itu dipilih oleh Suwarno Wisetromo. Itu pun, saya masih nanya ke Mas Suwarno dan Oscar yang merangkum semua. Ini gimana ya kalo ditampilkan di buku? Kalau mas Warno bilang, itu sih tergantung narasinya nanti bagaimana. Kalau si Oscar masih ragu-ragu. Tapi, karena narasinya bagus, akhirnya ya saya putuskan tetap saya muat di buku," ujarnya.

Agus Leonardus mengaku bahwa semua foto yang ia ambil tidak hanya sekadar keindahan visual saja, tetapi ada makna mendalam yang bisa ditelaah di baliknya, sehingga tidak asal jepret saja. 

"Jadi, kalau buat saya, 'why' itu lebih penting daripada 'how-to'. 'How-to' kan teknis memotretnya, tapi kalau 'why' itu alasan mengapa kita memotret itu, gitu. Kalau dilihat dari semua foto jepretan saya ini, secara teknis enggak ada yang sulit, enggak rumit-rumit, pakai kamera otomatis saja bisa. Tapi, mereka punya makna, saya sukanya seperti itu. Jadi ada sesuatu di foto itu, ada message-nya lah. Walau kadang-kadang message-nya cuma ringan, tapi kan tetap ada. Itu yang selalu coba saya ungkap kalau cerita, kenapa saya motret ini, motret itu. Ada yang membuat kita tersenyum, ada yang membuat kita jadi merasa kasihan, ya macam-macam gitu. Saya usahakan foto saya selalu seperti itu, jadi enggak sekadar keindahan visual aja," bebernya panjang lebar.

Buku 'When I’m 64' karya Agus Leonardus ini dicetak sebanyak 1100 eksemplar. Berdasarkan keterangan dari Agus, sekarang bukunya sudah terjual sekitar 800 lebih. Harga normal per buku dibanderol seharga Rp220 ribu, tetapi jika sedang dijual di pameran, pembeli akan mendapat potongan diskon sebesar 25%. 

Foto: Hanni Prameswari/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler