Berkenalan Lebih Dekat dengan Mufti Priyanka

Bandung - Nyentrik, autentik, kadang eksplisit. Ya, itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan sosok sosok Mufti Priyanka. Seniman asal Bandung ini punya cerita perjalanan berkarya yang dibagikan kepada Beritabaik.id.

Mufti yang beken dengan nama 'Amenkcoy' dan lekat dengan idiom 'slebor' ini merasa dirinya sudah memiliki ketertarikan di dunia seni sejak usianya masih belia. Berawal dari corat-coret tembok, Amenk kecil menyebut tak ada tembok yang selamat dari ulahnya. Daya eksplorasinya yang tinggi pun berlanjut hingga usia remaja. Ia kerap merespon gambar dari poster film kesukaannya. Katakanlah dari sebuah poster film tertentu, ia gambar ulang dengan ditambahi elemen yang menggelitik seperti elemen kumis pada salah satu tokoh, misalnya.

Selain itu, pengaruh televisi juga menjadi teman perjalanan Amenk dalam berkenalan dengan dunia seni visual. Ia mengaku, program belajar menggambar yang kala itu disiarkan di televisi adalah salah satu program acara kesukaannya.

Memasuki usia remaja hingga muda, Amenk mulai tertarik dengan rilisan fisik musik. Rupanya, perkenalan dengan rilisan fisik musik tersebut mengubah pengalaman visual Amenk. Sejak saat itu, ia mengaku bercita-cita ingin menjadi seniman. Pada tahap ini pula, nama Amenk disematkan pada dirinya.

"Tapi saya enggak tau seniman tuh kayak gimana. Dalam bayangan saya, seniman tuh kayak Affandi, Basuki Abdullah, atau seniman-seniman dengan karya realis yang, wah! Keren banget gitu," ujarnya.

Namun, seiring berjalannya waktu, Amenk akhirnya menyadari bahwasannya seniman bukan sebatas karya realis saja. Ia juga menyadari bahwasannya sampul album rilisan fisik bisa masuk kategori seni. Sejak saat itu, ia mendalami bidang visual melalui ilustrasi sampul album band, dan banyak media lainnya seperti merchandise. Perkenalan visual dengan sampul album itu juga secara tak langsung memperkenalkan Amenk dengan musik. Belum lama ini, Ia baru saja mengerjakan ilustrasi sampul depan untuk single terbaru dari grup musik asal Jakarta, Nidji yang berujudul 'Abu-abu'.

Dalam tahap perjalanan berikutnya, pria kelahiran 1980 ini melanjutkan pendidikan ke Seni Rupa di Universitas Pendidikan Indonesia. Di sinilah proses eksplorasi dunia visual Amenk menjadi-jadi. Sering membuat karya dan menggarap beberapa pameran menjadikan Amenk makin dekat dengan impiannya menjadi seniman.



                                                               Foto: dok. Mufti Priyanka/Instagram.com/@amenkcoy

Baca Ini Juga Yuk:
Mengenang Ajip Rosidi, Budayawan dan Tokoh Sastra Indonesia

Hingga akhirnya lulus kuliah pada 2005, Amenk terus menjadi seorang seniman yang juga beberapa kali menggarap proyek visual berupa desain. Namun berbicara soal karya, Amenk selalu identik dengan gambar dan teks sebagai komponen estetika. Menanggapi hal tersebut, Amenk menyebut dirinya melihat kekayaan diksi dalam Bahasa Indonesia sebagai estetika yang pada akhirnya menjadi keindahan tersendiri bila digabungkan dengan visual.

Ditanya mengenai keresahan yang jadi pemicunya berkarya, Amenk menyebut karyanya tak melulu berangkat dari keresahan. Namun, yang terjadi saat ia berkarya adalah ia mencoba menghasilkan beberapa karya yang tidak sama dengan karya seni yang sudah pernah ada sebelumnya.

"Kalaupun berbicara orisinalitas mah, kan enggak ada sesuatu yang baru, ya. Tapi paling enggak, kita bikin sesuatu yang beda dari kebanyakan deh," katanya.

Beberapa karyanya yang cukup ikonik dan menggelitik dapat kamu jumpai melalui akun pribadinya di Instagram @amenkcoy. Iya juga memproduksi beberapa karyanya sebagai merchandise berupa t-shirt dan produklainya melalui akun @sleborz.


                                                                           Foto: Irfan Nasution/beritabaik.id

Bermusik
Selain malang melintang di dunia seni visual, Amenk juga merupakan musisi aktif. Sejak tahun 2003 hingga saat ini, Amenk menggarap beberapa proyek musik. Salah satu band yang dianggap cukup legendaris dan monumental adalah A Stone A. Kepada Beritabaik.id, Amenk blak-blakan soal perjalanan bermusiknya bersama sahabat-sahabat masa kuliahnya ini.

A Stone A itu sendiri didirikan pada tahun 2003, sebelum akhirnya Amenk bergabung dengan band ini pada tahun 2004. Berawal dari keinginan untuk menjadi band cover untuk lagu-lagu Sex Pistols, A Stone A dibentuk dengan formasi Andri Muhammad (Alm) pada vokal, Muhammad Akbar (Vokal), Ori (Gitar), Erwin Windu (Drum) dan Amenk (Bas).

Pada 2004 itulah, mereka merilis mini album berjudul 'Adaptor Puisi'. Amenk menyebut, album ini dirilis hanya berjumlah 6 keping di CD-R saja. Oleh karena itu, ia mengaku akan sangat terkejut apabila ada orang yang menyimpan bentuk fisik album ini.

"Album lucu-lucuan ini mah. Si Ori (gitar) bikin looping-looping-an di fruity loops, kacau banget pokoknya dan saya pasti kaget kalo ada yang masih nyimpen album ini. Soalnya ya kondisi enggak punya uang dan bener-bener untuk have fun aja pas bikin album ini," terangnya.

Memasuki medio 2005, akhirnya A Stone A merilis album bertajuk 'Superhebred' melalui platform MySpace. Album ini dianggap album yang cukup membuat nama A Stone A punya jejak di kalangan penikmat musik, khususnya Kota Bandung. Mengusung gaya musik garage rock, A Stone A cukup digandrungi oleh sebagian penikmat musik Kota Bandung kala itu.

"Saya mah maunya malah dibilang band punk. Tapi enggak kesampaian. Mungkin arahnya ke garage revival kali, ya," kenang Amenk sembari tertawa.

Namun, kepergian sang vokalis pada tahun 2008 membuat kiprah A Stone A harus mengalami vakum. Bahkan, hingga saat ini Amenk dan teman-teman lainnya mengaku belum terpikir untuk melakukan reuni dan merilis karya atas nama A Stone A, karena ia merasa kehadiran sang vokalis punya daya yang kuat.

"Dia udah kayak abang buat kita. Dia sangat ngayomin banget kita, ngasih banyak referensi dan lain-lain lah," kata Amenk.

Dua panggung terakhir A Stone A nenurut Amenk adalah pada pembukaan sebuah pameran seni di Galeri Nasional, Jakarta pada 2015  dan pembukaan konser Senyawa di Selasar Sunaryo, Bandung, 2019 silam. Saat ini, anggota A Stone A yang tersisa adalah Amenk, Erwin, dan Akbar.

Setelah A Stone A vakum, Amenk kemudian membuat lagi proyek musik dengan nama Pemandangan. Ia menyebut proyek musik ini sebagai proyek musik insidental karena berawal dari pengalaman pribadi personil lainnya.

"Saat itu tahun 2011 memang rumah saya lagi dijadiin basecamp anak-anak, dan Erwin baru belajar software 'Garage Band'. Di situlah kita mulai eksplorasi musik," jelasnya.

Duet Amenk dan Erwin pun dilengkapi sosok Rangga Aditya yang disapa Maung. Trio ini kemudian mengusung musik folk-balada yang kental. Dengan lagu-lagu yang sangat sederhana, mereka mencoba meramaikan industri musik dengan merilis lagu ini di platform Soundcloud yang saat itu sedang digandrungi pelaku musik.

Mereka sempat berniat menggarap album penuh pada 2016, namun rencana itu belum terealisasi hingga saat ini. Amenk menyebut, pengerjaan album ini rencananya akan dibuat tidak biasa. Ya, mereka akan merekam suasana di luar studio secara langsung. Malah, mereka berencana melakukan rekaman di kolong jembatan Pasupati.

Karena rencana tersebut kadung mangkrak, akhirnya Amenk sejenak memalingkan diri dengan merilis album 'Swasembada Meong' pada tahun 2017. Album ini disebut Amenk sebagai album insidental namun punya kenangan tersendiri dalam hidupnya.

"Dulu saya punya pacar dan lagu di album ini tuh awalnya langgam yang saya bikinin untuk dia. Nah, si file voice note ini bocor ke teman-teman saya. Habislah saya diledekin. Tapi, setelah ada seorang personil A Stone A generasi terakhir mengaransemen voice note itu, di sana saya jadi terpikir wah, ini lagu keren juga ya," terangnya.

Lagu berjudul 'Meninabobokan Hasrat Duniawi' itu sendiri sekarang masih bisa kamu dengarkan di akun Soundcloud, Swasembada Meong. Lebih lanjut lagi, Amenk menyebut album ini merupakan sebuah kenang-kenangan dan memorabilianya pribadi saja. Terkait dengan perjalanan bermusiknya, ia juga menyebut tak ada yang spesial dari perjalanan bermusiknya sejak tahun 2003 itu.

"Enggak ada, biasa aja. Menurut saya, itu mah perjalanan saya aja, sama kayak perjalanan tiap orang," ujarnya.

Transfer Ilmu Sebagai Pengajar
Selain menjadi seorang seniman, musisi, Amenk juga merupakan akademisi. Ya, ia tercatat sebagai dosen di salah satu Universitas di Kota Bandung. Ia mengaku memang sudah mengajar sejak tahun 2014. Selama 6 tahun mengajar, ia menyebut tantangan dalam mengajar adalah memisahkan kebiasaan yang dilakukannya saat di luar kampus dan di dalam kampus.

Amenk mengaku hal positif yang didapatnya dari mengajar adalah proses transfer ilmu. Menurutnya, proses ini merupakan sesuatu yang menyenangkan. Ia juga mengakui kalau gaya mengajarnya tegas dan konsultatif. Ia secara berkala akan menanyakan kepada murid atau mahasiswanya mengenai kendala yang dihadapi oleh mahasiswa tersebut.

"Lucunya, ya. Saya enggak pernah perkenalin diri ke orang sebagai Amenkcoy, ya. Tapi kan namanya orang di luar kampus pasti punya aktivitas seni juga dong? Nah, akhirnya ketahuanlah kalau Pak Mufti Priyanka adalah Amenkcoy," katanya sambil tertawa.

Sebagai penutup, saat ini Amenk menyebut sedang fokus menyelesaikan studi magisternya, sehingga belum terpikir untuk menelurkan karya baru. Ia menambahkan, setelah program studinya selesai dikerjakan, pasti akan ada gebrakan 'slebor' nan ugal-ugalan lagi yang akan dibuatnya.

Foto: Istimewa/dok. Amenkcoy
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler