Pameran Seni "Tanpa Pesan" dalam Medium Flexing Arena

Bandung - TemanBaik, pameran seni pada umumnya menampilkan karya yang sudah jadi dibuat. Namun, apa jadinya jika karya yang masih dalam proses pengerjaan justru malah dipamerkan ke publik?

Hal itu yang coba dilakukan 6 seniman; Abshar Plastisza, Bandu Darmawan, Bintang Heru, Eldwin Pradipta, Hilma Sophia, Ilham Akbar, dan Tomy Herseta. Melalui pameran bertajuk 'Medium Flexing Arena', mereka coba mengeksplorasi proses berkarya visual sebagai bahan yang dipamerkan. Para pameris menyebut, hal ini boleh jadi suatu dobrakan, sebab pameran seni itu sendiri saat ini identik dengan karya jadi yang dipamerkan.


Keenam seniman mengeksplorasi media baru sebagai wadah berkarya. Sepintas, kita tidak akan mengenali dan langsung bisa mencerna makna dari tiap karya yang ada. Namun, di balik kesan absurd yang nampak, ada latar belakang menarik dan pengalaman baru yang bisa kita dapatkan.

"Memang kayak masih perlu instruksional gitu untuk menikmati karyanya," ujar Eldwin saat mendampingi kami berkeliling dan menikmati karya di Gelanggang Olah Rasa, Kamis (3/6/2021).

Di sudut lainnya, ada pula karya media baru yang menampilkan mikroskop dan layar "jadul". Sepintas, kami mengira ini adalah tampilan bakteri yang dipamerkan menjadi karya. Namun, nyatanya itu hanyalah layar LCD jadul biasa. Bandu Darmawan, pameris lainnya yang mendampingi kami menyebut, memang bentuk piksel dalam layar itulah yang coba dipamerkan menjadi sebuah karya.



Baca Ini Juga Yuk: 'Terapi Jiwa', 30 Hari Menggambar ala Yuki Agriardi

Bandu kemudian memperkenalkan karyanya yang menampilkan tema jendela, petir, serta hujan. Ia mengelaborasi elemen suara dan gambar untuk menghasilkan karya media baru tersebut. Satu unit televisi layar datar disulap menjadi medium dengan bentuk portrait menyerupai jendela. Elemen lainnya ia tambahkan agar televisi tersebut bisa berperan sebagai jendela.

Lalu ada pula sebuah papan hitam yang tak nampak seperti sebuah karya. Setelah ditelisik, rupanya papan hitam itu adalah sebuah karya, yang mana karya itu tersembunyi sebab mediumnya adalah alat kedap cahaya yang diterpa cahaya dari proyektor. Saat ada benda lain di depannya, barulah kita bisa menikmati sajian visual, yang kami tangkap menampilkan nama senimannya: Bintang Heru.

Masih ada lagi karya dari sebuah kamera yang disetel sehingga bisa menangkap cahaya dari infra merah. Eldwin selaku pameris menyebut, dirinya coba mengeksplorasi cahaya yang biasa digunakan oleh seniman saat berkarya.

Para pameris menyebut, sajian ini menawarkan pengalaman baru dalam menikmati visual bagi pengunjungnya. Di luar aliran seni rupa yang menampilkan keindahan realistis yang mampu diterjemahkan satu tafsir oleh penikmatnya, keenam seniman hadir menampilkan visual tidak realistis. Kendati terjadi multitafsir dalam karya ini, namun tetaplah kita mendapat pengalaman baru dalam menikmati seni visual.

"Kita enggak mikirin isi pesan, bentuk, konsep. Enggak ke sana dulu," terang Bandu.

Demikian pula dengan media berkaryanya, yang kebanyakan menggunakan alat-alat lawas. Mereka menyebut alat-alat lawas itu digunakan karena alat itulah yang mereka punya dan ingin eksplorasi.

TemanBaik, selagi masih ada waktu untuk merasakan pengalaman baru menikmati pameran seni visual, enggak ada salahnya datang langsung ke Gelanggang Olah Rasa dan ngobrol bareng mereka mengenai karya-karyanya. Jangan sampai terlewatkan, ya.

Foto: Rayhadi Shadiq/Beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler