Menilik Perjalanan Berkarya Riandy Karuniawan

Bandung - Di balik karya-karya luar biasanya, seniman Riandy Karuniawan punya cerita menarik selama perjalanannya merantau ke Bandung. Perjalanan hampir dua dekade itulah yang secara langsung maupun tak langsung membentuk karya-karya ikoniknya.

Pria kelahiran tahun 1984 ini nampak begitu "nihilis" saat kami mencoba berbincang dengannya. Hal ini dibuktikan dengan ungkapan bahwa dirinya sempat berada di titik tak punya ambisi dan obsesi dalam berkarya. Namun, secara perlahan, Riandy membuka sedikit demi sedikit perjalanan dan hal-hal yang mempengaruhinya selama berkesenian. Semua bermula ketika ia meninggalkan tempat kelahirannya di Aceh, sekitar medio 1998. Berbagai kerusuhan dan ketidakstabilan situasi di sana yang jadi alasan ia harus meninggalkan Aceh.

Karena ayahnya berasal dari Bandung dan ia punya saudara di Bandung, akhirnya ia memutuskan merantau ke Bandung sejak lulus SMP. Dalam perantauannya itu, ia mengalami berbagai fase.

Namun sebelum menginjakkan kaki di kota kembang, Riandy kecil sudah punya imajinasi dan fantasi yang tidak umum di kalangan anak seusianya. Ia mengaku sudah mulai tertarik dengan dunia gambar menggambar bahkan sebelum dirinya masuk jenjang Taman Kanak-Kanak!

"Saya itu dulu, masih inget banget, suka corat-coret dinding. Ya, standar sih sebenernya, anak-anak kecil juga suka kayak gitu. Tapi, ada satu momen di mana Ibu saya melihat ada yang enggak biasa dari gambaran-gambaran saya," ujar Riandy.

Saat itu, Ibunya melihat kalau Riandy kecil menggambar buah-buahan. Namun, bukan buah-buahan biasa yang ia gambar; melainkan buah-buahan tersebut telah ia tambahi dengan berbagai organ tubuh seperti tangan dan bagian wajah. Ia mengaku, saat Ibunya melihat gambar tersebut, Ibunya merasa terkejut. Sejauh itu, Riandy menduga kalau fantasi visualnya mulai terbentuk dari tontonan yang ia lihat di televisi.

Selain itu, Riandy kecil juga sudah terlatih dengan hal yang bersifat sentimental. Ia kerap menulis surat yang ditujukan kepada Ibu dan Ayahnya. Surat-surat itu berisi ungkapan kerinduan Riandy yang ditujukan bagi kedua orangtuanya. Saban hari ia menulis surat tersebut dan menyelipkannya di pintu kamar orangtuanya.

"Isinya galau-galau begitu. Kaya 'Ma, Pa, aku kangen' gitu deh. Padahal serumah, ya," kenangnya.

Baca Ini Juga Yuk: Berkenalan Lebih Dekat dengan Mufti Priyanka

Perjalanan Riandy dengan dunia visual berlanjut ke era komik. Doraemon dan Dragon Ball jadi beberapa inspirasinya membuat komik di masa Sekolah Dasar. Ia membuat cerita-cerita standar, layaknya gaya visual berkarakter era 80-an. Selain itu, ia terinspirasi dengan seorang teman seangkatannya bernama Mulyono. Menurutnya, sosok Mulyono ini punya skill menggambar yang hebat, dan ia merasa iri terhadap kemampuan Mulyono.

Lulus sekolah dari SD Pupuk Iskandar Muda, ia melanjutkan sekolah ke SMP Negeri 1 Lhoksumawe. Namun, saat kebanyakan anak mulai melakukan eksplorasi terhadap visual realis, Riandy masih terpaku dengan fantasi-fantasi dan komiknya. Ia mengaku, kehidupannya yang begitu stabil saat ia masih tinggal di Lhoksumawe, secara tak langsung mempengaruhi instingnya dalam berkesenian.

"Saya ngerasa kayak rutinitas tuh hanya sekolah, pulang, madrasah, mengaji, tidur, bangun, belajar, les, sekolah lagi. Gitu aja terus," terangnya.

Sekelumit konflik batin baru ia jumpai saat meninggalkan Aceh untuk melanjutkan studi. Ia merasa, di tahap ini ia merasa ekspresi dari dalam dirinya baru bisa ia keluarkan di tingkat ini. Namun menariknya, Riandy memilih Bandung karena ia tertarik dengan olahraga basket. Ya, menurutnya, wadah untuk salah satu hobinya ini lebih besar apabila ia bersekolah di Pulau Jawa, khususnya Bandung. Ia memilih SMA Negeri 3 Bandung sebagai pelabuhan berikutnya. Ia mengaku ingin mengikuti sebuah liga basket yang pernah tayang di salah satu stasiun televisi swasta di awal dekade 2000-an.

Meski punya keluarga di Bandung, namun Riandy memilih tinggal sendiri dengan menyewa kos-kosan di dekat sekolahnya. Di sinilah ia mendapat banyak terpaan dan pelajaran tentang kehidupan.

"Satu minggu pertama saya ke Bandung, itu saya tiap malem habis salat, saya nangis. Saya baca Alquran, nangis lagi. Kangen orangtua, kangen rumah," kenangnya.

Namun kesedihannya itu berlangsung sangat sebentar. Memasuki pekan keduanya merantau ke Bandung, kegalauannya itu langsung sirna. Ia merasa ada banyak hal dan potensi yang bisa dieksplorasinya.

Ada hal menarik yang jadi catatan. Riandy yang tumbuh di bawah 'pagar-pagar' dan nilai-nilai spiritual semasa remaja, saat itu harus hidup seorang diri di kota yang disebutnya 'antah berantah' tersebut. Minimnya akses komunikasi dengan orangtua saat itu membuat dirinya justru merasa bebas di perantauan.

"Kamu mesti tahu, pagar-pagar yang dibangun oleh orangtua saya di rumah, itu berpengaruh gede banget. Nih ya, di depan kos-kosan saya itu ada sejenis warung gitu. Mereka pesta putaw lah, atau apa lah yang lagi tren di zaman itu. Tapi, entah kenapa, ada kayak pagar yang bikin saya takut banget buat nyentuh hal-hal begituan. Saya gaul ya gaul sama mereka. Tapi untuk nyentuh, tahan dulu deh, saya enggak main!" akunya.

Saat bersekolah, ia begitu semangat menjalankan olahraga basket. Meski begitu, ia tetap menggambar. Namun, ia mengaku gambarnya saat itu hanya sebatas catatan harian atau diary. Hal-hal yang bertujuan mewujudkan ekspresi diri ia tuangkan dalam bentuk gambar.

Hal itu terus berlanjut hingga ia lulus dari SMA dan melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Uniknya, ia tak mengambil jurusan seni murni atau seni rupa saat memilih jurusan kuliah. Ya, Riandy memilih jurusan teknik arsitektur di Universitas Katolik Parahyangan Bandung. Tidak populernya jurusan seni rupa saat itu menjadi alasan mengapa ia menjatuhkan pilihan untuk kuliah di jurusan arsitektur.

Di dalam arsitektur, ia menyadari ada banyak peran seni rupa, salah satunya untuk merespon fenomena yang terjadi. Hal yang direspon tuh bisa merupakan hal yang bersifat komunal.

"Saya masuk kuliah tahun 2001 di Arsitektur Unpar. Di situ kayak nyadar aja kalau fungsi seni rupa itu ternyata bisa dieksplorasi sedemikian rupa," ujarnya, yang juga pernah satu kelas dengan Nazriel Irham alias Ariel 'Noah' di jurusan Arsitektur Universitas Parahyangan ini.

Baca Ini Juga Yuk: Erwin Windu Pranata, Berkarya Sambil Membina Ruang Kreatif

Dari jurusan arsitektur tersebut, Riandy menyadari bahwa seni rupa dapat dikombinasikan dengan multidisiplin. Dalam aplikasinya, ia merasa pembelajaran dan disiplin ilmu selama dirinya kuliah di jurusan arsitektur sangat mempengaruhi komposisi serta pola pikir dalam karyanya. Ia merasa sebagai seniman atau kreator ilustrasi, pola pikir arsitektur yang dimilikinya begitu menohok dalam karya-karya yang dituangkannya.

Saat mayoritas seniman atau illustrator biasanya berkarya secara implusif dan didasari oleh rasa, Riandy mengaku karyanya lebih condong observatif. Sebelum berkarya, biasanya ia terlebih dulu akan melakukan riset mengenai karya apa yang hendak dibuatnya. Ia menghabiskan waktu selama tujuh tahun untuk menyelesaikan studinya.

Ada hal menarik juga yang dijumpainya selama menyelesaikan studi di Universitas Parahyangan. Pada semester keduanya berkuliah, ia sempat mendaftarkan diri ke Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Karena dinyatakan lulus seleksi, Riandy sempat menjalankan kuliah di dua tempat berbeda. Namun, karena merasa kebutuhan dalam pencarian jati dirinya dapat dipenuhi di jurusan arsitektur, ia hanya dua semester saja menjalani kuliah di ITB.

Di tahap ini, ia juga aktif dalam kegiatan seni rupa di tingkat kampus. Berbagai workshop dan festival menggambar diikutinya. Ia punya kesimpulan, saat mempelajari arsitektur, ilmu seni rupanya bermanfaat untuk menghadirkan solusi yang berkaitan dengan bangunan, namun saat di seni rupa visual murni, ia merasa bisa lebih cair dalam berkarya.

Ngantor dan Kenalan dengan Band
Menjelang berakhirnya masa studi, ada satu kejadian yang membuatnya jadi salah satu illustrator untuk artwork band. Uniknya, hal ini berawal dari ketidaksengajaan. Jadi, pada suatu hari, Riandy menitipkan hasil karya desainnya di laptop seorang teman, yang tak lain adalah Revan (drummer Rajasinga). Salah satu desainnya tersebut kemudian di print ke dalam kaos, dan ditunjukkan kepada Riandy saat kaosnya sudah jadi.

"Saya disitu kayak kaget. Wah, kok bagus juga ya? Kepake aja gitu hasil desain saya. Seneng juga sih waktu itu," akunya.

Tak sekadar jadi kaos sebiji saja, desain tersebut kemudian menjadi salah satu official merchandise Rajasinga saat itu. Ia mengaku sangat senang saat banyak orang yang mengenakan kaos dengan desain hasil karyanya.

Tidak berhenti di sana, kemudian ia 'memberanikan' diri untuk berkenalan dengan idolanya di industri musik yaitu Komunal. Sebelum mengenal Komunal, sebetulnya Riandy adalah pendengar setia, atau bisa dikatakan penggemar berat Komunal. Lagu 'Dalam Kerinduan' adalah salah satu pemicu kenapa pria berambut gondrong ini mengidolakan Komunal.

"Itu liriknya kayak ngena aja, saya kangen rumah saat itu," terangnya.

Seluruh gig Komunal tak pernah ia lewatkan jika itu berlangsung di Bandung. Namun, dari dalam dirinya tidak ada keinginan untuk berkenalan dengan band idolanya tersebut. Hingga akhirnya pada suatu masa, ia mendapat kesempatan untuk berkenalan dengan salah satu personil Komunal. Tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, Riandy memberikan sebuah gambar kepada personil Komunal. Terinspirasi dari pengalaman gambarnya pernah 'dipakai' oleh Rajasinga, ia terpikir untuk membuat artwork untuk merchandise Komunal di album 'Hitam Semesta'.

Kejadian itu yang kemudian menjadi gerbang pembuka banyak tawaran membuat artwork bagi para band. Kendati begitu, ia menyebut apa yang telah dilewatinya merupakan sebuah ketaksengajaan dan ia mengaku tercebur di dalamnya. Beberapa band yang pernah dibuatkan artwork oleh Riandy antara lain Bromocorah, Siksa Kubur, Balerina, dan masih banyak lagi saat itu.

Di sela-sela momen tersebut, Riandy berkesempatan untuk jadi pekerja kantoran di sebuah konsultan arsitektur di Medan. Namun, perjalanannya bersama kantor itu tergolong relatif singkat. Ia hanya bertahan satu tahun di kantor tersebut sebelum akhirnya memutuskan kembali ke Bandung.

"Saya enggak tau mau ngapain di Bandung dan urusan nasib di Bandung nantinya, gimana nantilah, saat itu," katanya.

Ia kemudian kembali ke Bandung dan menyewa sebuah kos-kosan di Sukaluyu, berbarengan dengan Revan Rajasinga. Dalam kos-kosan tersebut, rupanya banyak dihuni anak-anak band dan kebanyakan beraliran metal. Secara tidak sadar, ia mengaku ada kecocokan antara gaya menggambarnya dengan kebutuhan visual grup band dengan musik metal. Kebetulannya lagi, pada era itu, band-band yang sedang besar di Bandung kebanyakan beraliran metal.

Meski identik dengan visual dan musik metal, rupanya karya Riandy tak bisa semata-mata diklaim sebagai karya visual yang 'terlalu metal'. Buktinya, ia pernah juga menggarap desain artwork untuk band indie pop Efek Rumah Kaca dan Sarasvati. Di Sarasvati, ia menggarap visual untuk cover dan ilustrasi di era mereka membuat karya bertajuk 'Sunyaruri'.

"Karakter ilustrasi saya walaupun banyak digunakan band metal lebih, tapi saya enggak pakai gaya yang berdarah-darah begitu. Saya lebih menekankan karakter tokoh," terangnya.

Dalam mengerjakan artwork, ia hampir tak punya gaya baku. Meski begitu, ia juga tak begitu kompromi saat mengerjakan proyek artwork untuk keperluan musik. Di titik ini, ia menyadari kalau komposisi gambar dirinya terdiri dari dua unsur yaitu fantasi dan surealis.

Tentang Sathar
Medio 2012, Riandy mengaku sempat hilang arah dalam menggambar. Ia merasa kalau dirinya menggambar tidak lagi dilakukan untuk memenuhi kesenangan, melainkan untuk tuntutan profesi sebagai seorang illustrator. Salah satu metode yang digunakan sebagai media menumbuhkan kembali identitas dan rasa yang dianggapnya telah hilang, ia membuat karakter dengan nama 'Sathar'.

Nama 'Sathar' itu diambilnya dari kata 'Sadar', karena kesadaran menurutnya mulai bergeser. Saat itu, ia merasa dibombardir oleh hal berbau virtual, di era tren facebook kala itu.

"Saya bikin dengan amat personal karya ini, berdasarkan keresahan saya, yang mulai kehilangan identitas berkarya," akunya.

Dalam karakter 'Sathar', ia coba menyajikan manusia super, namun seolah tidak punya kekuatan dan tidak menjadi karakter utama dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu buku karangan Friedrich Nietzche yang berjudul 'Ubermensch' yang pernah dibacanya adalah bagian dari inspirasi karakter ini.

Ia menganalogikan seseorang yang sedang bermimpi melihat dirinya sendiri saat coba mendeskripsikan Sathar. Dalam beberapa karya yang dibuatnya, secara langsung maupun tak langsung, karakter Sathar ini selalu dimunculkannya, baik secara utuh maupun hanya sebagian elemennya saja.

"Seolah kaya mengembalikkan karakter yang dulu. Dengan adanya Sathar tuh, saya jadi enggak bisa main-main sama karya. Mau itu karya personal atau komersil, itu karya personal buat saya, karena ada Sathar di dalamnya," terang Riandy.

Berbincang seputar masa depannya sebagai illustrator, Riandy berharap ke depannya akan banyak metode kerjasama antara dirinya dengan band, dengan menerapkan sistem royalti dalam pembagian keuntungan. Ia tersadar bahwa tak selamanya dirinya punya energi untuk menggarap sebuah karya ilustrasi. Hadirnya sistem kerjasama dalam bentuk royalti diyakini akan jauh lebih punya dampak baik ketimbang apa yang sering ia lakukan selama ini dalam menjual karya, yaitu menjualnya dengan sistem jual putus.

Sebagai pamungkas, Riandy yang awalnya mengaku hampir tak punya harapan dengan apa yang ia kerjakan selama ini mengaku kehadiran putranya mengubah cara pandangnya tentang harapan dalam berkarya. Ia berharap apapun yang ia lakukan, tentunya dapat mempengaruhi hal positif dalam tumbuh kembang putranya.

"Saya awalnya bukan orang yang punya ambisi dan obsesi. Tapi setelah punya anak, saya dapet hal baru. Saya ingin karya saya jadi pelajaran untuk anak saya. Bukan supaya anak saya jadi mikir 'Oh, bokap gua legenda' bukan! Tapi pembelajaran dari perjalanan saya memaknai hidup," pungkasnya, yang mengaku akan membebaskan sang putra untuk memilih profesi yang diinginkan.

Foto: dok. Istimewa/Riandy Karuniawan


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler