Intip Ragam Pertunjukan Seni Keren dalam Pohon Mohon Meredih

Bandung - Pertunjukan seni yang keren disajikan RU Collective dalam pameran 'Pohon Mohon Meredih'. Berbagai sajian pertunjukan hadir untuk merespons keadaan pepohonan di kota Bandung yang menurut mereka perlu mendapat perawatan.

Karya seni sebagai respons untuk melindungi pohon yang rusak itu kemudian dibawakan ke dalam ruang privat. Bertempat di Gelanggang Olah Rasa, Minggu (21/2/2021) malam, dunia peri yang mayoritas dikisahkan dalam karya seni di ruang publik tersebut dipetakan ke dalam sebuah pameran bertajuk ‘Pohon Mohon Meredih’ dengan menggaet banyak kolaborator.

Pameran dibuka dengan pada pukul 20.00. Saat mengisi daftar hadir, pengunjung akan dipertontonkan dokumentasi karya respons pohon yang telah dibuat di lima titik tersebut. Lalu, kita akan diarahkan masuk ke dalam sebuah labirin dengan berhelai-helai kain putih.

Saat memasuki Gelanggang Olah Rasa, ada aura magis yang terpancar dari labirin pintu masuk dengan kelap-kelip lampu berwarna hijau. Dan begitu keluar dari labirin, pengunjung disambut video dokumenter dari pameran ini, dan di sebelah kiri kita bisa melihat area mini city, sebuah karya yang lahir dari ide Dian Mayangsari.

Dalam karyanya, seniman yang akrab disapa Mayang ini menbayangkan bahwa kita manusia seperti raksasa, wajib berhati-hati saat melangkah, atau perumahan mini ini akan tergilas kaki kita. Sebagaimana dengan kondisi pepohonan yang rusak karena manusia, manusia predator tertinggi kurang berhati-hati, banyak tidak peduli, sampai merusak atau merugikan alam.


Baca Ini Juga Yuk: Lawan Kekerasan Seksual Lewat Instalasi Seni dan Donasi Sepatu

Pembuatan rumah-rumah kecil ini melibatkan beberapa seniman antara lain dengan K. Jordanus, Novita Florentina, dan Superunul. Mereka membayangkan mahluk-mahluk yang tinggal di perumahan tersebut beragam, dari jenis manusia, hingga para kurcaci, atau tokoh-tokoh fiksi lainnya. Material yang digunakan dari sampah, mulai dari botol plastik, kardus, hingga kotak tetra-pak.

Setelah melihat area mini city, pengunjung seolah dikumpulkan di area tengah, yang merupakan bekas kolam. Area ini dijadikan area penampil, yang mana beberapa penampilan seni mulai dari pantomim yang dibawakan Wanggi Hoed, tarian Teruna Jaya yang dibawakan oleh penari muda, Nararya Naura, dan pertunjukan pandai besi yang disajikan Naufal Hanif yang menempa logam, beserta paku-paku yang pernah ditancapkan ke pepohonan.

Oh ya, selain itu nampil juga duo musisi elektronik yaitu Faith Isolation. Musik mereka seolah mengiringi pantomim yang dibawakan Wanggi dan tarian yang dibawakan Naura. Setelah penampilan Naufal, Wanggi dan Naura tadi, pengunjung kemudian dipersilakan mengelilingi lima area pameran yang terdiri dari Fairy Forest, Mini City, Fairy Couture, Flower Bark, dan Cosplay Druid.

Puncak magis yang disajikan selain dari penampilan keempat artis, juga dari instalasi lampu yang bisa disaksikan penonton di bagian belakang Gelanggang Olah Rasa. Ya, di sana ada hutan kecil yang disulap menjadi arena pertunjukan instalasi lampu. Pertunjukan berlangsung selama dua jam, dan ditutup dengan penampilan Faith Isolation serta dibebaskannya pengunjung untuk mengitari seluruh area pertunjukan.


Merawat Lingkungan
Pohon Mohon Meredih itu sendiri berangkat dari gagasan Superunul, yang sejak SMP senang memperhatikan pepohonan di pinggir jalan. Baginya pepohonan ini seperti tokoh utama, saksi bisu perkembangan kota. Namun imajinasi Superunul jadi memburam saat melihat kondisi mengenaskan pepohonan kota, lubang-lubang pada pepohonan dirusak, dijadikan tempat buang sampah, terutama sampah beling.

Menanggapi ide dari Superunul, RU Collective kemudian memetakan dan mendatangi pepohonan rusak di pinggir jalanan kota Bandung, menjadi medium berkarya seni (seni publik). Belum lama ini, mereka juga merespons beberapa pohon rusak tersebut dengan karya seni, antara lain di dekat Taman Dayang Sumbi, di depan Bakmi Jowo Dipatiukur, di pertigaan dekat Taman Super Hero, beberapa pohon di sekitar Taman Lalu Lintas, satu pohon di Jalan Ciungwanara, serta sebuah pohon di dalam Taman Lansia.

Kemudian sebagaimana watak karya seni di ruang publik, besar kemungkinan jejaknya akan hilang, maka seluruh dokumentasi pepohonan yang sudah menjadi karya tersebut dibawa ke wilayah privat, dipamerkan di Gelanggang Olah Rasa, beserta beberapa instalasi dan penampilan seni.

Saat ditemui usai pertunjukan, Ferial Afiff selaku perwakilan dari RU Collective menyebut kalau pertunjukan seni yang dihadirkan malam ini merupakan representasi dan kelanjutan apa yang telah mereka buat

"Kelanjutan, dan juga kita kembangkan. Di sini, kisah peri-periannya kita pecah jadi beberapa chapter. Selain itu, hadir juga penampil dengan medium lain, seperti pantomim, tari, musik elektronik, dan instalasi lampu, itu tuh mereka bikin karya dengan banyak medium, tapi pesannya sama: menjaga si pohon tadi," ujarnya.

Sementara itu seniman sekaligus penampil Wanggi Hoed menyebut dirinya begitu antusias menyajikan penampilan terbaiknya malam ini. Adapun makna pantomim yang disampaikannya adalah kehidupan di laut, yang juga penunjuang peran dari pepohonan yang jadi isu utama yang ditawarkan RU Collective.

"70 persen oksigen itu datangnya dari laut. Kita coba menjahit keterkaitan antara pohon ini dengan keberadaan laut. Jadi orang enggak hanya fokus menjaga pohonnya saja, tapi juga menjaga biar gimana caranya ekosistem di laut ini tetap hidup," bebernya.

Pihak RU Collective yang diwakili Ferial mengaku sangat antusias menggarap pertunjukan seni ini. Enggak sekadar itu, ia berharap dampak dari pertunjukan ini bisa menyadarkan berbagai pihak untuk lebih giat lagi menanamkan kecintaan pada sesama makhluk hidup, khususnya pohon.

"Kemarin kan kita pasang instalasi hanya di lima titik. Itupun di wilayah kotanya banget lah. Nah, kita sih berharap sehabis ini, temen-temen dari seluruh penjuru Bandung dulu deh, meramaikan lagi gerakannya. Jadi, semua pohon di Bandung ini kita sayangin lagi," pungkasnya.

Sebagai penutup, Ferial juga memberitahukan bagi kamu yang enggak sempat hadir pada pameran Minggu malam, RU Collective masih menyimpan artefak pameran seperti mini city dan beberapa dokumenter kecuali instalasi lampu di area ini hingga 3 hari ke depan. Artinya, jika penasaran, kamu masih bisa mengunjungi rumah peri tadi sampai besok.

TemanBaik, ada banyak cara untuk menjaga lingkungan kita. Nah, kalau RU Collective menjaga lingkungan lewat medium seni, kalau kamu menjaga lingkungan lewat medium apa?

Foto: Djuli Pamungkas/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler