Menyusuri Telaga Waktu Lewat Novel 'Funiculi Funicula'

TemanBaik, pernah dengar istilah time traveller atau seseorang yang berjalan ke masa lampau atau masa depan? Kalau kamu bermimpi melakukannya, ada novel keren yang mesti kamu baca.

Jakarta - Ya, judulnya 'Funiculi Funicula' karya Toshikazu Kawaguchi. Ini adalah salah satu karya literatur Jepang yang diterjemahkan dan terbit di Indonesia di bawah naungan Gramedia Pustaka Utama. Apa lagi yang istimewa dari novel ini selain perjalanan menyusuri waktu alias time travel?

Perjalanan menyusuri waktu memang kerap jadi perbincangan akhir-akhir ini. Banyak orang yang membayangkan alangkah beruntungnya kalau manusia punya kemampuan menjelajah waktu, termasuk hal-hal yang ingin dicapai jika bisa terwujud. Ide-ide tersebut kemudian menginspirasi penciptaan karya fiksi, film, musik, dan lainnya.

Secara garis besar, novel ini menawarkan alur cerita menarik tentang sebuah kedai kopi di Tokyo yang memungkinkan pengunjungnya melakukan perjalanan lintas waktu atau time traveling. Namun, ada berbagai peraturan dalam menjalani misi perjalanan tersebut. Rentetan peraturan inilah yang menjadi bumbu keseruan perjalanan lintas waktu tersebut.


Baca Ini Juga Yuk: Ragam Spektrum Keislaman dalam Pameran Seni 'Tepi Kejernihan'

Terkait novel 'Funiculi Funicula', Kartika Eka Nurinindita selaku editor bidang fiksi di Gramedia Pustaka Utama menyebut Toshikazu Kawaguchi sebagai kreator coba menjadikan imajinasi mengenai pelesir waktu menjadi sebuah pertunjukan teater, yang kemudian dialihwahana menjadi novel. Alih-alih meramu cerita petualangan yang tipikal fiksi ilmiah, ia justru menulis rangkaian kisah yang lebih humanis, menggunakan latar sebuah kafe tua di Jepang dan pengalaman emosional orang-orang di dalamnya.

Sebagai informasi, 'Funiculi Funicula' adalah novel pertama Toshikazu Kawaguchi yang diadaptasi dari pertunjukan teater garapannya bersama 1110 Productions. Pertunjukan ini memenangkan penghargaan utama dalam Festival Teater Suginami Kesepuluh. Kisahnya tentang empat orang berbeda yang mencoba tawaran menjelajah waktu di kafe Funiculi Funicula.

Walaupun terdengar menarik, tetapi tidak banyak yang mau mencoba tawaran tidak lazim ini dikarenakan peraturannya yang tidak mudah. Pertama, pengunjung harus duduk di kursi tertentu. Kedua, tidak boleh meninggalkan tempat duduk sampai perjalanan waktunya selesai. Ketiga, harus kembali sebelum kopi mendingin. Jika tidak dipatuhi mereka akan mendapatkan konsekuensi yang menyedihkan.

"Ceritanya kemudian menjadi emosional karena kita diajak bertemu empat orang yang rela mengambil risiko dari peraturan yang ada. Mengenal seorang perempuan yang mau menemui kekasihnya sebelum pergi ke luar negeri, istri penderita Alzheimer, kakak yang tidak ingin kehilangan adiknya, serta ibu yang belum pernah bertemu anaknya. Toshikazu Kawaguchi mampu merangkai alur cerita dengan menarik," beber Nindy terkait alur cerita novel ini.

Terbitnya novel 'Funiculi Funicula' juga menambah daftar judul AsianLit yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama (GPU). Setelah meledaknya penjualan novel Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982 pada akhir 2019, rencana penerbitan di genre ini terus berkembang. Kabarnya, bakal ada 20 judul AsianLit GPU yang siap terbit di tahun 2021.

TemanBaik, untuk menemani waktu senggang di hari cutimu, rasanya seru juga mengikuti perjalanan lintas waktu ala ‘Funiculi Funicula’. Dapatkan novelnya di toko buku kesayanganmu, ya!

Foto: Dok. Gramedia Pustaka Utama


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler