Begini Cara Pelaku Seni Menyikapi Kenormalan Baru

Bandung - TemanBaik, saat ini kenormalan baru mulai diterapkan di berbagai elemen kehidupan, termasuk di dunia seni. Lalu, bagaimana kita menyikapinya, ya?

Seniman Aat Soeratin menyebutkan ada beberapa penyesuaian untuk para pelaku seni dalam menyikapi tatanan pada kenormal baru. Aat menyoroti beberapa penyesuaian tersebut antara lain seniman perlu menyadari posisinya sebelum memasuki kenormalan baru, membina apresiasi pendengar, berpikir cepat tanpa melewatkan tahapan yang benar, mengemas produk kesenian dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kenormalan baru ini.

"New normal (kenormalan baru) itu ‘kan nantinya akan menghasilkan kesepakatan baru, tanpa terkecuali untuk pekerja di bidang seni," ujar Aat dalam sesi bincang-bincang dalam siaran langsung Instagram @ruangputihbandung beberapa waktu lalu.

Lalu, apa saja sih yang bisa dilakukan seniman dan para pekerja industri kreatif dalam menyikapi kenormalan baru ini? Yuk, kita simak!

Sadar Posisi
Menurut Aat, ruang kerja seniman itu disebut mirip improvisasi. Pasalnya, selama ini pelaku seni dianggap tak memiliki ruang kerja yang jelas. Oleh karenanya, kesadaran posisi ruang gerak ini sangat diperlukan bagi seniman yang menghidupi diri dari karya seni yang dibuatnya. Ia menyebut, dengan menyadari posisinya, seniman bakal punya identitas untuk bisa terakomodasi oleh regulasi yang diberlakukan di Indonesia.

"Kalau kita lihat kemarin, Pemerintah lewat undang-undang pemajuan kebudayaan sudah menata ulang berbagai profesi bahkan yang terkait dengan pekerjaan seniman," ujar Aat.

Sebagai informasi, saat ini industri kreatif terbagi ke dalam 16 sub-sektor. Berkaca pada hal tersebut, Aat menilai baiknya para pelaku seni untuk memposisikan dirinya ke dalam 16 sub-sektor tersebut. Ia berpendapat, dengan adanya kejelasan profesi, nantinya seniman akan dimudahkan untuk mendapat akomodasi di era kenormalan baru.

"Namun hal itu dikembalikan lagi, konteks seni yang dikerjakan ini untuk apa? Seni itu ‘kan ada seni sebagai ekspresi, ada seni sebagai industri, dan masih banyak lagi. Nah, yang harus cepat beradaptasi ini adalah seniman yang menghidupi dirinya dari karya seni yang ia buat," ujar Aat.


                                                                           Foto: dok. Pribadi/www.facebook.com/aat.soeratin

Baca Ini Juga Yuk: Aksi Dua Seniman Mural Bali Merespon Pandemi

Pembinaan Apresiasi
Aat menyebutkan, dalam era kenormalan baru atau adaptasi kebiasaan abru, seniman yang menghidupi diri dari karya seni harus mulai membina apresiasi pendengarnya. Pembinaan apresiasi ini berdampak pada keterikatan antara pendengar dan karya seni yang diciptakan oleh seniman tersebut.

"Karena pada dasarnya, seni itu bukan kebutuhan pokok. Tapi, ‘kan kita hidup dari kesenian itu sendiri. Jadi pekerjaan rumahnya adalah bagaimana kita menjadikan karya ini sebagai kebutuhan audiens,” jelas Aat.

Selain seniman, Aat juga menyoroti hadirnya ruang kreatif yang harus mulai bertransformasi menjadi tempat 'pemasaran' bagi para seniman. Bila pada umumnya ruang kreatif ini hanya sebatas ruang untuk berekspresi para seniman, sekarang idealnya ruang kreatif juga menjadi arena pemasaran tanpa menghilangkan ruang ekspresi untuk seniman itu sendiri.

Berpikir Cepat Tanpa Melewatkan Tahapan yang Benar
Kemajuan teknologi dan informasi menjadikan panggung seniman perlahan bergeser dari awalnya panggung hiburan langsung menjadi panggung virtual. Kecepatan perubahan wujud panggung, khususnya dalam masa pandemi ini harus membuat seniman mengambil langkah cepat tanpa melewatkan tahapan yang benar.

Ia menyoroti hadirnya konten kreator di YouTube, yang dianggap mampu menggeser panggung nyata ke dunia maya alias virtual. Berkaca pada keberhasilan beberapa YouTuber dengan konten yang baik, Aat menilai hal ini sudah harus mulai dilirik oleh seniman.

"Membuat konten yang sifatnya ansambel atau kolaboratif untuk ruang penghasilan baru bagi para seniman," jelas Aat.

Meski menilai adaptasi terhadap kecepatan perubahan ini sebagai tantangan, namun Aat optimis para seniman sanggup beradaptasi dengan hal ini. Menurutnya, dinamika dan inovasi adalah suatu keniscayaan sehingga mau tak mau harus diikuti oleh tiap seniman.

Mengemas Produk Kesenian
Hal yang juga dianggap penting dalam menyikapi kenormalan baru adalah bagaimana seniman dapat mengemas produk kesenian yang ia buat. Setelah menyadari posisi dan membina apresiasi pendengarnya, seniman harus mengemas produk keseniannya sehingga bisa mendapat tempat sebagai kebutuhan banyak orang.

"Kalau bicara kritis, seni itu sebetulnya sesuatu yang subyektif. Itu ekspresi dari diri sendiri. Tetapi bicara soal menciptakan seni yang dibutuhkan masyarakat, itu ‘kan sudah bergeser konteksnya. Bukan ekspresi sendiri lagi, tapi idealnya mewakili ekspresi kolektif," bebernya.

Mempersiapkan Diri
Aat juga mengajak para seniman untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi kenormalan baru di dunia seni. Saat ini, beberapa protokol keamanan dan kesehatan membuat cara penyajian seni seolah berubah drastis. Namun, idealnya seniman tak perlu pesimis dengan hadirnya kenormalan baru yang mengharuskan mereka untuk beradaptasi lebih cepat.

"Kita sekarang seolah-olah seperti diseret. Ibaratnya orang yang enggak bisa berenang, lalu diceburkan ke danau. Ya, harus coba berenang," ajaknya.

TemanBaik, yuk kita sambut kenormalan baru ini dengan beradaptasi dan mempersiapkan diri. Apalagi kalau pekerjaan sehari-harimu mengharuskan kamu untuk mengubah format kerja. Menggali informasi dan terus mencari pola kerja terbaik adalah tugas kita dalam masa adaptasi kenormalan baru ini. Tetap semangat, ya!

Foto: Rayhadi Shadiq/beritabaik.id 

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler