Lokalitas dalam Novel 'Negeri 5 Menara’ yang Bikin Dunia Kepincut

Jakarta - TemanBaik, apa jadinya jika rutinitas sehari-harimu yang begitu sederhana dilirik seluruh penjuru dunia? Ya, hal itulah yang dialami Ahmad Fuadi. Bagaimana sih ceritanya?

Penulis yang lahir dan tumbuh di Danau Maninjau pada 1972 ini dikenal luas lewat karya trilogi Negeri 5 Menara-nya. Dalam sesi bincang-bincang daring di kanal YouTube Cerdas Berkarakter Kemdikbud RI, Fuadi menjelaskan betapa pentingnya membangun karakter lokal dalam cerita fiktif yang ditulis oleh kita.

Salah satu kisah yang menyadarkannya adalah saat ia diundang sebagai pembicara oleh salah satu kampus terbaik di Amerika, yaitu Universitas California, Berkeley. Ia mengaku kaget karena sebetulnya, karya tulisannya ‘hanyalah’ sebuah novel, yang artinya merupakan cerita fiktif kendati terinspirasi dari kisah nyatanya.

"Beberapa tahun lalu ada yang ngundang saya, salah satu universitas terbaik di Amerika. Profesor di sana bilang, katanya mau ngundang saya untuk cerita tentang novel saya. Saya kaget, sebab buat saya (Negeri 5 Menara) itu kan novel, dan itu kisah anak kampung yang merantau lagi ke kampung. Terus apa pentingnya buat orang Amerika?" terang Fuadi.

Lalu, ia mendapat respons dari profesor yang mengundangnya tadi. Katanya, sang profesor tertarik dengan daya lokal atau lokalitas dalam tulisan Fuadi. Di titik itu, ia menyadari rupanya cerita lokal, di manapun latar tempat cerita itu, pasti punya daya tarik untuk orang di belahan dunia lain.

Baca Ini Juga Yuk: Suguhan Pertunjukan Daring di Festival Gugus Bagong 2020

Lebih lanjut lagi, ia makin dibuat terkejut karena novel 'Negeri 5 Menara' gubahannya dijadikan bacaan wajib untuk dua mata kuliah di kampus tersebut. Kabarnya, novel tersebut dijadikan bacaan wajib untuk mahasiswa yang berminat mengkaji tentang Asian Studies, atau pola kehidupan masyarakat Asia, khususnya Asia Tenggara.

"Awalnya saya ge’er banget itu. Tapi perlahan saya jadi mulai ngerti. Hal-hal menakjubkan itu terjadi bukan karena cerita saya bagus. Sebetulnya banyak orang yang punya cerita lebih bagus dari saya. Nah, tapi belum tentu semua orang ada yang mau menuliskan ceritanya jadi sebuah buku," bebernya.

Ia juga menyebut kegiatan bercerita sebagai salah satu kebiasaan orang Indonesia yang sangat potensial untuk dikembangkan. Secara pribadi, ia menyayangkan kebiasaan bercerita itu hanya sebatas jadi cerita lisan saja.

"Kayaknya, bercerita itu udah jadi budaya kita deh. Makanya, sayang banget kalau kebiasaan bercerita ini sebatas jadi cerita oral saja tanpa dituliskan," katanya.

Negeri 5 Menara dan Segala 'Daya-nya'
Novel berjudul 'Negeri 5 Menara' itu sudah mulai diterbitkan pada pertengahan dekade 2000-an. Novel yang mengisahkan perjalanan seorang perantau dari kampung yang merantau lagi ke kampung itu kemudian melejitkan nama Ahmad Fuadi. Terlepas dari kesuksesan novel tersebut, Fuadi menjelaskan sebetulnya ada beberapa daya yang disajikan dalam karya terbaiknya itu. Perpaduan daya-daya tadi kemudian digabungkannya dengan nilai lokal sebelum dibungkus menjadi trilogi novel.

Beberapa daya yang dimaksud antara lain daya ikhlas, daya juang, daya impian, dan daya adaptasi. Seperti apa sih pendekatannya?Fuadi menjelaskan, daya ikhlas yang terkadung dalam bukunya itu berangkat dari cita-cita masa kecilnya yang ingin menjadi seorang ilmuwan. Namun, apa boleh buat kalau Ibunda kurang merestui? Punya cita-cita ingin melanjutkan sekolah ke tingkat SMA, Fuadi malah 'dipaksa' merantau ke Pesantren di Gontor, Jawa Timur.

"Awalnya saya marah. Tapi kalau terus-terusan enggak menerima sama hal itu, rasanya hidup kita sayang dan mubazir banget," terangnya. Oleh karena itu, ia menyelipkan daya ikhlas dalam tulisannya.

Setelah itu, ada daya juang dan daya impian yang juga terselip dalam bukunya. Daya juang yang dimaksud berangkat dari apa yang ia pelajar di Pesantren. Bahkan, satu kalimat ini cukup menjadi "mantra" ikonik dalam novel 'Negeri 5 Menara'. Mantra tersebut adalah kalimat "Man jadda wa jadda", yang kurang lebih bermakna: barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil.

Sedangkan daya impian yang didapatnya adalah dengan senantiasa menempatkan role model atau panutan dalam hidupnya. Hal paling sederhana yang dialaminya adalah saat ia kerap mendengar siaran radio internasional saat mengantre mandi di Pesantren dulu. Ia juga tak menduga, rupanya siaran radio internasional itulah yang secara tidak langsung mengantarnya jadi seorang jurnalis di VoA, Amerika Serikat.

Terakhir, ada daya adaptasi yang ia sematkan dalam tulisannya. Fuadi berpesan agar generasi muda senantiasa beradaptasi dengan tantangan yang ada. Cara beradaptasi yang paling nyata dan bisa dilakukan oleh generasi muda saat ini menurutnya adalah dengan mempelajari berbagai bahasa.

"Itu semacam kunci lagi untuk kamu membuka dunia," terangnya.

Daya-daya tersebut setelah dipadukan dengan unsur budaya lokal dalam karya Fuadi kemudian diakuinya jadi salah satu nilai lebih untuk karya sastra asal Indonesia. Sebagai pamungkas, ia berulangkali memotivasi agar tiap orang berani menuliskan ceritanya. Menurut Fuadi, menuliskan cerita sehari-hari secara tak langsung bisa menjadi cara kita memperkenalkan Indonesia dengan nilai lokalnya ke mancanegara.

"Paling enggak, tulislah satu buku tentang dirimu. Seumur hidup satu," pesannya. TemanBaik, andaikata kamu akan menulis buku untuk kisah hidupmu, apa judul buku yang kira-kira menggambarkan cerita tersebut?

Foto: Tangkapan Layar Youtube Cerdas Berkarakter Kemdikbud RI

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler