Cerita di Balik Ritual Para Penari Zaman Dulu Sebelum Pentas

Bandung - TemanBaik, tahu enggak jika para penari tarian tradisional zaman dulu sering melakukan berbagai macam ritual? Ternyata bukan semata-mata karena kepercayaan terhadap mitos atau hal gaib loh. Ada sisi fiolosifis sebenarnya sangat bermakna.

Dosen tari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung Mas Nanu Muda mengungkap beberapa rahasia di balik berbagai ritual para penari zaman dulu. Biar enggak penasaran, simak ulasannya yuk!

Menurutnya, ada berbagai ritual yang dilakukan. Tapi, intinya setiap ritual ini memiliki pemaknaan tersendiri. Salah satunya adalah kegiatan 'nyekar' atau ziarah ke makam seorang tokoh tari.

"Dulu, orang mau nari itu nyekar dulu supaya nilai spiritual tokoh (yang diziarahi) bersatu ke kita. Itu sebenarnya lebih ke penghormatan kita kepada seorang guru," ujar Bah Nanu, sapaan akrabnya, kepada BeritaBaik.id.

Ia menegaskan berziarah ke makam itu bukan sebagai bentuk pemujaan atau mengkultuskan sang tokoh tari yang sudah dimakamkan. Dengan berziarah ke makam seorang tokoh tari, seorang penari diharapkan memiliki spirit seperti sosok yang diziarahi. Sehingga, saat mentas, penari diharapkan termotivasi untuk tampil dengan sempurna.

Baca Ini Juga Yuk: Seniman Bali Gelar Pameran Solidaritas untuk China

Ada juga ritual lain seperti memakan akar tertentu dari hutan, puasa makan ikan, hingga tak boleh makan makanan yang berminyak. Jika ditelusuri lebih dalam, jelas ada hikmahnya, bukan sekedar ritual kosong tanpa makna.

"Seperti makan hanya umbi-umbian, itu agar kita memiliki energi yang bagus untuk menari. Enggak boleh makan daging supaya enggak kolesterol, dan lain-lain," jelas Bah Nanu.



Tapi, di balik berbagai ritual itu, biasanya para penari zaman dulu memiliki aura yang berbeda ketika menari. Itu karena para penari tersebut benar-benar memaknai ritual yang dilakukan secara mendalam.

Apalagi, penari zaman dulu tak hanya sekadar lihai menari. Mereka benar-benar mendalami tarian yang dipelajari, mulai dari pendalaman mental hingga sisi spiritualnya.

Tapi, saat ini berbagai ritual seperti itu tergolong jarang dilakukan. Hal itu karena ada pemaknaan berbeda dari ritual yang dijalani. Meski begitu, hal itu sah-sah saja. Apalagi zaman sudah semakin modern dan nilai-nilai kearifan lokal semakin tergusur.

"Itu yang enggak ada di anak-anak (penari) zaman sekarang. Tapi kita juga enggak bisa menyalahkan," tutur Bah Nanu.

Hal yang terpenting, ada sisi positif yang bisa diambil. Hingga kini masih ada anak-anak muda yang mau belajar tarian tradisional. Mereka tak gengsi belajar tarian tradisional, termasuk mendalaminya hingga perkuliahan, contohnya di ISBI.

"Kalau perkembangannya sekarang bagus. Mereka juga memiliki keterampilan (yang kuat)," tandas Bah Nanu.

Foto: Ilustrasi Unsplash/Nico Wijaya

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler