Erwin Windu Pranata, Berkarya Sambil Membina Ruang Kreatif

Bandung - Muda, berkarya, dan aktif membina ruang kreatif. Tiga hal ini layak disematkan kepada seniman Erwin Windu Pranata. Lalu, seperti apa sih perjalanan dan visi berkarya Erwin?

Beritabaik.id berkesempatan untuk mengulas perjalanan berkarya Erwin. Di tengah-tengah pamerannya bersama Art Societes, ia menceritakan bagaimana proses awalnya turun ke dunia seni. Sebagai informasi, pameran Erwin bersama Art Societes bertajuk 'Poetical Vector' ini masih dapat kamu kunjungi di Lawangwangi Creative Space, Jl. Dago Giri, Lembang, Kabupaten Bandung Barat  hingga 10 Agustus 2020 mendatang.

"Background keluarga memang udah seni sih. Bapak saya dulu adalah seorang pematung, terus akhirnya saya tertariklah ngikutin Bapak berkarya. Ditambah lagi saya kuliah di jurusan seni rupa juga," tutur pria kelahiran Bandung 6 Juni 1981 ini.

Selama berkecimpung di dunia seni, Erwin banyak merespons fenomena yang berangkat dari budaya populer. Patung perdananya dibuat pada 2009 silam. Setelah itu, ia membuat pameran 'We Are Toys' yang digelar di Asia One Art Hongkong pada 2011. Saat itu ia membuat karya seni rupa dalam bentuk mainan anak.

Karya ini berbentuk mainan kapsul dengan medium plat besi. Erwin menyebut, pameran tersebut juga diselenggarakan sebagai bentuk respons budaya populer saat itu, yang mana kala itu seni rupa banyak diaplikasikan ke dalam bentuk mainan anak. 

Lebih lanjut, ia mengaku saat ini dirinya banyak membuat karya dengan makna 'pertanyaan'. Ia kerap merasa gelisah dengan peran seni rupa di masyarakat atau dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pamerannya di Lawangwangi Creative Space, ia menyuguhkan nilai abstrak yang menarik.



Baca Ini Juga Yuk: Cuci Mata dengan Karya-karya Seniman Muda di 'Poetical Vector'

Ya, karyanya ini terinspirasi dari coretan bolpoin dari tempat penjualan alat tulis kantor, yang mana kita bisa menjumpai kertas-kertas yang digunakan untuk mengetes fungsi bolpoin. Lebih lanjut, ia menyebut karyanya ini terinspirasi dari sudut pandang G. Sidharta dalam melihat hal-hal sederhana dari keseharian masyarakat.

"Karya ini sudah digarap 3 tahun lalu. Saya terinspirasi dengan cara Pak Sidharta melihat hal-hal kecil di masyarakat," terangnya.

Ditanya mengenai perkembangan industri seni rupa, Erwin menyebut ada beberapa pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan. Ia menilai seni sebagai sesuatu yang bersifat bebas, namun harus tetap punya nilai bisnis. Menurut Erwin, dalam menyatukan dua sisi ini agar jadi seimbang memerlukan peran galeri seni.

"Galeri seni harus bisa menerjemahkan karya seni yang bebas ini jadi punya nilai bisnis. Jadi enggak hanya memamerkan, tapi juga bisa mendistribusikan karya seni," tambahnya.

Sebagai upaya menciptakan ruang pameran dan distribusi karya untuk beberapa aliran seni, ia kemudian menggandeng beberapa orang temannya untuk membuat ruang kreatif bernama Omni Space pada tahun 2015 silam. Melalui ruang kreatif ini, Erwin berupaya merespon fenomena di lingkup seni. Kala itu, ia melihat pameran-pameran seni sudah jarang digelar, dan banyak galeri seni yang menutup usahanya karena berbagai alasan.

Ia juga mengaitkan fenomena tersebut dengan realita, bahwasannya seni harus punya nilai bisnis. Karena melihat seni dengan aliran eksperimental dirasa tak punya ruang yang cukup untuk mengubah potensinya jadi potensi bisnis, maka ia menciptakan Omni Space untuk mewadahi salah satu aliran seni ini agar bisa punya nilai bisnis.

Selama lima tahun berjalan, Erwin menyebut tempat ini banyak membuat terobosan baru. Ia menyebut pencapaian Omni Space saat ini adalah melalui program Open PO yang dibuatnya. Selain itu, ia juga berhasil menyediakan platform agar seniman bisa berkarya secara efisien dan bisa menjual karya seni tersebut.

"Prinsip kerja ruang kreatif itu harus inklusif, efisien, dan fleksibel. Jadi melibatkan banyak publik baik itu seniman dan non seniman, dengan memanfaatkan tempat yang ada dan dapat berkarya dengan apapun medium yang ada," katanya.

Sebagai pamungkas, ia berpesan kepada seniman muda yang sedang membuka jalannya untuk jadi seniman profesional untuk terus melakukan promosi dan distribusi. Ia menyayangkan bila ada seniman yang terlihat kurang artikulatif, dalam artian memendam karyanya sendiri. Menurutnya, seperti apapun bentuk karya yang kita buat, kita jangan ragu untuk mendistribusikannya.

"Walaupun judgement terhadap dunia seni itu kadang terdengar ekstrim, tapi jangan sampai para seniman ini enggak mempublikasikan sama sekali karya-karyanya. Sekarang sudah banyaklah platform digital untuk mempublikasi karya," tutupnya.

TemanBaik, sudah mantap ingin menekuni profesi sebagai seniman? Jangan ragu lagi! Yuk, mulai dengan membuat karya yang baik, dan mendistribusikan karyamu itu untuk orang banyak. Semangat ya!

Foto: Rayhadi Shadiq/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler