Tari Legong, dari Ritual Hingga Panggung Hiburan

Ubud - TemanBaik, tari tradisional mungkin tak asing di telinga kita. Sebab di Indonesia, ragam jenis tari tradisional sudah ada dan menjadi ragam kesenian bangsa ini. Tari tradisional dulunya kebanyakan berangkat dari acara ritual kebudayaan tertentu. Namun seiring perkembangan zaman, hari ini tari tradisional tak hanya berperan sebagai ritual, akan tetapi mulai masuk ke ranah hiburan.

Salah satunya tari yang berasal dari Bali. Ya, kamu pernah dengar tari legong? Tarian ini sangat populer dalam dunia pariwisata di Bali selain tari pendet dan tari kebyar yang merupakan tari penyambutan. Legong dipentaskan oleh dua penari, yang mana satu diantara penari disebut 'condong'. Penari legong selalu berkipas tetapi penari condong-nya tidak berkipas.

Penari condong menari selama 10-15 menit sebagai pembuka dengan karakter tarian yang tajam dan intens. Selama penari condong menari, dua penari legong menggerakkan badan seperti berayun di depan penabuh gamelan. Warna busana yang dikenakannya cukup khas, yaitu merah, kuning dan ungu serta rangkaian bunga memanjang di dekat mahkota.

Menelisik asal muasalnya, tarian ini dikembangkan di keraton-keraton Bali pada abad ke-19 paruh kedua. Beberapa sumber sejarah menyebutkan, tarian ini berawal saat seorang raja Sukawati, Gianyar, bernama Raja I Dewa Agung Made Karna atau lebih dikenal sebagai Raja Sukawati melihat dua gadis menari dengan lemah gemulai diiringi oleh gamelan yang indah dalam mimpinya saat ia sedang sakit keras. Ketika sudah pulih dari sakitnya, mimpinya itu kemudian dituangkan dalam reprotoar tarian dengan gamelan lengkap.

Setelah itu, Raja Sukawati berusaha menrekontruksi gerakan-gerakan bidadari di mimpinya itu dengan dibantu pemimpin adat Ketewel. Saat gerakan tarinya sudah lengkap, ia menamakan tarinya 'Sang Hyang Legong' dengan para penari yang memakai topeng. Istilah 'Sang Hyang' merujuk pada tarian sakral dan berhubungan dengan ritual adat.

Oleh karenanya, penamaan Legong berasal dari kata "leg" yang artinya gerak tari yang luwes atau lentur dan "gong" yang artinya gamelan. Legong dengan demikian mengandung arti gerak tari yang terikat oleh gamelan yang mengiringinya. Gamelan yang dipakai mengiringi tari legong dinamakan Gamelan Semar Pagulingan.

Baca Ini Juga Yuk: Sanggar Seni Rupa Kontemporer, 'Rekreasi Jiwa' dengan Berkesenian

Sejak diciptakan, popularitas tarian ini mengalami naik turun. Tari Legong pada dasarnya lebih sering dicap sebagai tari para bangsawan karena hanya populer di lingkup kerajaan saja untuk menunjukkan kekayaan dan kemampuan puri. Ketika beberapa puri di Bali ditengarai sangat dekat dengan Belanda yang saat itu menjajah Nusantara, tarian ini meredup dan tak lagi disajikan di pura maupun puri. Otomatis regenerasi penari Legong nyaris putus pada zaman itu.

Lalu, di era kemerdekaan Indonesia, beberapa ahli dan peminat tari merevitalisasi tari ini. Tak saja dipentaskan oleh para anak-anak yang belum dewasa tapi bisa oleh wanita pada umumnya. Beberapa gerakan diubah, ada yang ditambah dan ada yang dikurangi dan tak lagi memakai topeng.

Bisa dibilang, tari legong yang kita nikmati saat ini bisa dikatakan berbeda dengan tari legong pada awal mulanya. Tari Legong hari ini tak lagi dimainkan sebagai peninggalan leluhur. Tetapi memang dipertunjukkan untuk hiburan para leluhur, tidak lagi untuk ritual adat.

Namun perlu diingat, jauh sebelum era kemerdekaan, tarian ini juga pernah keluar dari lingkup kerajaan dan dipelajari oleh rakyat kebanyakan serta menyebar ke beberapa daerah di Bali. Pada tahun 1928, tarian ini berubah dari tarian adat menjadi tari hiburan. Sejak tahun 1931 tari ini disajikan untuk tamu yang berkunjung di Bali dan kemudian menjadi tari wisata.

Dalam Budaya Populer
Tarian ini kemudian menginspirasi insan sineas dunia untuk menciptakan sebuah film bertajuk 'Legong; Dance of The Virgin' di medio 1935. Film yang disutradarai oleh Andre Roosevelt dan Armand Denic ini mengambil gambar dengan latar tempat di Bali pada Mei hingga Agustus 1933.

Pada film ini, hampir keseluruhan pengambilan gambar dilakukan di wilayah Ubud, Bali. Alur ceritanya pun dominan menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat Bali, dan pastinya menampilkan bagaimana Tari Legong itu sendiri.

Seiring perkembangan zaman, sampai hari ini setidaknya ada 18 tari legong selain Tari Legong Lasem (Legong Kraton) yang merupakan tari legong paling tua.

Setelah itu ada Legong Jobog yang menceritakan Subali-Sugriwa yang menjadi kera ketika berebut jimat, Legong Legod Bawa tentang persaingan dewa Wisnu dan dewa Brahma untuk mencari lingga Dewa Syiwa. Ada juga Legong Kuntul, Legong Asmaradana, Legong Sudarsana, Legong Andir, Legonng Playon dan Legong Mintaraga.

Melansir dari situs indonesia.go.id, Tari Legong Keraton ditetapkan sebagai warisan budaya dunia non benda oleh The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada tahun 2015. Selain itu, Tari Legong juga mentas dalam rangka Sales Mission (era Kemenpar pada Februari 2019 silam) di Selandia Baru.

Hari ini, Legong kerap dijadikan sebagai tarian untuk menyambut para tamu. Jadi, jika kita datang di beberapa hotel di Bali dan disambut dengan tarian, dimana para penarinya memakai kipas dan kembang goyang selain dengan kelengkapan pakaian adat Bali yang disajikan oleh tiga atau lebih penari, maka dipastikan itu adalah tari legong.

Apakah kamu pernah menyaksikannya secara langsung, TemanBaik?

Foto: dok. wikipedia.org/Legong; Dance of The Virgin

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler