Di Balik Tirai Aroma Karsa, Riset Dee Lestari saat Menulis Fiksi

Ubud - TemanBaik, Festival KEMBALI 2020 : A Rebuild Bali Festival sudah dimulai loh! Nah, kemarin (1/11/2020), salah satu program utama yang diadakan menghadirkan penulis, sekaligus penyanyi, bahkan pembuat lagu yang namanya tentu tak asing di telinga masyarakat Indonesia. Ia adalah Dewi Lestari, atau yang lebih akrab disapa Dee Lestari. 

Dalam sesi bicaranya di KEMBALI20, tema yang dibawakan adalah 'How To Research For Fiction'. Membahas soal cerita dan perjalanan Dee melakukan riset untuk setiap karyanya, yang difokuskan kembali dalam perjalanan riset dari novelnya yang berjudul Aroma Karsa. 

Sebenarnya sepenting apa ya melakukan riset dalam karya fiksi? Bukankah karya fiksi lebih merupakan imajinasi dan tidak ada dalam dunia nyata? Simak penjelasannya yuk, TemanBaik!

Sebenarnya, kebutuhan untuk riset datang dari ketidaktahuan. Ketika kita hendak menulis tentang sesuatu, maka kita perlu mencari tahu soal apa yang ingin kita tulis itu. Seperti cerita Dee yang hendak menulis buku Filosofi Kopi pada tahun 1996. Ia yang suka minum kopi, rupanya tak tahu banyak soal kopi, bahkan tak pernah melihat langsung bentuk tanaman kopi. Maka sebelum menulis Filosifi Kopi, Dee merasa perlu untuk mempelajari dunia kopi terlebih dahulu. 

Kebiasaan riset tersebut terus berlanjut untuk setiap karyanya. Hingga sampai pada buku Dee Lestari yang ke-12, yaitu Aroma Karsa. 

"Aroma Karsa memang sesuatu yang unik. Baru di Aroma Karsa karya yang saya dokumentasikan dengan rapi proses risetnya. Makannya buku ini bisa beranak menjadi Tirai Aroma Karsa yang berisi cerita tentang riset dan proses di balik sebuah buku," ujar Dee Lestari. 

Ide Aroma Karsa muncul secara sederhana. Berawal dari instruktur Dee Lestari saat mengikuti kursus menulis daring berkata bahwa indera penciuman adalah yang paling kuat dari semua panca indera. Ketika kita mencium aroma, yang muncul bukan hanya wanginya tapi juga memori yang kompleks. Dari aroma kita bisa memunculkan ingatan tentang suasana, tempat, seseorang, bahkan suasana hati. Ketika penciuman dipakai untuk karya fiksi, efeknya akan sangat kuat. 

Cerita itulah yang menjadi awal ide Dee Lestari untuk menulis novel dengan tema penciuman atau aroma. Tapi yang ia bahas bukanlah soal aroma biasa. Dee membayangkan aroma misterius yang hanya bisa dicium oleh orang tertentu, tapi auranya tetap terasa oleh sekitarnya.

Baca Ini Juga Yuk: Yuk Berkunjung ke Pameran Seni Rupa ‘Main Ayo Main!'

Tak hanya soal aroma misterius, Dee juga ingin novelnya menampilkan dua dunia. Seperti yang kita ketahui, aroma tidak selalu enak untuk dicium. Tapi ada aroma yang kurang mengenakkan seperti aroma pembusukkan, sampah, hingga kotoran. Kedua dunia aroma inilah yang berusaha Dee Lestari hadirkan dalam Aroma Karsa. Hal ini diwujudkan dengan munculnya tokoh Jati Wesi, seseorang yang mempunyai dua dunia, ketika siang hari ia bekerja sebagai pemulung dan malam bekerja sebagai peracik parfum. 

Untuk menciptakan dua dunia dalam aroma itulah, Dee Lestari melakukan perjalanan risetnya. Hal ini dilakukannya untuk melakukan world building atau pembangunan dunia dalam tulisannya. 

"Proses riset sangat panjang. Sebelum menulis tentu kita riset. Tapi saat menulis pasti ada informasi tambahan yang kita butuhkan dan perlu riset kembali. Bahkan ketika proses menyunting pun tetap dibutuhkan riset untuk pengecekan data, barangkali ada fakta yang keliru. Jadi riset ini proses yang panjang dan berkelanjutan," terang Dee Lestari. 

Kembali bicara soal riset yang dilakukan Dee Lestari, ia mengawalinya dari membangun dunia Jati Wesi. Untuk itu, ia pergi ke TPA terbesar di Indonesia, Bantar Gebang. Menurut Dee, sampah adalah ciri khas manusia. Karena di bumi ini, manusia lah yang meninggalkan sampah. 


Dee Lestari membangun karakter Jati Wesi dari TPA Bantar Gebang. Setiap detail yang ia temukan, dituangkannya kembali dalam buku Aroma Karsa. Bahkan ada beberapa tempat yang diceritakannya secara nyata. Seperti sebuah warung kecil diantara gunungan sampah yang makanannya tak sedikitpun dihinggapi lalat, karena lalat lebih tertarik dengan sampah di sekitarnya. 

"Saya juga mewawancara penduduk di sana. Mereka tinggal di bedeng sederhana, sepetak ruangan dari triplek berlantai tanah yang dialasi koran atau kain. Lucunya mereka tidak bisa lagi mencium aroma sampah," ujar Dee Lestari. 

Jati Wesi yang hidup di dua dunia juga membawa Dee Lestari untuk belajar meracik parfum. Untuk hal ini Dee ikut kursus meracik wewangian loh, TemanBaik. Karena bagi Dee ia tak cukup belajar soal parfum dari membaca, tapi harus mempelajarinya secara langsung. Selain mengikuti kursus, Dee juga menyempatkan diri untuk berbincang dengan peracik parfum bernama Darwin, dan berkunjung ke Mustika Ratu untuk mempelajari soal penggambaran sebuah perusahaan. 

Perjalanan riset Dee untuk buku Aroma Karsa belum berhenti. Ia juga mengunjungi Gunung Lawu untuk dunia Dwarapala. Bagi Dee ini adalah kebutuhan dramatis, mencari tempat yang cocok untuk menyimpan bunga misterius dalam bukunya. 

"Lawu bukan tempat terpencil. Tapi itu menariknya. Walaupun bukan tempat terpencil, di situ menyimpan satu rahasia tidak terduga karena ada di dimensi lain. Banyak cerita mistis yang mendukung cerita saya," ujar Dee Lestari. 

Bahkan untuk buku Aroma Karsa, Dee Lestari juga berdiskusi dengan dosen di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UI. Diakui Dee, hal ini ia lakukan untuk menghindari kecocokan ceritanya dengan mitologi yang sudah ada. Ia ingin membuat cerita versi dirinya sendiri. 

"Saya ingin membuat Aroma Karsa semeyakinkan mungkin. Sehingga orang berpikir 'Ini beneran ada gak ya?'. Jadi saya konsultasi sama beliau (dosen FIB UI), untuk mencocokan mitologi yang sudah ada. Ternyata saat mereka baca, mereka mempertanyakan 'Mbak Dee, ini beneran ada gak sih?'. Berarti saya berhasil," terang Dee Lestari.


Bunga misterius dalam buku Aroma Karsa digambarkan Dee seperti bunga anggrek dengan spesies baru yang bernama Gastrodia Bambu atau anggrek hantu. Tanaman Reka Karsa dalam buku Aroma Karsa digambarkan seperti anggrek hantu yang tentu ditambahkan bumbu dramatisasi untuk cerita. 

Tidak hanya untuk hal besar atau tokoh utama dalam cerita. Dee juga melakukan riset untuk setiap hal kecil yang menjadi bagian dari ceritanya loh, TemanBaik. Dee juga mengingatkan untuk selalu membangun hubungan baik dengan narasumber dan konsisten mengontak mereka untuk selalu cek fakta yang kita miliki. 

Bagaimana TemanBaik? Cerita perjalanan riset yang dilakukan Dee Lestari tentu terlihat menyenangkan. Tapi, riset inilah yang terkadang membuat penulis tersendat karena terlalu asik riset tapi tak kunjung mulai menulis. 

"Riset ini punya keasikan tersendiri. Tapi kita harus ingat tujuan awal. Kalau tujuan riset untuk jalan cerita, maka itu yang harus jadi prioritas. Kita harus bisa menarik garis batas. Periset harus terima kalau gak semua hasil risetnya akan terpakai," tegas Dee Lestari. 

Lantas bagaimana ya agar kita bisa melakukan riset yang tepat dan secukupnya? Nah, untuk hal ini Dee Lestari memberikan tips yaitu dengan menentukan deadline. Bagi Dee Lestari, tenggat waktu merupakan sebuah kontrak. Deadline ini tidak hanya ditentukan dalam proses riset tetapi juga dalam menulis. 

"Kapan tulisan selesai? Saat sudah deadline-nya. Kalau kita memulai sesuatu harus lihat dulu ujungnya. Jangan mulai kalau belum ketemu ujungnya. Deadline tidak sepenuhnya tepat, bisa lebih cepat atau lama. Tapi kalau gak punya deadline sama sekali, kita jadi gak punya gambaran kapan harus menyelesaikannya," pesan Dee Lestari menjelang akhir sesi bicaranya pada Festival KEMBALI 2020. 

Ternyata melakukan riset sebelum menulis merupakan hal penting ya, TemanBaik. Bahkan dalam menulis fiksi sekalipun. Dengan riset kita jadi lebih banyak tahu dan paham secara mendalam tentang apa yang ingin kita tulis. Setelah itu, kita tinggal mengolah hasil riset tersebut menjadi sebuah narasi cerita yang menarik untuk dibaca. 

Foto: Tangkapan layar "Dee Lestari: How To Research For Fiction" dalam Festival KEMBALI 2020: A Rebuild Bali Festival 

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler