Mengenalkan Dongeng dan Isu Lingkungan Bersama 'Watik'

Bandung - TemanBaik, ada berbagai cara untuk mendaur ulang sampah plastik. Mungkin yang cukup terkenal adalah daur ulang sampah plastik menjadi aksesoris, atau menjadi perabot rumah tangga. Namun, unit kegiatan seni yang satu ini punya cara lain yang unik. Ya, mereka mendaur ulang sampah plastik menjadi tokoh wayang yang kemudian dimainkan. Wah, seru ya!

Unit kegiatan seni ini memproklamirkan diri dengan entitas Watik, yang merupakan akronim dari Wayang Plastik. Alasannya karena bahan baku dasar dari tokoh wayang yang mereka ciptakan dan mainkan berasal dari plastik.

Kepada Beritabaik.id, Ari Nugraha selaku pendiri dari Watik menyebutkan, unit kegiatan ini sebetulnya lebih menekankan bagaimana menyampaikan dongeng kepada anak. Namun, berkaca pada keresahan orang-orang di dalam tubuh Watik, akhirnya mereka memutuskan untuk mendaur ulang sampah plastik untuk kemudian didaur ulang dan dijadikan medium. Dalam unit ini, Ari dibantu oleh Reksi Muhammad Sidik sebagai Artistik dan Zyfra Hatikva Miracle Putri Kalmansur sebagai divisi media digital.

"Arahnya bukan jadi anti-plastik juga. Peduli sih pasti ya (untuk aspek lingkungannya), hanya kita pakai prinsip yang paling sederhana. Ngambil unsur berkeseniannya aja," ujar Ari kepada Beritabaik.


Pementasan wayang ini merupakan program reguler dibawah naungan Sanggar Seni Rupa Kontemporer yang dijadwalkan satu minggu sekali, yakni pada hari Sabtu. Dalam kegiatannya, selain membuat wayang dan cerita, ada unsur pesan untuk bijak menggunakan sampah plastik kepada anak usia 7 hingga 13 tahun.

Ari menyebutkan, usia anak 7 hingga 13 tahun adalah fase ideal untuk mentransfer kebiasaan baik dalam hal apapun. Karena termasuk orang yang bergelut di bidang seni, maka ia memutuskan bidang seni ini dijadikan medium untuk menyampaikan pesan baik kepada anak-anak.

Pertama kali Watik manggung adalah di Teras Sanggar Seni Rupa Kontemporer pada 23 November 2019 silam. Ari menceritakan, sebelum pertunjukan, ada beberapa hal yang disiapkan oleh Watik, yakni naskah, medium wayang, dan tata panggung.

Konsep tata panggung yang disajikan adalah shadow puppets, dan menggunakan sistem lip-sync. Ari menyebutkan, perlu waktu lama untuk mempelajari teknik menjadi dalang. Sehingga untuk saat ini, dalang dalam Watik condong memainkan tempo ketimbang mengisi suara. Jika diibaratkan pertunjukan musik, Watik ini seperti full-squencer, yang mana pemainnya harus pandai memainkan sinkronisasi antara aksi panggung dan rekaman di dalam squencer.

Baca Ini Juga Yuk: Tari Legong, dari Ritual Hingga Panggung Hiburan

Cerita yang dibawakan untuk anak-anak pun di transkrip ulang sehingga relatif mudah untuk dipahami anak usia 7 hingga 13 tahun. Ari menuturkan, proses transkrip ulang ini dirasa perlu karena tak semua anak memahami detail alur cerita legenda Nusantara. Ia mencontohkan saat pada pementasan dan hendak membawakan cerita Jaka Tarub, ada beberapa bagian yang pada akhirnya dibuat lebih mudah dipahami oleh anak-anak.

"Berkesan juga ya. Karena bikin cerita itu enggak segampang keliatannya loh. Saya mikir, kayaknya jadi tantangan juga sih nyampein sesuatu ke anak," ujar Ari.

Untuk membuat satu naskah cerita, Ari dan timnya memerlukan waktu maksimum dua hari kerja. Proses kemudian dilanjutkan dengan merekam suara atau dubbing.


Panggung ke Panggung
Sejauh ini, Watik memang baru beberapa kali mentas, antara lain di Teras Sanggar, Bale Darga Cirateun, Ruang Bumi daerah Ciater, di daerah Cipicung yang tak jauh dari markas mereka di Sanggar Seni Rupa Kontemporer. Mereka juga sekali menggelar workshop di Bale Darga, Cirateun.

Antusias penonton disebutkan oleh Ari sangat baik. Ia mencontohkan saat manggung di Bale Darga, Cirateun. Atau saat manggung di Subang, yang mana anak-anak sebagai audiens di sana memiliki ketertarikan tinggi. Memang, setelah pementasan anak-anak diperbolehkan untuk melihat langsung dan menjajal tokoh wayang yang dimainkan.

"Kalau di Balai Darga dan di Subang itu, anak-anaknya enggak mau pada pulang. Malah yang di Subang tuh mereka nodong saya untuk membuatkan tokoh dari cerita yang mereka buat," papar Ari.

Ia juga menambahkan, konsep wayang yang disajikan harus memuat budi pekerti luhur, dan pesan-pesan moral untuk anak. Karena menurutnya, berkaca dari antusias anak-anak yang menonton penampilan Watik, artinya sesuatu yang ia kerjakan dapat diterima oleh anak usia 7 hingga 13 tahun. Hal ini memotivasi Ari dan kawan-kawannya untuk menyajikan cerita yang lebih baik lagi ke depannya.

Dalam pertunjukannya, Watik seolah menghadirkan pertunjukan wayang ke dalam format moderen. Sebuah terobosan yang relatif jarang ditemui, paling tidak di Kota Bandung. Ari juga sangat membuka diri untuk TemanBaik yang ingin bergabung dengan Watik. Menurutnya, kamu tinggal datang saja ke alamat Sanggar Seni Rupa Kontemporer di Jl. Bukit Raya No. 298, Bandung atau dengan mengikuti akun media sosial mereka di @watikwayangplastik

Bicara tentang rencana jangka panjang, Ari berharap Watik ini tak hanya eksis di rumah sendiri, tapi juga ingin mendunia. Tiongkok dan Jepang menjadi bidikan Ari bersama temannya untuk berekspansi ke mancanegara. Ia terinspirasi dari shadow puppets di Tiongkok, dan ingin belajar langsung dari sana.

"Tapi kalau bicara yang deket-deket sih, ya, saya pengen ke luar kota Bandung aja dulu deh. Kota di Jawa Barat aja kan banyak. Kalau impian sih, pengen ke Jogja dan main sama Pappermoon deh," pungkasnya sembari tertawa.

Sebagai pamungkas, Watik mengaku senang jika upaya mengubah sampah plastik menjadi hal yang lebih bermanfaat lewat kegiatan yang dilakukannya, pada akhirnya menghasilkan efek ganda; selain menjaga lingkungan, juga menghadirkan pengalaman berkesenian untuk orang banyak.

Menarik sekali ya kisah mereka. Lalu, bidang apa yang kamu gunakan untuk meminimalisir sampah plastik?

Foto: dok. Wayang Plastik

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler