Berimajinasi Tentang Rumah di Pameran Bachrul Restu Bagja

Bandung - TemanBaik, apa yang terbayang di pikiranmu saat mendengar kata rumah? Mungkin yang terbayang adalah sebuah hunian atau bangunan tempat tinggal. Ya, lalu bagaimana jika rumah disajikan dalam bentuk seni visual?

Beritabaik.id punya kesempatan mengunjungi pameran tunggal bertajuk 'Rumah' karya Bachrul Restu Bagja di Griya Seni Popo Iskandar, Rabu (1/7/2020). Pameran yang dibuka pukul 17.30 WIB tersebut merupakan wujud interpretasi rumah yang coba disajikan Bachrul.

"Rumah merupakan tempat yang vital karena banyak hal yang terjadi di dalamnya. Kejadian-kejadian di dalam rumah itu jadi hal penting yang memengaruhi proses sosialisasi individu di masyarakat," ujar Bachrul usai pembukaan pamerannya.

Pameran ini mengangkat karya drawing, mural, dan ojo de dios yang ia kerjakan bersama sejumlah anak dari Desa Cipagalo, yang memiliki persoalan tempat tinggal. Menurutnya, ini adalah representasi bahwa rumah tak selalu berbentuk ruang seperti yang saat ini banyak diasumsikan oleh kita. Ia menambahkan, karya ini merupakan bentuk luapan ekspresi tentang rumah.



Saat masuk area pameran, kita bakal langsung disuguhkan lukisan dengan medium kanvas putih dan cat hitam. Masuk lebih dalam, beberapa gambar wajah dan bentuk layaknya gambaran kita di masa kecil terpampang di sisi timur area pameran.

Ada satu ruang khusus di Griya Seni Popo Iskandar yang secara penuh menampilkan karya mural pada dindingnya. Beberapa unsur seperti rumah, matahari terbit di antara gunung, cinta, tumbuhan, buah-buahan dan hal sederhana seolah mengingatkan kita akan indahnya berada di rumah, walaupun tanpa kemegahan.

Baca Ini Juga Yuk: Punya Banyak Hobi, Begini Cara Optimalkan Potensimu

Menabrak Batasan
Pameran ini menampilkan metode seni partisipatoris. Artinya, proses pembuatan karya sudah tidak lagi didasarkan kepada aturan seni. Bachrul menyebut, benda seni bukan jadi tujuan dari pameran ini. Lebih jauh lagi, ia menyebut perubahan sosial dan mental yang jadi alat ukurnya.

"Ada beberapa fakta yang saya temui di lapangan tentang kriteria menggambar. Nah, saya sedang mencoba membebaskan anak-anak dari kriteria ini," ujar Bachrul.



Ia juga mengaku, pameran ini terinspirasi dari pergerakan kolektif seni yang dijalaninya. Kolektif ini melakukan kegiatan berbagi ilmu seni dengan anak-anak di daerah atau kewilayahan. Secara personal, Bachrul menemui adanya kungkungan dan batasan mengenai kriteria suatu karya seni. Nah, ia mencoba menabrak batas-batas tersebut, dan menjadikan seni sebagai medium untuk melepas ekspresi bagi anak-anak yang diajarkannya.

"Biarin. Ini untuk ngeluarin imajinasi mereka supaya lebih bebas. Setelah bikin satu karya, mereka jadi berpikir ke mana-mana, dalam arti mengembangkan imajinasinya," sambung Bachrul.

Karya dalam pameran tunggal bertajuk 'Rumah' ini sudah mulai dikerjakan Bachrul bersama anak-anak di Desa Cipagalo sejak tahun 2017. Ia menyebut, apa yang tersaji di Griya Popo Iskandar merupakan jejak dari karya aslinya, yang ia buat di Desa Cipagalo. Lebih lanjut lagi, ia mengaku karya tersebut punya dampak psikologis untuk anak-anak di Desa Cipagalo yang diajaknya dalam membuat karya ini.

Tak hanya karya drawing dan mural, dalam pameran ini nampil juga kerajinan tangan hasil workshop Bachrul bersama anak-anak Desa Cipagalo. Ia menyebut, tahapan membuat karya ini banyak memengaruhi masyarakat yang ia libatkan meski harus memakan waktu lama. Jika pada awalnya ia hanya mengajarkan anak-anak Desa Cipagalo membuat gambar bebas, tahapan itu kemudian naik menuju konsep workshop.

Nah, setelah sampai titik ini, ia menyebut anak-anak peserta workshop mulai punya rasa memiliki terhadap benda seni buatan mereka. Rasa memiliki tersebut makin menjadi saat Bachrul mengajak seluruh anak-anak Desa Cipagalo untuk membuat mural di satu kawasan di desa tersebut.

"Jadi setelah salah satu dinding di gang itu digambar mural, mereka jadi punya rasa memiliki sama gang-nya. Misalnya, pas ada yang buang sampah sembarangan, itu sama mereka dibuang lagi sampahnya (ke tempat sampahnya)," bebernya.



Menciptakan Rumah
Melalui pameran tunggalnya, Bachrul ingin memberi dampak positif untuk sisi sosial dan psikologis anak-anak yang punya masalah dengan tempat tinggal. Ia tak berfokus pada kebijakan otoritas atau hal lainnya yang mengakibatkan banyak anak terancam tak punya tempat tinggal. Ia hanya ingin menggeser anggapan tentang rumah yang sudah melekat di benak banyak orang.

"Kalaupun ada moderenisasi yang mengakibatkan anak-anak itu terancam enggak punya rumah lagi, itu juga kan karena kita ingin moderen. Kita ingin jalanan bagus, kita ingin transportasi lancar. Nah, kita juga harusnya hadir untuk anak-anak yang jadi dampak dari keinginan moderen ini," tutup Bachrul.

TemanBaik, pameran tunggal bertajuk 'Rumah' ini dibuka sejak 1 Juli 2020 hingga 14 Juli 2020. Apabila kamu belum sempat pulang ke rumah dalam beberapa bulan ke belakang, tak ada salahnya berkunjung ke pameran tunggal ini. Karena di dalamya, kamu akan merasa sedang berada di rumah dan sedang berada di masa kecil.

Foto: Rayhadi Shadiq/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler