Kerajinan Tenun Unik Ala Garasi Kita

Bandung - TemanBaik tahu kerajinan tangan dengan teknik weaving atau tenun? Seringkali kerajinan ini kita temui sebagai hiasan dinding rumah, sarung bantal, dan sebagainya.

Tapi, pernahkah kamu melihat kerajinan tenun yang berukuran sangat besar hingga 2,5 meter? Jika belum pernah, kamu bisa mengintip kerajinan tangan yang sedang dibuat oleh teman-teman dari 'Garasi Kita'.

Garasi Kita merupakan sebuah tempat yang terletak di Jalan Muararajeun, Kota Bandung. Tempat ini didirikan oleh pemiliknya yang akrab disapa Ajo sebagai tempat bermain anak-anak.
 

"Awalnya pas baru tinggal di Bandung, melihat anak-anak sekitar kok gak punya tempat main. Yaudah di rumah ada garasi gak dipakai, kenapa gak dimanfaatin aja jadi tempat bermain anak-anak," ujar Ajo. 

Saat ini Garasi Kita sedang membuat karya unik yang mereka sebut weaving atau menenun. Bukan tenun biasa, tapi tenun yang dibuat Garasi Kita berukuran besar bahkan hingga 2,5 meter.

Bicara soal karya tenun yang dibuat oleh Garasi Kita, Beritabaik.id berkesempatan untuk ngobrol bersama Ajo sebagai pendiri Garasi Kita dan Mayang sebagai salah satu pembuat karya tenun di Garasi Kita. 

Karya tenun tersebut adalah sebuah proyek kolaborasi dengan komunitas Spektrum. Sebuah komunitas yang berasal dari taman bacaan 'Rumah Tukik' di Anyer. 

"Awalnya, Spektrum minta dibuatkan karya dari anak-anak Garasi Kita buat dipamerkan di acara tahunan mereka di Bali. Harusnya bulan Juni tahun ini, tapi karena korona jadi diundur tahun depan," jelas Ajo.


Baca Ini Juga Yuk: Erwin Windu Pranata, Berkarya Sambil Membina Ruang Kreatif

Ajo mengaku ia memilih untuk membuat karya tenun karena benang sebagai bahan dasarnya sudah sangat dekat dengan anak-anak di Garasi Kita.

Sejak dulu, anak-anak sering diajarkan membuat kerajinan tangan yang berbahan dasar benang, salah satunya ialah weaving atau menenun. Tak hanya itu, warna dan jenis benang yang beragam dianggap Ajo bisa membuat anak-anak mengembangkan idenya untuk berkarya. 

Tak asal membuat karya, sebelum proyek ini dibuat, Garasi Kita membuat workshop untuk memberikan pengetahuan dasar seputar teknik menenun kepada anak-anak yang tertarik untuk bergabung dalam proyek kolaborasi ini.

"Awalnya bikin workshop dulu biar anak-anak tahu teknik dasarnya. Tadinya mau ramai-ramai, semua usia boleh ikut. Tapi karena korona jadi yang diajak gabung anak Garasi Kita yang udah dewasa aja, kan gak boleh kumpul banyak orang," ujar Mayang, perajin sekaligus pengisi workshop teknik menenun di Garasi Kita.

Proyek weaving yang akan dibuat oleh Mayang dan anak-anak Garasi Kita berjumlah 19 buah dengan ragam ukuran yang berbeda. Mulai dari yang terkecil berukuran 50 sentimeter, hingga yang terbesar berukuran 2,5 meter. 

Mayang yang memang sudah lama menekuni dunia tenun, mengaku ini adalah karya tenun terbesar yang pernah dibuatnya. Sebelum ini, ia hanya pernah membuat karya tenun sebesar 1,5 meter. 

"Waktu pertama kali lihat, bahkan sampai sekarang, masih suka kaget. Besar banget ya," ujar Mayang.

Dalam proyek kali ini tentu Mayang tak bekerja sendirian. Ia, dibantu oleh 7 orang lainnya, mengerjakan 19 buah kerajinan tersebut sejak akhir Juni lalu dengan target selesai akhir bulan Juli ini. 

"Walaupun acara dari Spektrum diundur, kita tetap mau selesaikan aja. Apalagi pandemi gini gak bisa kemana-kemana, jadi lebih banyak waktukan buat ngerjain," ujar Mayang. 

Bicara soal konsep karya tenun yang dibuat, baik Mayang maupun Ajo tak banyak mengatur soal itu. Pembuatan pola, jenis benang, sampai warna benang diserahkan kepada masing-masing pembuat. Kebebasan mengekspresikan karya tersebut Ajo lakukan agar setiap karya tenun yang dihasilkan memiliki ceritanya masing-masing. 

"Setiap tangan punya ceritanya sendiri. Justru konsep kolaborasinya dapet dari situ. Jadi nanti hasilnya akhirnya beragam," ujar Ajo. 

Mayang menambahkan, walaupun setiap orang diberikan kebebasan untuk berkarya bukan berarti tidak memperhatikan konsep besar yang sudah dibuat. 

"Paling nanti aku cuma ngasih saran. Misalnya warnanya mati atau polanya harusnya melingkar semua, atau ada segitiganya, kayak gitu," tambah Mayang. 

Untuk teknik tenun yang digunakan, diakui Mayang sangat beragam. Bahkan banyak teknik yang merupakan hasil eksplorasi dari masing-masing anak. 

Berawal dari kerangka besar yang terbuat dari rotan, kini Mayang dan 7 orang lainnya sedang terus bekerja untuk menyelesaikan karya weaving ini. 

"Kita buat setiap hari Senin sampai Sabtu, biasanya jam 1 siang sampai jam 9 malam. Tapi kadang kalau lagi pada asik, bisa lebih juga," ujar Mayang. 

Membuat karya tenun dengan ukuran tidak biasa tentu bukan hal yang mudah, tetapi dengan kerja tim yang menyenangkan, tentu proyek ini bisa selesai sesuai target yang ditentukan. 

Ternyata pandemi tidak membuat teman-teman di Garasi Kita berhenti berkarya ya, TemanBaik. Pasti penasaran kan hasil akhir karya tenun berukuran 2,5 meter seperti apa? Kita nantikan bersama ya! 

Foto: Ridzky Rangga Pradana/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler