ARTJOG 2020 Helat Edisi Khusus Bertema 'RESILIENCE'

Yogyakarta - Pandemi COVID-19 yang terjadi secara global telah berdampak tidak hanya pada krisis layanan kesehatan, tetapi juga krisis multidimensi di berbagai belahan penjuru dunia, termasuk Indonesia. Ekosistem kesenian, termasuk seni rupa turut menjadi salah satu sektor yang sangat terdampak akibat pandemi ini. Ratusan rencana pameran, art fair, festival, program residensi seniman, dan rangkaian kegiatan publik pada tahun ini serentak mengalami pembatalan atau penundaan.

Menariknya, ternyata aktivitas kesenian tidak sepenuhnya berhenti selama masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Para seniman tetap berkarya, memanfaatkan masa PSBB untuk kembali fokus dengan kerja studio mereka.

Pemanfaatan teknologi digital lebih dioptimalkan, ide-ide dan karya-karya pun terus lahir. Hal tersebut semakin menegaskan karakter para pekerja seni Indonesia yang lentur, gigih dan kreatif. Bagi para seniman, situasi krisis ini justru menguji mereka untuk bisa menyumbangkan sesuatu yang lebih berarti bagi dunia.

Meski krisis memang belum usai hingga kini, tetapi industri kreatif harus terus bergerak. Masyarakat dan para pekerja seni di Indonesia dituntut untuk beradaptasi dengan kebiasaan hidup baru.

Sejalan dengan mulai berlakunya tata kebiasaan baru dan terinspirasi oleh semangat para seniman untuk terus berkarya di tengah keterbatasan, HPM (Heri Pemad Manajemen) selaku inisiator dan penyelenggara ARTJOG akhirnya menyiasati dengan memberanikan diri, memutuskan untuk menggelar sebuah edisi khusus ARTJOG. Edisi khusus festival seni rupa kontemporer tahunan ini bertajuk 'ARTJOG: RESILIENCE', yang akan digelar di Jogja National Museum (JNM), Yogyakarta pada 8 Agustus hingga 10 Oktober 2020 mendatang.

Sebelumnya, ARTJOG sebenarnya telah mengumumkan penyelenggaraan dengan tema 'Time (to) Wonder' yang semula akan berlangsung pada Juli hingga Agustus 2020. Namun, akibat pandemi yang masih terus menelan banyak korban dan situasi sosial yang berangsur-angsur tidak kondusif, pihak HPM memutuskan untuk menunda penyelenggaraan edisi tersebut. Melalui siaran pers mereka pada 23 April 2020 lalu, HPM mengumumkan bahwa penyelenggaraan edisi 'Time (to) Wonder' akan dialihkan ke tahun 2021.

"Kami memberanikan diri untuk menyelenggarakan lagi bukan karena latah untuk mengikuti tata kebiasaan baru. Festival tahun ini tidak hanya didasari oleh keinginan untuk bangkit, tapi lebih pada upaya untuk menguji kembali ketahanan kita, melihat lagi apa-apa yang sudah kami capai sebagai sebuah festival yang telah 12  tahun berjalan. Kami juga ingin melihat apa yang bisa kami perbuat di tengah situasi yang masih tidak menentu ini. Kami harus bisa beradaptasi dengan berbagai keadaan, bahkan di masa yang sulit sekalipun," ujar Heri Pemad selaku Direktur ARTJOG dalam rilis yang diterima BeritaBaik.id.

Baca Ini Juga Yuk: UWRF 2020 Ditunda Hingga Pemberitahuan Lebih Lanjut

Fokus Kepada Seniman Indonesia
Salah seorang kurator ARTJOG, Agung Hujatnikajennong mengungkapkan bahwa 'ARTJOG: RESILIENCE' adalah sebuah kegiatan yang tidak melulu menawarkan refleksi artistik para seniman atas kondisi mutakhir seni di Indonesia pada masa pandemi COVID-19, tetapi kegiatan ini juga ingin memaksimalkan semua potensi yang dimiliki oleh ekosistem seni rupa di Indonesia.

"Inspirasi utama untuk tema resiliensi atau ketahanan ini adalah berbagai kerja artistik maupun sosial yang dilakukan oleh para seniman di Indonesia selama pandemi. Di tengah situasi krisis, banyak seniman bergerak ulang-alik, antara bekerja di rumah atau studio masing-masing, namun dengan tetap terlibat secara sosial dengan masyarakat luas. Selain membantu sesama seniman, mereka  juga  aktif  dalam  kegiatan-kegiatan  sosial  kemasyarakatan dengan menyelenggarakan penggalangan dana atau  pameran  amal. Aktivitas mereka  menunjukkan  cara  pandang  yang  tidak  memisahkan  secara  tegas  antara  praktik  kesenian dengan kehidupan sehari-hari. Ini hanyalah bukti kecil bagaimana praktik artistik yang berkembang dalam ekosistem seni rupa kita pada dasarnya tumbuh dari kultur komunal yang mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia," beber Agung panjang lebar.

Selama  ini  ARTJOG  dikenal  sebagai  sebuah  festival  yang  mampu  mempertemukan  berbagai pemangku kepentingan dunia seni lokal dan internasional dalam sebuah perhelatan yang meriah dan membumi. ARTJOG mencerminkan bagaimana ekosistem seni rupa Indonesia memiliki keunikan dan kekuatan tersendiri. Jika sebelumnya ARTJOG selalu menampilkan karya-karya seniman internasional, edisi tahun ini lebih berfokus pada seniman Indonesia.

Kurator ARTJOG Ignatia Nilu menjelaskan bahwa hambatan teknis yang disebabkan oleh pandemi  menyebabkan pengiriman karya dan transportasi seniman-seniman internasional ke Yogyakarta menjadi lebih sulit.

"Selain itu, kami juga ingin pameran kali ini berfokus pada seni rupa Indonesia. Sebagian besar karya yang tampil tahun ini dibuat oleh para seniman pada masa pembatasan sosial dan secara tidak langsung merupakan refleksi kritis mereka terhadap situasi krisis pandemi di Indonesia," kata Ignatia Tilu.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini terdapat penyederhanaan dan penyesuaian dalam penyusunan program-program ARTJOG. Program penghargaan untuk seniman muda 'Young Artist Award' dan 'ARTJOG Daily Performance' terpaksa tidak dilaksanakan untuk sementara, meski pameran seni rupa masih tetap menjadi menu utama dari festival yang digelar setiap tahun di JNM sejak 2016 ini.

"Proses pemajangan karya seni akan menghadapi tantangan baru dan berbeda. Selain memajang karya di ruang pamer, kami juga berupaya untuk menghasilkan konten audio-visual yang berkualitas, sehingga ARTJOG tetap bisa dinikmati dari rumah. Publik dapat mengakses pameran ARTJOG secara daring melalui website. Saat pemerintah mengizinkan dan kondisi memungkinkan, pameran akan dapat diakses langsung di lokasi dengan memberlakukan sistem yang sesuai dengan prosedur dan protokol kesehatan dari Pemerintah," ujar Gading Paksi selaku Manajer Program ARTJOG.

Selain itu,  'Lelang Amal'  dan 'ARTCARE' dihadirkan dengan  tujuan menggalang bantuan finansial  untuk para seniman Indonesia dan masyarakat luas yang terdampak pandemi. Penggalangan dana tersebut akan dikelola oleh Yayasan Hita Pranajiwa Mandaya. Program-program edukasi seperti 'Exhibition Tour' dan 'Meet the Artist' akan tetap dilangsungkan secara daring.

Program reguler baru yang akan menjadi kejutan tahun ini adalah 'Murakabi Movement' sebagai kelanjutan dari proyek 'Warung Murakabi' yang ditampilkan pada ARTJOG tahun lalu.

"Kami percaya gerakan ini sangat relevan, terutama di masa pandemi seperti hari -hari ini, dan bisa menjadi inspirasi  bagi masyarakat luas untuk bisa tetap bertahan di tengah krisis," tambah Agung.

Di tengah situasi yang tidak menentu ini, 'ARTJOG: RESILIENCE' hadir sebagai  proyek yang akan menguji kembali kegigihan, daya tahan, daya juang, kontribusi dan solidaritas di antara para praktisi kesenian. Misi ini mencerminkan sifat-sifat dasar sebuah festival sebagai ruang sosial, di mana berbagai sajian dan kegiatan di dalamnya hanyalah perantara untuk terjalinnya hubungan antar manusia yang lebih harmonis dan kelangsungan masa depan yang lebih baik.

Pantau terus info terbaru tentang ARTJOG di akun instagram @artjog.id atau twitter @artjog dan tetap nantikan 'ARTJOG: RESILIENCE' yang digelar di Jogja National Museum dan bisa diakses secara daring di www.artjog.co.id mulai 8 Agustus hingga 10 Oktober 2020 ya, TemanBaik.

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler