Kolaborasi Seni Ciamik dalam Pagelaran 'Natas Nitis Netes'

Bandung - Memperingati hari pantomim Internasional pada 22 Maret, digelar sebuah pertunjukan berjudul 'Natas Nitis Netes' di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jl. Garut No. 2 Bandung pada Senin (22/2/2021). Pagelaran ini menampilkan karya seniman pantomim Wanggi Hoed, dengan kolaborator Mirna Nurmala (akapela), Mimichio (Penari) dan Ratimayya (Pendongeng).

Peringatan hari pantomim internasional ke-10 ini mengangkat tema 'Post Isolation, Breath of Freedom', sedangkan 'Natas Nitis Netes' itu sendiri berangkat dari filosofi Jawa, yang mana dalam pertunjukan tersebut, para seniman coba menampilkan cerita tentang ketakutan dalam diri dan upaya untuk bertahan dari ketakutan tersebut. Secara keseluruhan, isu yang coba disajikan lewat media pertunjukan itu sendiri merupakan isu lingkungan.

Pertunjukan dibuka dengan penampilan dongeng Ratimayya. Pendongeng wanita ini mengisahkan kehidupan biota laut seperti Plankton dan banyak ikan-ikan yang menderita karena kondisi laut yang disesaki oleh sampah plastik. Enggak bisa dipungkiri, apapun jenis sampahnya, sampah itu berasal dari kegiatan manusia selama semusim terisolasi di rumah.



Baca Ini Juga Yuk: Hotelier Bandung Bantu Saung Udjo Bangkit dari 'Mati Suri'

Setelah penampilan dongeng, suasana magis kemudian dibangun oleh lantunan vokal dari Mira Nurmala. Pada bagian ini, Mira melanggamkan vokal dan bebunyian dari mulutnya. Sesekali, ia melanggamkan suara falset, dan sesekali pula ia membuat efek suara dari tenggorokan. Efek suara itu makin terasa magis karena ia memainkan alat semacam looper dan efek pedal untuk suara.

Tampilan akapela dari Mira itu kemudian mengiringi tarian dari Mimichio dan adegan pantomim yang dimainkan Wanggi. Dalam penampilannya, Wanggi mengisahkan seseorang yang sedang bekerja di malam hari dan menemukan sebuah benda yang membuat si pekerja ini merasa ketakutan. Antara musik akapela, tarian, dan pantomim, ketiganya menampilkan nuansa magis di dalam Perpustakaan Ajip Rosidi.

Puncak dari penampilan diakhiri dengan adegan bersama keempat penampil dengan memperagakan gerakan pantomim. Enggak lupa, tampilan lampu karya Zamzam Mubarok.


Setelah pertunjukan, Wanggi Hoed menyebut pertunjukan ini bermakna tentang merawat kehidupan. Sebab, dalam tiap elemen kehidupan, selalu ada interaksi yang saling memberi manfaat satu sama lain.

"Natas Nitis Netes itu filosofi Jawa yang kini sudah digunakan oleh masyarakat dunia. Artinya kita hidup karena Tuhan, bersama-Nya kita hidup, dan kepada-Nya kita kembali kelak," ujar Wanggi kepada Beritabaik.id.

Setelah itu, ia menjelaskan pula tentang alur cerita yang dimainkannya, yang mana ada pekerja malam yang membereskan sebuah ruangan. Menurut Wanggi, kadangkala manusia kerap membuat ketakutan untuk dirinya sendiri. Pertunjukan ini juga coba menyampaikan maksud agar manusia tersebut bisa menyusun strategi untuk melawan ketakutan dari dalam dirinya dan dari serangan yang muncul.

Sebagai penutup, Wanggi berharap ekosistem pantomim khususnya di Indonesia bisa terus bertumbuh lebih baik lagi. Ia juga mengajak kepada siapapun yang ada dalam ekosistem pantomim ini untuk terus berkarya dan berkolaborasi.

"Teruslah berkarya, berpantomim di ruang-ruang, dan terus berkolaborasi. Itu satu hal yang sulit, tapi harus dicoba. Benturkan, benturkan, benturkan. Dan hasilnya akan beradaptasi dengan sendirinya," tutup Wanggi.

Foto: Djuli Pamungkas/Beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler