Ridwan Iwonk Sajikan Interpretasi Luar Biasa Tentang Paku

Bandung - Ada pameran seni keren yang dibuat oleh seniman Ridwan Solehuddin (Iwonk) bersama Griya Seni Popo Iskandar (GSPI). Pameran bertajuk 'Become A Nail' ini menghadirkan sudut pandang lain dari benda paku.

Pameran yang digelar secara virtual ini menjadi pengalaman pertama kami menghadiri pameran daring. Karena sebelumnya beberapa kali memotret dan mengikuti pameran di Griya Popo Seni Iskandar, Jl. Setiabudi No. 235B, kami seolah familiar dengan suasana galeri seni tersebut.

Lewat perangkat komputer, kami seolah menjelajahi area pameran di Griya Seni Popo Iskandar. Merujuk pada katalog elektronik, sebanyak 91 karya dipamerkan secara daring dalam 'Become A Nail'.

Imajinasi Ridwan terhadap bentuk visual dari paku itu sendiri begitu liar. Bayangkan saja, paku yang dianggap sebagai benda tajam, bahkan enggak dilirik sebagai sesuatu yang berarti oleh kita, berubah menjadi sesuatu yang romantis dan punya nilai visual tinggi di tangan Ridwan. Dalam sesi bincang artis, seniman yang akrab disapa Iwonk ini mengaku bidang artistik yang digelutinya banyak memberi inspirasi untuk pameran tunggal ini.


Baca Ini Juga Yuk: Hore! UWRF 2021 Kembali Hadir dengan Tema 'Mulat Sarira' 

Menariknya, dalam sesi bincang-bincang di Instagram tersebut, Ridwan mengaku dirinya sampai dicandai dekat dengan dunia mistis yakni santet. Apalagi alasannya kalau bukan karena kesukaannya terhadap obyek paku, yang kemudian ia jadikan karya lukis. Di sisi lain, ia merasa cukup terganggu akan stigma paku di masyarakat sebagai benda tajam. Selain itu, sosok Ridwan memang dikenal karena obyek gambarnya yang selalu menampilkan paku.

"Jadi kayak apa perlu aku romantisasi si paku ini biar paradigma temen-temen enggak melulu tentang hal-hal negatif? Kadena kan paku itu sendiri konotasinya itu sesuatu yang bisa bikin ban motor atau mobil kempes, terinjak oleh kaki, atau santet," katanya.

Selain itu, ia juga menyoroti bahwasannya benda paku secara artefak telah menjadi pemisah antara tradisional dan modern. Jika  di tradisional kita mengenal fase, maka di fase modern kita mengenal paku.

Romantisasi dan pengembangan perspektif mengenai paku itu sendiri hadir dalam berbagai medium dan warna. Ada yang disajikan dalam format monokrom yang dramatis, atau penuh warna dan suasana. Boleh jadi, agak sulit membayangkan visual paku akan dibuat menjadi seperti karya Ridwan.

Dalam pengantar pameran, Gilang Mustofa selaku kurator melihat dari itu karya-karya gambar Ridwan yang banyak menampilkan paku sebagai obyeknya, ada makna lain di balik kehadiran benda tersebut dalam kehidupannya. Hal itu tercermin dari eksplorasi bentuk paku dalam visual yang disajikan.

"Paku menjadi analogi yang Iwonk pakai sebagaimana ia memahami dirinya dan lingkungannya, bentuk paku yang bengkok ia sadari seperti halnya sosok individu yang telah gagal menjadi hakikatnya individu itu, namun disatu sisi kegagalan bisa berarti sebagai pilihan untuk dibangun ulang seperti paku bengkok yang bisa dipukul kembali menjadi lurus," tulis Gilang.

Melalui pameran virtual ‘Become a Nail’ Ridwan coba membangun ruang dialog virtual bagi publik dengan karya-karyanya. Bagi Ridwan, kita semua adalah paku-paku dengan segala bentuk, kondisi, tugas dan peranannya dalam kehidupan. Bukan sembarang paku yang terserak, namun paku yang ditancapkan dengan sudut dan kedalaman yang melalui proses perhitungan sehingga kehadirannya dapat memberikan dampak, juga menjadi tolak ukur dalam menancapkan kembali paku-paku berikutnya.

Pameran virtual ini tersaji dalam bentuk serupa video permainan. Ridwan menaruh tautan di bio Instagramnya @art_wonk berisi tempat penyimpanan. Di sana, ada beberapa data mulai dari katalog digital sampai folder 'Play Virtual'. Kita perlu menunggu beberapa saat untuk terkoneksi dan seolah berada di Griya Seni Popo Iskandar dan menikmati pameran.

Selain sarat makna yang keren, pameran ini juga menampilkan visual ciamik dan sayang banget kalau kamu melewatkannya! Selamat mengapresiasi, TemanBaik!

Foto: Tangkapan Layar Pameran 'Become A Nail'

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler