Ini Alasan Kenapa di Jabar Tak Ada Tarian Perang

Bandung - TemanBaik, tahu enggak jika di Jawa Barat tak ada tarian perang? Hal ini berbeda dengan beberapa daerah lain di Indonesia. Ada penjelasannya loh. Mau tahu? Simak penjelasannya yuk!

"Di kita itu bukan tipikal suku ekspansi, jadi tidak ada tarian yang sifatnya perang," kata dosen tari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Nanu Muda kepada BeritaBaik.id, Selasa (14/4/2020).

Meski begitu, di Jawa Barat ada tarian yang sifatnya berupa pertahanan. Tarian itu jadi simbolis dari serangan pihak lain. Di saat yang sama, tarian itu menjadi semacam bentuk perlindungan diri dan lingkungan. Salah satunya tari 'penca silat' atau pencak silat.

"Di kita itu lebih banyak tarian ritual yang berkaitan dengan air dan alam serta sebagai bentuk rasa syukur," tutur Bah Nanu, sapaan akrabnya.



Sebab, Jawa Barat adalah wilayah agraris yang sejak dulu masyarakatnya didominasi petani. Di sisi lain, orang Jawa Barat yang didominasi suku Sunda memiliki tipikal rasa syukur tinggi. Sehingga, banyak hal yang disyukuri dengan beragam cara, salah satunya melalui tarian.
Di Jawa Barat sendiri memang ada beragam tarian. Bahkan, masing-masing kabupaten/kota memiliki tarian khasnya sendiri. Tariannya pun memiliki tujuan yang beragam. Sebagai contoh, ada tarian yang berkaitan dengan ritual untuk kesuburan tanah atau bercocok tanam. Contohnya ada tarian ketuk tilu di Subang dan Ngarot di Indramayu.

"Ketuk tilu itu berkaitan untuk menanam padi atau meminta hujan. Kalau di Indramayu, ngarot dilakukan sebelum memulai masa menanam padi," jelas Bah Nanu.

Ada juga tarian yang sifatnya untuk pertunjukkan atau hiburan. Beberapa tarian itu di antaranya tayub di Kuningan dan tari topeng di Cirebon. Tapi, seiring perkembangan zaman, banyak tarian yang kini akhirnya bergeser dari tujuan semula menjadi tarian untuk pertunjukkan. Sebab, masyarakat sudah banyak yang meninggalkan kehidupan tradisional.

Sebagai contoh, saat ini sangat sedikit masyarakat yang memiliki leuit alias tempat menyimpan padi hasil panen. Padahal, dulu sebelum padi disimpan di leuit, ada upacara dan tarian adat yang ditampilkan. Salah satu yang masih mempertahankan tradisi ini adalah masyarakat adat di kawasan Ciptagelar, Sukabumi.

Foto: dok. istiewa / sisteminformasipulaunias.files
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler