Enggak Asal 'Cerita', Ini Resep Sukses Pertunjukan Wayang Golek

Bandung - TemanBaik, pernah nonton pertunjukan Wayang Golek? Di balik keseruan cerita wayang yang disampaikan oleh dalang, ada semacam kombinasi aturan yang membuat pertunjukan ini terasa lebih bernyawa.

Beritabaik.id punya kesempatan untuk ngobrol dengan Asep Wadi. Dalang muda asal Karawang ini menyebut kalau dalam pertunjukan Wayang Golek, peran dalang sangatlah menentukan. Keseruan cerita, hingga pesan baik yang hendak disampaikan cukup besar bergantung pada kemampuan dalang dalam membawakan cerita.

"Jadi dalang tuh bukan sebatas dia ngabodor (melucu), begitu. Enggak, enggak asal bunyi. Ada beberapa aturan yang poin-poinnya bisa dikombinasikan dalam satu kali gelaran Wayang Golek," ujar Wadi.

Aturan tersebut dikenal dengan istilah 12 Tetekon. Nah, di dalamnya ada beberapa poin penting yang menarik untuk dipelajar bersama loh, TemanBaik. Pasalnya, enggak semua orang menyadari, kalau 12 tetekon inilah yang membuat sebuah pertunjukan Wayang Golek menjadi hidup dan kaya pesan moral.

Lalu, apa saja sih unsur dalam 12 tetekon tadi? Yuk kita kenalan dengan pengertian singkatnya!

Antawacana
Antawacana merupakan teknik membeda-bedakan warna suara dan intonasi wayang dalam dialog yang disesuaikan dengan karakteristik wayang itu sendiri. Menurut Wadi, Antawacana meliputi kemampuan seorang dalang dalam membawakan cerita dan menyajikan dialog dalam nada tertentu.

"Enggak asal bicara itu dalang. Tapi ada aturannya kayak dia bicaranya di nada apa. Untuk menentukan dia bicara di nada apa aja, itu ada juga aturannya. Misalkan dalang lagi mengisi suara tokoh A, nah si tokoh A ini ada aturannya dia suaranya di nada apa," bebernya.

Amardawa Lagu
Amardawa lagu merupakan pengetahuan tentang lagu dan kemampuan dalang menyesuaikan pembawaan cerita dengan nada lagu yang jadi pengiringnya. Jadi, selain keahlian menyajikan berbagai karakter dan nada bicara, dalang juga diharuskan punya kepekaan terhadap lagu pengiring.

Amardi Basa
Sementara itu, Amardi Basa merupakan penggunaan bahasa yang santun dan sesuai dalam penyajian pertunjukan wayang. Ya, sebab dalam pertunjukan wayang, ada banyak penonton yang mendengar dan menonton.

Enges
Enges merupakan keahlian seorang dalang dalam memainkan aspek audio dan visual. Nah, untuk hal ini, Wadi menyebut meskipun tiap dalang itu punya karakter masing-masing dalam membawakan cerita wayang, namun dalang juga harus menonjolkan karakter yang mewakili dirinya.

"Itu tuh kayak peribahasa 'dia banget' gitu. Misalkan, dalang A, dengan gaya bodor (melucu). Nah, ya karakter bodor itu bagusnya ditonjolin," terangnya.

Baca Ini Juga Yuk: 'Arus Memori', Rayakan 7 Dekade Pertemanan Indonesia-Prancis

Sabet
Pernah lihat betapa wayang-wayang yang dimainkan dalam pertunjukan Wayang Golek terasa seperti orang yang hidup? Ya, itu dikarenakan tiap dalang mesti menguasai tetekon sabet. Ini meliputi bagaimana membuat wayang terlihat hidup, bergerak, bahkan untuk kegiatan yang detail seperti bernafas.

Wadi menambahkan, sabet itu sendiri dibagi 3 antara lain: sabet basajan yang meliputi gerakan melirik, menatap, dan bernafas, perangan yang meliputi gerakan berkelahi dalam adegan Wayang Golek, dan 'ibingan' yang menampilkan gerakan menari.

Parama Sastra
Seorang dalang harus punya kecakapan dalam berbahasa. Sebab, ia menyampaikan pesan kepada banyak khalayak. Menurut Wadi, undak-unduk bahasa atau tata bahasa seorang dalang harus tepat dan sesuai konteks.

Parama Kawi
Parama kawi merupakan pemahaman dalang terhadap bahasa kawi. Menurut Wadi, sebetulnya ada banyak jenis atau versi bahasa kawi yang bisa dibawakan. Namun, hal itu kembali lagi kepada pemahaman dalang terhadap bahasa kawi itu sendiri.

Kawi Radia (Kawi Raja)
Kawi radia merupakan terjemahan dari kata kawi raja. Wadi menyebut, tiap dalang harus tahu kawi mana yang cocok digunakan untuk tokoh raja dalam membawakan cerita wayang.

Banyol
Nah, ini biasanya jadi bagian favorit para penonton Wayang Golek. Ya, banyol adalah satu candaan dalam Wayang Golek yang bermakna banyak hal. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dibedakan dalam sajian banyol di Wayang Golek adalah jenis banyolan itu sendiri.

Menurut Wadi, ada dua hal berbeda antara banyolan para arjuna atau raja dan banyolan para panawakan atau tokoh pendamping dari arjuna itu sendiri.

"Aplikasi dalam manusianya sih kayak misalnya di televisi, kan enggak mungkin seorang pejabat atau raja, bercanda berlebihan di hadapan publik. Nah, kalau panawakan itu sih ibaratnya rakyat jelata. Dia mau jungkir balik bercandanya juga enggak apa-apa," terangnya.

Tutug
Tutug merupakan terjemahan dari kata tamat. Jadi, seorang dalang harus bisa membawakan sebuah cerita wayang sampai tamat. Sederhananya, kamu belum bisa disebut sebagai dalang kalau belum membawakan cerita wayang hingga tamat.

Renggep
Renggep itu sendiri bisa diartikan sebagai perhatian. Dalam pentasnya, seorang dalang harus bisa menjadi perhatian atau daya tarik bagi penontonnya.

"Sesimpel gini deh. Misalkan kamu seorang dalang, kamu harus bisa bikin penonton senang sama perangaimu, dan penonton tuh kayak nungguin banyolan (candaan) atau suara kamu saat melanggamkan nada nanti di atas panggung," jelas Wadi.

Awi Carita
Menurut Wadi, Awi Carita adalah rangkaian dari cerita utuh yang mesti dipahami oleh dalang. Ia menyebut tiap dalang setidaknya mesti paham rangkaian cerita lakon dan menyampaikannya dengan baik dan benar.

Uniknya, dari ke-12 aturan tadi, Wadi mengaku kalau tidak semua dalang bisa menyajikan seluruh aturan tadi dalam sekali pementasan Wayang Golek. Sebab, menerapkan poin-poin di atas tentu tidaklah mudah. Namun, dalam sebuah festival pedalangan, 12 aturan atau 12 tetekon tadi biasanya kerap menjadi rujukan untuk menentukan pemenang.

Jadi, walaupun terlihat sederhana, ada beragam trik dan aturan yang mesti dikuasai oleh seorang dalang dalam menyajikan cerita wayang. Menarik ya! Lalu, kamu masih ingat cerita wayang apa yang terakhir kamu tonton?

Foto: Ilustrasi Unsplash/Raka Muhammad Iqbal Ismail


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler