Mengenal Tahap Perkembangan Seni Rupa Pada Anak

Bandung - TemanBaik, masih ingat enggak? Semasa kecil dulu, kita sering coret-coret di tembok. Nah, kamu sadar enggak kalau proses itu merupakan proses perkembangan seni rupa yang pasti dialami oleh tiap anak, termasuk kita di masa lampau.

Beritabaik.id punya kesempatan untuk ngobrol lebih lanjut dengan Yopy Yohana, ayahanda dari kedua seniman cilik Queenaya Delima Nuri (10) dan Glory Mirfat Arumsari (6) yang sedang menggelar pameran bertajuk 'Jejak Gores Queenaya & Glory'. Sebagai informasi, Yopy merupakan salah satu pengajar seni di SMP Negeri 35 Bandung. Selain itu, ia juga merupakan seniman yang tergabung dalam Persatuan Guru Pelukis Bandung (PGPB).

Dalam bincang-bincang bersama kami, Yopy menjelaskan ada tahapan atau periode perkembangan seni rupa dalam diri tiap anak. Menurut Yopy, hal tersebut pasti terjadi dalam diri tiap anak, termasuk kita loh. Namun, yang membedakan adalah kepekaan orang tua dalam memfasilitasi sang anak untuk mengembangkan diri dalam tiap tahapan tersebut.



Lalu, apa saja sih tahapan yang dimaksud Yopy? Yuk kita simak!

Tahap 'Coreng Moreng'
Tahapan pertama ialah tahap coreng moreng atau scribbling. Tahapan ini berlangsung saat anak berada di usia 2 hingga 4 tahun. Secara personal, Yopy menceritakan kalau dirinya dan sang istri berhasil mengarsipkan momentum ini saat putrinya, Queenaya Delima Nuri baru berusia 1,5 tahun. Ia kemudian memfasilitasi Queenaya dengan media kertas, cat air, pensil, dan lain sebagainya agar sang anak mengenal terlebih dulu akan warna dan elemen dasar seni rupa.

"Jadi memang mereka sudah punya dunianya masing-masing. Hanya bedanya ada yang difasilitasi, ada yang tidak dan sebetulnya kita juga mengalami fase itu, hanya mungkin enggak terdokumentasikan saja," ujar Yopy.

Lebih lanjut, ia menyarankan kepada orang tua agar tidak memarahi atau melarang anak yang suka mencoret-coret dinding di usia ini. Ketimbang melarang kreativitas anak, akan lebih baik jika kita memfasilitasinya agar mencoret-coret pada tempatnya. Sediakan kertas kosong, dan medium lainnya agar si kecil tidak sembarangan corat-coret, ya.

Tahap Pra-Bagan
Setelah melalui tahap ini, maka anak akan masuk tahap menggambar pra-bagan. Tahapan ini dikenal dengan istilah preschematic dan akan berlangsung saat anak berusia 4 hingga 7 tahun. Di tahap ini, anak mulai banyak menggambar kepala berkaki, atau wujud sebuah obyek dengan mengganti beberapa bagian obyek tersebut dengan garis.

Penempatan ukuran obyek pun belum bisa dilakukan oleh anak alias masih bersifat subyektif. Tak heran, jika pada usia ini anak menggambar manusia dengan kepala dan garis sebagai 'pengganti' bentuk tubuh lainnya, misalnya.

Tahap Bagan
Setelah selesai bermain di tahap pra-bagan, maka anak akan masuk tahap bagan atau schematic. Tahapan ini berlangsung saat anak berusia 7 hingga 9 tahun. Yopy menyebut, Queenaya saat ini sedang berada di tahap bagan. Oleh karena itu, bentuk dari lukisannya pun mulai nampak jelas.

"Inspirasi anak dalam menggambar juga bisa didapatkan dari pengalaman dia. Misalnya, saya ajak dia ke kebun binatang, nanti setelahnya dia akan menggambar jerapah atau binatang apapun, berdasarkan apa yang anak lihat dan sukai," jelas Yopy, sembari menunjukkan karya Queenaya yang bertema satwa.

Baca Ini Juga Yuk: Adril Husni Hadirkan Karya Badut Sebagai Figur dan Simbol

Tahap Realisme Awal
Tahap realisme awal terjadi pada anak saat usianya menginjak 9 hingga 12 tahun. Di tahap ini, karya anak biasanya akan menyerupai kenyataan. Obyek yang digambarnya pun sudah mulai rinci. Namun, Yopy menyebut pada tahap ini nantinya anak akan dipengaruhi oleh berbagai perspektif dan pengalaman baru karena menginjak usia remaja.

"Kalau saya boleh bilang sih fase seni murni anak itu ya di usia mereka saat sekolah SD lah. Karena di tahap itu, belum ada distraksi dari luar," terangnya.

Masa Naturalisme Semu dan Penentuan
Tahap akhir dari perkembangan kemampuan seni rupa anak ialah masa naturalisme semu dan penentuan. Masa naturalisme semu biasanya terjadi saat anak berusia 12 hingga 14 tahun. Pada masa ini, kemampuan berfikir abstrak dan kesadaran sosial anak mulai berkembang. Anak juga mulai kritis terhadap sesuatu yang ia lihat.

Tahap ini kemudian berlanjut ke tahap penentuan, yang mana pada tahap penentuan ini, anak mulai sadar dengan kemampuan diri mereka. Menurut Yopy, dalam tahap ini, peran orang tua sangat diperlukan guna menyadarkan anak bahwa hubungan manusia dengan seni akan terus ada.

Nah, ia juga mengingatkan kalau dari masa ke masa dalam tahap-tahap tadi, hal terpenting ialah dokumentasi. Mengapa? Karena menurutnya dengan menyelamatkan dokumentasi perkembangan anak, maka anak pun akan lebih menghargai proses ia berkarya dan menyadari bahwa dirinya telah melampaui tahapan-tahapan perkembangan seni rupa.

Saat ditanya mengenai peran teknologi dalam proses belajar anak, Yopy menyebut kehadiran teknologi seperti media akan sangat membantu. Ia termasuk orang tua yang memperbolehkan anak bermain gawai, selama tujuan gawai itu untuk mencari referensi menggambar.

Untuk konteks ini, ia mencontohkan karya kedua putrinya tentang virus korona. Menurut Yopy, referensi mengenai sesuatu yang bersifat fenomenal seperti virus korona akan sangat mudah dipahami anak apabila ia melihatnya dalam sajian visual di media.

"Kalau main handphone, itu saya enggak bisa setop penuh. Karena pengetahuan dan fasilitas yang saya berikan pun terbatas. Nah, tapi handphone yang mereka mainkan itu berdua dengan saya atau, dengan istri. Jadi saya enggak kasih dulu kalau handphone untuk pribadi. Kalau pinjem handphone saya untuk dia cari referensi, saya kasih," bebernya.

Sebagai penutup, Yopy secara pribadi tak melarang jika anaknya nanti memilih pekerjaan sekalipun yang tak senafas dengan dirinya, yang notabene adalah seniman sekaligus pengajar seni.

"Mau jadi apapun nanti, saya mah enggak apa-apa, yang penting saya sudah kenalkan seni ke mereka," tutupnya.

Oh ya, TemanBaik. Kamu masih bisa melihat langsung karya-karya seniman cilik ini dengan cara mampir langsung ke Teras Depan Mini Gallery, Jl. Cijerokaso, Sarijadi, Kec. Sukasari, Bandung ya! Pamerannya masih berlangsung sampai tanggal 20 September 2020 mendatang.

Foto: Rayhadi Shadiq/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler