Dosen Perempuan dari 11 Kampus Dipersatukan Puisi & Pandemi

Bandung - TemanBaik, pandemi COVID-19 tak melulu menghadirkan sisi negatif. Ada sisi positif dan kreatif yang tetap bisa dilakukan.

Buktinya, sebanyak 18 dosen perempuan dari 11 perguruan tinggi di Indonesia bersatu. Mereka di antaranya berasal dari Universitas Padjadjaran, Universitas Muhammadiyah Malang, UGM Atmajaya, Telkom University, hingga Universipas Diponegoro.

Berasal dari tempat mengajar dan tempat tinggal berbeda, bahkan saling berjauhan, karya tetap bisa dihadirkan. Mereka membuat buku antologi puisi bertemakan pandemi COVID-19.

Buku yang baru diluncurkan beberapa hari lalu itu berjudul 'Corpus Puisi Pandemi: Merajut Kata, Ilmu, dan Hati'. Dalam prosesnya, para akademisi tersebut mengumpulkan 142 judul puisi yang ditulis masing-masing dalam kurun Juni hingga Juli 2020.

Puisi-puisi itu kemudian dikurasi Kurniawan Junaedi dari Kurator Indonesia. Alhasil, antologi puisi itu pun berhasil tersaji. Buku ini seolah jadi sarana untuk memperlihatkan sisi lain mereka di balik profesi sebagai dosen.

Lestari Nurhajati, penggagas antologi puisi, mengatakan ide awal antologi puisi itu berawal dari media sosial. Ia sempat membacakan puisi karya Frida Kusumastuti di media sosialnya. Ide untuk berkolaborasi dengan teman-teman sesama dosen, terutama di lingkaran Jaringan Pegiat Literasi Indonesia (Japelidi), mencuat setelah hal itu dilakukan.

Baca Ini Juga Yuk: 'Akar Hening di Tengah Bising', Pameran 33 Seniman di FKY 2020

Bak gayung bersambut, satu per satu, para dosen perempuan dari 11 kampus berhasil terkumpul. Mereka memiliki kesukaan yang sama terhadap puisi. Di saat yang sama, mereka ingin menyajikan pandemi melalui cara dan sudut pandang berbeda melalui puisi.

"Kami ingin sejenak terlepas dari rutinitas sebagai dosen ilmu komunikasi. Namun tetap memasukkan nuansa ilmu komunikasi dalam puisi-puisi kami," kata Frida Kusumastuti, penggagas antologi puisi lainnya.

Sastrawan nasional Jose Rizal Manua mengapresiasi karya dari para perempuan berlatar belakang dosen tersebut. Sebab, mereka mengangkat warna puisi dari sudut pandang sebagai seorang perempuan.

"Puisi-puisinya luar biasa karena ditulis dari sumber yang dihadapi ibu-ibu. Saya memberi penghargaan yang tinggi kepada 18 penulis wanita. Pada hakekatnya, semua orang pernah menulis puisi, terutama saat jatuh cinta. Puisi sebenarnya dekat dengan keseharian kita, tetapi puisi-puisi dalam Corpus tetap ada sentuhan seni," jelas Jose.

TemanBaik, terbukti kan pandemi COVID-19 tidak membuat kreativitas dan aktivitas positif terhenti? Jika para dosen ini bisa berkarya, kamu tentu juga bisa berkarya apapun. Tetap semangat di tengah pandemi COVID-19! Yang tak kalah penting, tetap jalankan protokol kesehatan dengan disiplin ya.

Foto: dok. Telkom University

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler