Ngobrolin 'Self Portrait' Bersama Ali Mecca

Bandung - TemanBaik, fotografi merupakan hal yang gampang sekaligus sulit untuk dicerna. Kejelasan fotografi yang dianggap masih kabur ini banyak memengaruhi perjalanan Ali Mecca, fotografer sekaligus akademisi fotografi yang banyak melakukan penelitian tentang fotografi.

Kami berkesempatan untuk ngobrol panjang lebar bersama Fotografer Ali di sela-sela kegiatannya sebagai penampil dalam pameran ‘Bandung Photo Showcase’ yang digelar di Selasar Sunaryo Art Gallery. Dalam perbincangan tersebut, kami membahas banyak hal, salah satunya mengenai karya foto Ali, yang mengangkat tema self portrait atau potret diri.

Karya yang dipamerkan ini merupakan penggabungan antara narasi besar yaitu sejarah fotografi, sebab Ali menggunakan prinsip kamera obscura saat mengambil gambar. Namun disisi lain, ia mengangkat narasi kecil yaitu keseharian individu. Selain ngobrol soal karya, kami juga mengupas seputar perjalanan Ali, dari fotografer hingga pengajar fotografi.

Simak obrolan kami bersama Ali Mecca di bawah ini yuk!


Ali, sekarang lagi sibuk apa? Dan gimana ceritanya bisa nampil di Bandung Photo Showcase?
"Sebenarnya saya lagi banyak berkegiatan di rumah (khususnya saat pandemi kemarin). Di tengah waktu luang, belum lama ini saya dihubungi oleh kurator pameran. Kemudian saya submit beberapa karya dan dipilihlah karya ini. Ya intinya sih saya diundang lah untuk ikut di pameran ini.”

Karya fotografi apa yang Ali sajikan dalam pameran ini?
"Sebenarnya yang dipilih itu awalnya adalah karya series judulnya HOME. Tapi karena kuratornya punya pertimbangan lain jadi karya self-portrait inilah yang akhirnya dipamerkan. Waktu awal penggarapan itu, saya bikin sama kolektif luar kelas. Di luar kelas itu, kita menginisiasi kelas fotografi sih memang. Tapi karena kolektifnya keburu vakum jadi karyanya belum sempat di-pamerkan. Nah, balik lagi ke si karya ini, jadi, berangkat dari prinsip dasar fotografi itu sendiri sih. Saya ngambil gambarnya pakai prinsip kamera obscura yang juga sering digunakan oleh para pelukis di zaman Renaisans.”

Kalau dilihat kembali, dalam karya fotografi ini kita bisa melihat seakan-akan di dalam foto ini terdapat dua gambar yang dipadukan. Namun kenyataannya, konsep tata ruang saat pengambilan gambar pada karya ini menerapkan prinsip kamera obscura pada zaman dahulu. Jadi, pertama-tama, Ali menutup seluruh lubang pada ruang tempat ia membuat karya foto. Seluruhnya ditutup hingga kedap cahaya, lalu ia melubangi salah satu titik pada ruangan tersebut yang berfungsi sebagai lensa.

Setelah bagian tersebut dilubangi, Ali menyebut hasilnya sebagai pengalaman visual yang luar biasa. Ya, ia melihat pemandangan di bagian luar bangunan dan ruang yang disetel layaknya kamera obscura ini memantulkan bayangan visual alias terproyeksi di sepanjang sudut ruangnya. Setelah membentuk rupa tertentu, barulah ia menempatkan dirinya sebagai objek foto di dalam bingkai. Terlihat sangat filosofis sekali proses berkarya Ali di sini.

Kok bisa terpikir bikin karya ini? Inspirasinya dari mana sih?
"Awalnya kepingin melukis hasil proyeksi visual dari luar itu. Ingin mencoba pengalaman seperti yang dilakukan oleh para pelukis renaisans dahulu. Bisa dilihat, ya? Langit terbalik dan lain-lain. Ya, sebenarnya ini adalah prinsip dasar dari fotografi. Objek dan cahaya masuk ke kamar gelap, dan bayangannya terbalik. Hanya lama-lama, saya juga agak malas mau melukisnya. Tapi, ya balik lagi. Namanya proses berkarya ya. Akhirnya saya kepikiran lah untuk membuat karya dari pengalaman visual ini, berbeda dengan konsep awal.

Nah, kalau ceritanya si karya ini tentang apa, itu saya ngangkat proses ibadah salat sebagai keseharian, khususnya umat muslim. Dua narasi yang saya gabungkan antara sejarah fotografi sebagai narasi besar, dan keseharian manusia sebagai narasi kecil.”

Kenapa ngambil self portrait? Dan kenapa memasukkan unsur salat?
"Setelah saya melakukan eksperimen menyetel kamar jadi seperti kamera obscura, di situ sempet kepikiran, kayaknya kalau Da Vinci hidup di-era sekarang, dia enggak akan ngelukis, tapi dia bakal selfie deh. Hahaha, enggak. Poinnya adalah karena ketakjuban saya sama fenomena yang saya dapatkan, dan saya berupaya mewujudkannya dalam karya self portrait.

Terkait kegiatan salat, jadi saya coba memadukan antara narasi besar dan narasi kecil dalam karya ini. Di satu sisi, narasi besarnya adalah sejarah fotografi. Setelan ruang yang saya gunakan itu menganut prinsip kamera obscura. Tapi disisi lain, saya mengangkat keseharian orang Muslim di kita, yaitu melaksanakan salat. Kendati ada proses komunikasi transendental di dalamnya, tapi saya punya pandangan kalau salat adalah hal yang menjadi keseharian, sehingga kita bisa menariknya ke dalam kategori narasi kecil. Sebab narasi kecil itu berangkat dari keseharian yang dilakukan orang, kemudian dipotretlah keseharian tersebut.”

Baca Ini Juga Yuk: Yuk, Kenalan Lebih Jauh dengan Buku Foto Indonesia!

Jadi, ini merupakan pengalaman visual yang Ali tuangkan?
"Iya, pada awalnya sih kepingin ngerasain sensasi kamera obscura kayak zaman pelukis Renaisans, itu. Tapi kemudian berangkat dari beberapa riset mengenai sejarah, dan riset narasi kecil tentang keseharian, ujung-ujungnya saya kepingin menyajikan paradoks antara narasi besar dan narasi kecil inilah.”

Proses pengambilan gambarnya kayak gimana tuh?
"Proses pengambilan gambar sih standar ya. Saya pakai kamera digital saat ngambil ini, pakai tripod juga, dan setelan kamera itu saya setel di 15 detik atau berapa ya? Saya agak lupa detailnya. Tapi intinya, saya menahan pose dalam bingkai itu cukup lama.”

Dalam pengantar pameran, Ali menyebut fotografi itu sebagai egaliter. Maksudnya gimana tuh?
"Dalam fotografi itu kan ada fotografer sebagai subjek, dan objek foto (bisa model lah katakan gitu). Nah, saya melihat hubungan antara dua unsur ini tuh kecenderungannya seperti ada hirarki gitu. Seolah subjek foto lebih tinggi kastanya ketimbang objek, karena si objek ini bisa dia atur-atur mau digimanain, sehingga kecantikan/keindahan foto itu enggak lagi berasal sepenuhnya dari si objek, tapi ditentukan oleh si subjek ini. Dan saya memahami dalam self portrait, hubungan yang kecenderungan bersifat hirarki ini enggak ada. Jadi melebur aja begitu. Sehingga saya sebagai subjek, juga meleburkan diri sebagai objek di dalamnya. Dia jadi egaliter sifatnya.”

Berarti kalau anak-anak di Instagram itu lagi pada selfie, itu egaliter dong? Atau bagaimana?
"Enggak berarti begitu juga. Hmm, jadi bagaimana ya? Dengan kesadaran tertentu bisa aja disebut egaliter. Tapi kalau dalam pandangan saya sih, selfie yang sering dilakukan atau banyak dilakukan sih itu sejenis narsisme yang memang populer aja dilakukan oleh pengguna media sosial. Tapi kalau self portrait, ini lebih hard lagi. Sebab seniman foto dalam self portrait ya mesti bisa menampilkan personalitasnya atau gagasan artistiknya lewat foto diri itu.”

Ali sendiri termasuk fotografer yang menganut konsep hubungan hirarki antara subjek dan objek foto itu enggak sih?
"Kalau pertanyaannya, ‘genre motret Ali tuh apa sih?’ saya bukan penganut mazhab tertentu sebetulnya hehe, ya mungkin dulunya saya penggemar fotografi seni atau fine art. Foto-fotonya tuh yang sangat konseptual. Waktu kuliah tuh kayak anti banget motret model atau foto yang mainstream. Saya lebih suka hal yang berbau seni lah, ya. Tapi belakangan, hal yang saya sebut sebagai pagar-pagar yang saya gunakan untuk menyekat diri itu pelan-pelan luntur juga.

Konsep hirarki ini juga pernah saya jumpai saat menjadi jurnalis foto. Saat ada peristiwa tertentu nih, di sana fotografer itu seakan punya kuasa tertentu sama objeknya. Padahal kan enggak harus begitu ya. Dalam fotografi itu paling enggak kita harusnya ngomong dulu sama objeknya, izin dulu kalau kita mau motret, dan makanya dalam foto saya, saya sering memasukkan saya sebagai objek karena saya mencoba meleburkan hirarki di dalamnya. Dan kalaupun saya harus motret orang, saya akan izin dulu supaya enggak ada ketimpangan hubungan antara subjek dan objek.”

Sebagai lulusan Program Studi Fotografi alias Sarjana Fotografi di Universitas Pasundan, dan sebagai mantan jurnalis foto, pengalaman belajar, berpikir, dan bekerja ini banyak membentuk pemikiran Ali. Hingga akhirnya pria kelahiran 1989 ini sekarang telah beralih bidang menjadi pengajar fotografi, dan berpengalaman juga mengajar di beberapa Universitas di Bandung. Ia mengaku begitu menikmati profesinya saat ini sebagai pengajar fotografi di Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Pendidikan Indonesia beserta kegiatan kolektifnya di luar kampus.

Jadi, gede ya pengaruhnya dari perjalanan atau step by stepnya karir Ali?
"Oh jelas ngaruh dong. Waktu belajar fotografi pas kuliah itu saya berpikir, yang itu tadi, enggak suka motret model. Dan setelah lulus kuliah S1, saya sempat juga kerja di media. Awalnya dari magang dulu sih. Abis magang, terus kerja, dan ya begitu lah. Saya enggak pernah mengklaim diri sebagai seniman lah ya. Dalam perjalanannya, saya ngerasa perlu ada pemahaman yang lebih jauh tentang fotografi ini, di samping karena peran saya sebagai pendidik yang mengharuskan saya untuk terus mengkaji. Sebab enggak cukup rasanya kalau ada orang bertanya, ‘kenapa memilih medium fotografi?’ terus saya jawab ‘karena saya kuliah fotografi,’ Di sisi lain, saya masih intens motret sampai hari ini. Jadi, antara memotret dan mengkaji itu saya lakukan berbarengan.

Berbicara fase berkarya, ada fase dimana saya berpikir kalau saya ini penggemar karya fine art, yang mana foto-foto saya tuh jadinya konseptual banget. Sampai pernah juga saya menjajal hal ekstrim jadi jurnalis foto. Tapi saya ngerasa dua ‘genre’ ini tuh enggak seimbang buat saya. Di fine art, keterlibatan fotografernya kebanyakan, di foto jurnalis, jadinya kita terlalu objektif. Jadi, saya mengambil tengah-tengahnya aja.

Dan hasil dari fase ke fase itu ya, saya jadi punya statement kalau fotografi adalah medium berkarya yang egaliter. Pengaruh lain juga karena studi S2 saya, yang mana saat itu saya mengambil kajian budaya.”

Momen apa yang masih diingat saat Ali terjun sebagai jurnalis foto?
"Waktu jadi jurnalis foto itu saya nyambi sih. Sambil kuliah S2 kajian budaya. Saya pernah mencoba serius menekuni bidang ini (menjadi jurnalis foto). Banyak banget momen yang menarik, banyak pengalaman seperti ketemu orang-orang hebat, motret kejadian-kejadian penting, belajar etos kerja dari temen wartawan sendiri, dsb, . Tapi memang, mungkin ya, energi antara saya dan profesi jurnalis foto ini emang enggak ketemu aja. Akhirnya setelah dari sana, saya selesai S2, lalu kemudian menjajal pengalaman baru jadi dosen. Karena rupanya saya suka sama kegiatan mengajar, akhirnya saya mantap memilih profesi dosen ini.”

Apa yang Ali lihat sebagai budaya?
"Keseharian. Ya memang ada beberapa tokoh yang menyebut kalau budaya adalah hasil cipta karsa, dan lain sebagainya. Tapi yang saya lihat, budaya itu produk dan perilaku keseharian kita. Culture is ordinary kalau kata Raymond Williams

Sebagai pengajar fotografi, Ali ngerasa kuliah fotografi itu penting enggak sih? Sekarang kan teknologi sudah maju, dan kayaknya untuk bikin foto bagus itu gampang deh?
"Emang gampang. Tapi untuk membentuk pemikiran kan enggak gampang, ya? Nah, di sini perannya. Jadi, saya rasa bukan bagus atau enggaknya hasil foto. Tapi bagaimana pemikiran si pelaku fotografi ini dalam menghayati bidang yang dia pilih. Sebab, saya pribadi nih, perlu waktu yang lama untuk bisa nemuin statement saat orang bertanya ‘kenapa sih milih fotografi?’ nah, jawaban itu enggak bisa asal kalau menurut saya ya.”

Jadi, paling menikmati tuh saat jadi apa: fotografer, jurnalis foto, atau dosen?
"Saat mengajar. Saya kayak punya semangat untuk menanamkan bahwa fotografi itu enggak sesempit foto komersil, atau jenis produk foto tertentu lah. Ditambah lagi fakta bahwa wacana fotografi belum terlalu berkembang kayak seni rupa. Saya seolah punya kewajiban untuk mengembangkan ini, sehingga orang lebih banyak tahu dimensi fotografi yang luas ini.”

Apa yang bikin fotografi jadi menarik buat Ali?
"Karena fotografi itu punya sifat yang paradoks, apakah dia masuk ke seni murni yang high art, atau dia seni rendahan? Sok coba masuknya ke kategori mana?. Sebab kalau dipikir pakai logika bener salah-benar, tinggi-rendah, itu enggak masuk kemana-mana. Hahaha, justru menariknya fotografi tuh di situ. Dan dari ketertarikan itulah saya jadi ngulik isu-isunya, dan meleburkan narasi besar dan narasi kecil di dalamnya.”

Boleh sebut enggak, satu karya bidang fotografi yang menginspirasi Ali?
"Saya tuh penggemar Seno Gumira Ajidarma. Dan saya suka sama bukunya tentang fotografi yang judulnya ‘Kisah Mata’. Saya baca buku ini saat kuliah S1 semester 3, Dosen saya yang menyarankan saya baca ini. Wah itu saya suka banget!”. Bisa dikatakan buku ini yang jadi trigger saya untuk lebih mendalami fotografi lebih jauh.

Ada wacana yang berkembang bahwa fotografi itu enggak hanya motret atau jadi fotografer aja, tetapi ada juga orang non-fotografer yang juga bisa hidup dari fotografi ini. Tanggapan Ali mengenai ekosistem fotografi ini gimana?
"Ya betul, untuk membangun ekosistem fotografi yang baik kita harus punya positioning mau berkontribusi di wilayah apanya. Jadi seniman yang bikin karya-kah?kurator? edukatori? pesearcher? publisher? Atau apa? Dan idealnya setiap peran ini bisa saling bersinergi dan dilakukan oleh ahlinya. Tapi kalau untuk konteks Indonesia saya kira peran-peran ini belum seimbang ya, terlalu banyak yang jadi fotografer, sementara yang mengkaji karya jarang. Hehehe. Sehingga kadang kita harus mencoba multiperan, bukan untuk sok-sok an sih tapi untuk mentriger aja. Ini juga yang sedang saya lakukan sekarang, jadi pengajar iya, motret iya, riset iya,. Selain ngajar di kampus saya juga sering ikut jadi pengisi materi di RAWS Attack Class, ikut workshop TOT sama PannaFoto, atau bikin kolektif luar kelas. Tapi kalau kolektif luar kelas, untuk saat ini belum ada kegiatan yang dibikin sih karena lagi vakum. Hehehe

Seberapa penting riset saat pengambilan foto?
"Sangat penting. Riset ini fungsinya untuk memberi dimensi kognitif dalam sebuah karya. Selain riset, fotografer juga perlu menguatkan statement-nya dalam keterangan foto atau caption. Sebab, foto ini bisa jadi multitafsir loh kalau captionnya enggak menguatkan. Dalam seni sih sah-sah aja, atau bahkan malah itu yang dicari. Tapi kalau berbicara foto sebagai informasi, nah ini enggak benar juga nih.”

Di sisi lain, apresiator juga perlu wawasan literasi juga ya dalam memahami visual?
"Iya. Sebab itu tadi, foto bisa jadi multitafsir. Jadi, fotografernya harus kuat membangun narasi. Apresiatornya juga harus bisa mencerna informasi dalam fotonya dengan cara menghubungkan foto dengan berbagai konteks pendukungnya.

Apa aja sih yang harus dimiliki seorang fotografer menurut Ali?
"Ini agak sulit sih. Tapi kalau untuk saya pribadi, cobalah mencari ke dalam diri. Maksudnya sih begini; carilah apa yang kita suka, rekam jejak kita tuh seperti apa? Kita dapat pengaruh dari mana? Intinya sih lebih mengenal diri sendiri dulu saat berkarya.”

 Bagaimana, TemanBaik? Fotografi memang menjadi satu wahana yang sangat luas dan bisa kamu eksplorasi lebih dalam lagi. Terlebih, katanya, wacana fotografi juga belum berkembang seperti seni rupa loh. Nah, sudah waktunya nih kamu sebagai pegiat fotografi untuk menghidupkan wacana-wacana tersebut, dan lebih mengenali diri kamu saat berkarya. Tetap semangat berkarya dimanapun kamu berada, ya!

Foto: Rayhadi Shadiq/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler