Hotelier Bandung Bantu Saung Udjo Bangkit dari 'Mati Suri'

Bandung - TemanBaik, keberadaan Saung Angklung Dujo (SAU) di Kota Bandung saat ini cukup memprihatinkan. Sebab, sejak pandemi COVID-19 melanda, aktivitas kebudayaan di sana menjadi 'mati suri'.

SAU sendiri sebenarnya salah satu tempat wisata unggulan di Kota Bandung. Di sini kerap dihadirkan aneka suguhan budaya, terutama yang berkaitan dengan angklung, alat musik tradisional khas Sunda.

Sebelum pandemi, dalam sehari, di sini bisa digelar delapan kali pertunjukkan. Maklum, dalam sehari, bisa sampai 2 ribu orang berkunjung, terutama wisatawan dan anak sekolah.



Selama pandemi, SAU pun praktis ditutup karena sempat dilarang beroperasi oleh pemerintah demi meminimalisir penyebaran COVID-19. Hal itu praktis membuat SAU tak punya pemasukan. Sehingga, lebih dari 1.000 orang yang bekerja di sana terganggu pendapatannya.

Seiring berjalannya waktu, SAU sempat dibuka untuk umum. Namun, kunjungan yang ada sangat jauh dari harapan. Mereka yang datang berjumlah hitungan jari.

"Kita pernah buka beberapa kali, pengunjungnya yang biasa 2 ribu per hari, yang datang hanya dua-tiga orang. Weekend kita pernah buka, sabtu yang datang dua orang, minggu yang datang tiga orang," ujar Direktur Utama PT. Saung Angklung Udjo Taufik Hidayat Udjo.

Baca Ini Juga Yuk: Ini Tips Jadi Ilustrator ala Metta Ratana



Karena itu, SAU hingga kini berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Sebab, selama setahun pandemi terjadi, SAU seolah dihadapkan pada situasi yang memaksanya harus menerima kondisi seperti sekarang.

Hal ini membuat berbagai pihak tergerak untuk menyelamatkan SAU agar tetap bisa bertahan. Sebab, SAU merupakan aset penting bagi pariwisata, kebudayaan, dan tentunya bagi Indonesia.

Salah satu yang tergerak adalah Himpunan Humas Hotel Bandung (H3B). Mereka berkolaborasi dengan SAU pada Minggu (21/3/2021) dengan menggelar pertunjukkan di lokasi. Dihadiri pengunjung terbatas, aneka suguhan pun ditampilkan dengan penerapan protokol kesehatan ketat.

Dalam penampilannya, murid-murid dari SAU memperlihatkan kebolehannya dalam memainkan angklung dan ragam kesenian. Bagian yang paling menarik adalah ketika pengunjung dan tamu undangan diajak bermain angklung.

Uniknya, para pengunjung mayoritas tak bisa bermain angklung. Namun, instruktur dari SAU memberi pelatihan singkat dengan gaya santai dan bersahabat. Dalam waktu sekejap, mereka pun bisa bermain angklung dan memainkan beberapa lagu dengan kompak.

Ketua H3B Ricky Sugiarto mengatakan pagelaran itu merupakan langkah awal sebagai bagian untuk menyelamatkan keberadaan SAU. Mereka yang hadir di lokasi pun diajak untuk menyebarkan apa yang dilihatnya melalui media sosial dan orang-orang yang dikenal. Tujuannya agar publik tahu bahwa SAU masih ada dan perlu dukungan berbagai pihak untuk bangkit.

Ke depan, beberapa langkah akan disiapkan H3B untuk membuat SAU bisa beraktivitas kembali seperti dulu. Misalnya dengan mendatangkan para tamu hotel ke sana. "Nanti ke depan kita ingin setiap hotel di Bandung ini meng-create package (tamu hotel diajak ke SAU)," ucap Rikky.

Namun, untuk paket yang ditawarkan bagi tamu hotel menurutnya akan tergantung dari masing-masing manajemen, termasuk skema kunjungan ke SAU. Yang terpenting, setiap hotel nantinya diharapkan bisa berkontribusi untuk membuat SAU kembali 'hidup'.

Taufik sendiri menyambut positif soal rencana yang akan digulirkan H3B untuk menyelamatkan H3B. Sebab, SAU memang perlu dilestarikan keberadaannya. Agar bisa dilestarikan, aktivitas di SAU harus bisa berjalan.

"Saya juga sedang berjuang untuk kolaborasi dengan banyak pihak (untuk mempertahankan keberadaan SAU)," ungkap Taufik.

Di tengah kondisi yang tak menentu, ia pun tetap punya optimisme besar bahwa SAU akan kembali bangkit. Apalagi, saat ini program vaksinasi COVID-19 sudah berjalan dan berbagai program pemulihan sedang dilakukan pemerintah di berbagai sektor. "Saya tetap optimistis," tandas Taufik.

Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler