3 Hal Penting dari 'Sosiologi Sastra' Karya Sapardi Djoko Damono

Jakarta - Buku 'Sosiologi Sastra' karya Sapardi Djoko Damono kembali dirilis pada tahun 2020 ini. Buku ini seolah menjadi pelopor perkembangan sektor sastra di Indonesia.

'Sosiologi Sastra' pertama kali dirilis pada transisi dekade 70-an ke 80-an, atau tepatnya pada tahun 1978 hingga 1979. Dalam sesi bincang-bincang peluncuran buku tersebut, Kritikus Sastra sekaligus salah satu tandem Sapardi dalam menghasilkan karya, Melani Budianta mengajak kita untuk menyelam isi pemikiran Sapardi pada buku ini. Menurut Melani, 'Sosiologi Sastra' merupakan buku yang merepresentasikan diri seorang Sapardi Djoko Damono.

"Buku ini Pak Sapardi banget. Semua kiprah beliau bisa kita lihat dari minatnya terhadap sosiologi sastra ini," ujarnya.

Ia kemudian mengenang momentum di mana Sapardi begitu aktif mengajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada masanya. Menurut Melani, saat itu "skena" sastra di UI seolah belum membuka ruang terhadap sosiologi sastra. Kehadiran Sapardi dengan penelitian-penelitiannya kemudian membuka jalan dan ruang untuk sosiologi sastra.

Buku 'Sosiologi Sastra' ini seolah jadi cerminan pemikiran Sapardi. Dari buku ini, kita bisa melihat wawasan Sapardi mengenai kritik sastra. Di dalamnya, ada banyak referensi bacaan mulai dari era 1920-an yang dikemas dan dijahit oleh Sapardi menjadi sebuah wawasan baru namun tetap ringan untuk dipahami.



Baca Ini Juga Yuk: 'Young Blood', Semangat Muda di Usia ke-17 Maternal Disaster

Sapardi tidak memposisikan sastra sebagai sastra saja, melainkan memposisikan sastra sebagai masyarakat. Selain itu, ia juga menyelipkan perkembangan sejarah sastra. Misalnya pada bagian akhir 'Sosiologi Sastra', Sapardi menelisik perkembangan sastra menuju dunia digital; satu hal yang saat ini sudah mulai dilakukan eksplorasi. Hal tersebut sudah dipikiran Sapardi bahkan empat dekade ke belakang. Wah keren!

Secara umum, ada tiga hal penting atau tiga ilmu yang bisa kita dapat dari buku ‘Sosiologi Sastra’ ini. Antara lain kaitan sastra dengan masyarakat, nilai sastra itu sendiri, dan nilai sejarah.

"Ini semacam 'dunia Pak Sapardi' yang disumbangkan untuk kita," ujar Melani.

Selain itu, Sunu Wasono yang merupakan dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia dan dulunya merupakan anak didik sekaligus asisten dosen dari Sapardi kemudian menambahkan, konsep dalam sosiologi sastra tidak akan mudah dicerna tanpa contoh nyata. Namun, apa yang disajikan Sapardi dalam bukunya ini adalah bukti nyata kalau Sapardi merupakan sosok yang kaya akan contoh dalam mengemukakan konsep sosiologi sastra.


'Kebiasaan' dan kemampuan Sapardi dalam mengolah konsep rumit dari sosiologi sastra menjadi produk pemikiran yang sederhana melalui contoh-contoh itu disebut Sunu sudah terlihat semasa ia menjadi dosen pengampu di Fakultas Ilmu Budaya UI yang dulunya masih bernama Fakultas Sastra UI. Ia kemudian menyebut dalam mempelajari sosiologi sastra, kita memerlukan nilai lebih dari pemahaman terhadap definisi.

"Enggak cukup paham sama definisi saja. Kita perlu menyerap ilmu dari contoh-contoh yang ada," ujarnya.

Selanjutnya, ia menyebut ada banyak buku-buku luar biasa Sapardi yang dilandasi pemikiran sosiologi sastra. Pernah membaca buku 'Novel Indonesia Sebelum Perang', 'Ideologi Politik dan Sastra Hibrida' atau 'Sihir Rendra' karya Sapardi? Jika iya, selamat! Artinya kamu akan lebih mudah menyelami pemikiran Sapardi dalam buku 'Sosiologi Sastra' ini.

Keduanya kemudian mengamini, karya luar biasa dan selalu relevan dengan zaman ini enggak terlepas dari sosok Sapardi, yang dikenal selalu membaca dan mengikuti tren sepanjang hidupnya. Dan mereka mengakui 'Sosiologi Sastra' merupakan produk pemikiran Sapardi yang relevan untuk waktu yang lama. Menurut Melani, buku ini merupakan ilmu yang besar untuk diamalkan dan dikembangkan para pembacanya.

Berkaca pada pengantarnya, ‘Sosiologi Sastra’ karya Sapardi Djoko Damono ini memaparkan dengan jelas pendekatan terhadap sastra yang mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan. Buku ini menjadi pengantar singkat yang mengemukakan bahwa sastra bisa mengandung gagasan yang mungkin dimanfaatkan untuk menumbuhkan sikap sosial dalam suatu masyarakat atau bahkan untuk mencetuskan peristiwa sosial tertentu.

"Pak Sapardi merupakan orang yang pandai menyajikan konsep rumit menjadi sederhana," terang Sunu, dan diaminkan oleh Melani.

Baik Melani ataupun Sunu mengakui, ada banyak sektor kajian dan pembahasan dari sastra itu sendiri yang perlu dikembangkan. Karena itu, mereka menyebut sebagai murid-murid Sapardi, rasanya hal ini menjadi tantangan untuk direalisasikan.

Pada penghujung tahun ini, 'Sosiologi Sastra' karya Sapardi Djoko Damono hadir di bawah naungan penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU). Nah, otomatis nih, kamu sudah bisa mendapatkan buku ini di toko-toko buku kesayanganmu. Jangan sampai kehabisan ya, TemanBaik!

Lalu, adakah di antara kamu yang sudah membaca ‘Sosiologi Sastra’ karya Sapardi ini? Coba, poin penting apa yang kamu dapatkan dari buku ini?

Foto: dok. Gramedia Pustaka Utama

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler