Ragam Spektrum Keislaman dalam Pameran Seni 'Tepi Kejernihan'

Bandung - TemanBaik, ada pameran seni keren nih di Gelanggang Olah Rasa. Bertajuk 'Tepi Kejernihan', pameran seni ini coba menampilkan ragam spektrum keislaman, baik yang beraliran moderat ataupun konvensional dalam satu ruang.

Beritabaik.id punya dua kali kesempatan untuk mengunjungi pameran pada Rabu (28/4/2021) dan sepekan kemudian, Selasa (4/5/2021). Setibanya di lokasi pameran, kami dibuat terkesima dengan beberapa karya yang disajikan pameris. Saat dijumpai di lokasi pameran, Doni Ahmad selaku kurator pameran menjelaskan arti di balik 'Tepi Kejernihan'.

"Harapannya sih kalau ada anggapan Islam itu antara hitam dan putih, anggapan itu pudar. Sebenarnya bukan perspektif baru sih, lebih ke mencari keabu-abuan biar perspektif Islam ini enggak terlalu runcing," ujar Doni.

Pameran ini menampilkan enam orang seniman, antara lain: Anggawedhaswara, Asti Elmanisa, Ferial Afiff, Patriot Mukmin, Radhinal Indra, dan Zico Albaquni. Karya-karya dalam pameran ini cenderung nyentrik. Boleh jadi, kita perlu waktu lebih dari satu kali untuk mencerna karya-karya yang dipamerkan dalam ‘Telaga Kejernihan’. Berbagai media seni mulai dari lukis, fotografi, hingga seni 3 dimensi hadir di sini. 


Baca Ini Juga Yuk: Nilai Juang dan Contoh Baik dalam Memoar 'Terdidik'

Misalnya pada karya tokoh pemimpin bangsa yang digambarkan sebagai kyai. Saat kami berbincang dengan Doni, dua karya Zico Albaquni ini disebut-sebut merupakan respons seniman terhadap Ayat 56 dari Surat Al-Maidah. Dua pemimpin ternama di Indonesia ini digambar ulang seolah menjadi tokoh 'aulia' atau pemimpin.

"Enggak ada maksud apapun. Dalam tradisi image making di Indonesia tuh ada yang namanya lukisan ajengan. Nah, kita pakai pendekatan ini. Saat nanti ada pihak yang beranggapan: 'wah, ini kan bukan aulia. Ini mah politisi. Kayaknya enggak perlu deh dibuat begini.' ya lalu kenapa harus ada persoalan antara pemimpin politik sama ayat ini?," tambahnya.

Nilai keabu-abuan yang dimaksud dalam karya lukisan dua pemimpin negara tadi terletak pada fakta yang semestinya kita terima. Di sisi lain, mereka pun memilih tokoh-tokoh yang memang cocok untuk digambarkan seperti ‘aulia’. Secara eksplisit Doni menyebut dua orang yang dilukis ini adalah tokoh berpengaruh dan dimuliakan, bukan meng-‘aulia’-kan orang sembarangan.

"Apakah dua pemimpin ini jadi turun martabatnya saat kita lukis seperti ini? Sebetulnya kan enggak. Di kalangan pesantren, aulia itu adalah yang dimuliakan," katanya.

Karya lainnya adalah 'Al Fatihah' yang merupakan kaligrafi anyaman karya Patriot Mukmin. Ia menjahit ayat pertama sampai ketujuh Surat Alfatihah ke dalam gambar. Dalam karya ini, ia menggambarkan ayat Alquran dan militer yang kerap menjadi sensor yang menyembunyikan keaslian tokoh di balik sensor tersebut.

Karya berikutnya yang menjadi sorotan adalah sebuah karya yang menggambarkan bulan yang diapit dua mimbar. Mereka coba menggambarkan kondisi saat awal Ramadan, yang mana selalu terdapat perbedaan awal Ramadan dan awal bulan Syawal. Kedua mimbar yang dimaksud ini coba merepresentasikan perbedaan dua pihak yang menunjukkan dalil, namun sayang dalil keduanya terhalang bulan.

Secara keseluruhan, dua hal yang coba disoroti oleh pameran ini antara lain berbicara tentang kekhawatirannya terhadap sensor diri publik seni saat hendak berkarya dengan mengusung tema keislaman. Di sisi lain, Doni bersama para seniman coba membuka mata audiensnya, bahwa Islam di Indonesia bukanlah tentang hitam atau putih.

Saat ditanya mengenai keterkaitan pameran dengan bentuk kebebasan berekspresi, Doni menanggapi kebebasan berekspresi itu dari sudut pandang keislaman yang dipelajarinya. Berdasarkan sumber yang pernah ia baca, kebebasan berekspresi dalam Islam masuk ke dalam nasihat. Nah, nasihat yang dimaksud ini adalah hak untuk memberi dan menerima nasihat.

"Nasihat itu haknya tiap Muslim. Jadi enggak bisa dilarang-larang," terangnya.

Sebagai pamungkas, Doni berharap lewat pameran ‘Tepi Kejernihan’ ini, paling tidak di masa yang akan datang, keresahan-keresahan yang disampaikannya bersama para seniman sudah enggak lagi menjadi bentuk keresahan karena sudah terselesaikan. Dalam paparan singkatnya, ia berharap semua pihak bisa segera move on untuk mengurusi permasalahan yang lebih kompleks lagi.

TemanBaik, pameran seni 'Tepi Kejernihan' masih bisa kamu saksikan di Gelanggang Olah Rasa hingga waktu Lebaran atau Hari Raya Idulfitri tiba. Jangan lewatkan kesempatan datang ke pameran seni keren ini, ya! 

Foto: Rayhadi Shadiq/Beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler