Ini 10 Pemenang Program Penulis Emerging di UWRF 2021

Ubud - Ubud Writers & Readers Festival (URWF) mengumumkan 10 nama yang terpilih sebagai pemenang dalam program Penulis Emerging. Para pemenang nantinya akan menjadi bagian dalam gelaran festival yang digelar pada Okober mendatang.

Kesepuluh nama tersebut antara lain, Muhammad Ade Putra (penyair asal Kampar, Riau), Ni Wayan Idayati (penyair asal Bali), Gody Usnaat (penyair asal Kefamenanu, Nusa Tenggara Timur), Liswindio (penyair asal Bogor, Jawa Barat), Stebby Julionatan, (penyair asal Probolinggo, Jawa Timur), Eki Saputra (cerpenis asal Prabumulih, Sumatera Selatan), Intan Andaru (cerpenis asal Banyuwangi, Jawa Timur), Setyaningsih (esais asal Boyolali, Jawa Tengah), Wayan Sumahardika (penulis naskah drama asal Bali), dan Tias Yuliana (novelis asal Sidoarjo, Jawa Timur).

Mereka terpilih setelah sebelumnya menjalani proses kurasi sejak 21 April hingga 21 Mei 2021. Selama proses kurasi, tercatat ada 555 karya dari 468 penulis di pelosok Indonesia.

Pada edisi tahun ini, Program Penulis Emerging menerapkan dua kali proses kurasi, yakni prekurasi oleh Christina M. Udiani (editor senior Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta), Warih Wisatsana (Penyair, Bali), Kadek Sonia Piscayanti (Sastrawan dan akademisi, Bali), Darmawati Majid (Pegiat literasi, Gorontalo), serta Virania Munaf (Pemerhati literasi, Sydney - Australia). Mereka menyeleksi 555 karya dengan rincian 231 puisi, 214 cerpen, 60 esai, 29 novel, dan 21 naskah drama. Seluruh naskah yang terkirim merespons tema krisis iklim di berbagai daerah berikut daya tahan komunitas setempat dalam menghadapinya.

Baca Ini Juga Yuk: 200 Batik Papua Siap Nampil dan Meriahkan PON XX

Kadek Sonia Piscayanti selaku juri prekurasi menyebut dalam UWRF 2021 ini terdapat keluasan dan keberagaman karya secara tema, jenis, dan lokalitas yang ditawarkan.

"Para juri pre-kurasi menimbang beberapa hal yang perlu dicatat dalam konteks penilaian yaitu novelty (kebaruan), creativity (eksplorasi bahasa), dan locality (tema kedaerahan)," ujar Sonia dalam keterangan resmi yang diterima oleh Beritabaik.id.

Novelty mencakup kebaruan dari segi penawaran cerita maupun garapan sudut pandang baru yang diuji pula dengan konsistensi kualitas karya. Creativity mencakup kreativitas eksplorasi bahasa yang dikemas sedemikian rupa sehingga mampu menimbulkan sebuah keutuhan karya yang berkualitas.

Sedangkan locality (tema kedaerahan) menawarkan sebuah prinsip culturally-rooted literature atau sastra yang berakar pada tanah lahirnya dan budaya yang membentuknya, sehingga kualitas suara orisinalitas itu dapat dirasakan. Terdapat 50 karya yang lolos di tahap ini untuk melenggang ke tahap kurasi.

Setelah proses pre-kurasi, tahap kedua ialah kurasi akhir yang melibatkan para kurator akhir, yakni Oka Rusmini (Sastrawan, Bali), Joko Pinurbo (Sastrawan, Yogyakarta), serta Kadek Sonia Piscayanti sebagai perwakilan juri prekurasi. Dalam tahap ini mereka memilih secara lebih cermat 10 penulis emerging Indonesia yang akan berpartisipasi dalam program UWRF.

Setiap karya telah dibaca ulang dan didiskusikan oleh para kurator, baik mengenai tema, pemilihan kata dan diksi, serta aspek kesusastraan lainnya. Sejalan dengan komitmen UWRF untuk menempatkan kualitas karya sebagai parameter yang paling utama dalam proses seleksi, tahun ini UWRF kembali hanya memilih karya-karya terbaik saja.

Oka Rusmini selaku kurator akhir menyatakan, 'Mulat Sarira' yang menjadi napas penyelenggaraan UWRF telah mampu diterjemahkan secara matang oleh para peserta. Ia juga menyebut para peserta mengangkat ekologi bukan hanya sebagai tema, melainkan diolah secara mendalam selaras konteks kenyataan di wilayahnya.

"Sejauh yang bisa saya lihat, para penulis yang terpilih ini sanggup mengolah tema secara apik, di mana tema maupun kekaryaan seiring sejalan," ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama, kurator akhir lainnya, Joko Pinurbo mengungkapkan apresiasinya bagi para penulis emerging. Dia mencatat nuansa keprihatinan sosial muncul dalam banyak karya. Pengarang juga mengeksplorasi kekayaan lokal secara kreatif, tidak hanya menjadikannya tempelan, sehingga menjadi alat ucap yang mengandung kedalaman makna.

Joko juga merefleksikan kesadarannya, bahwa Indonesia memang kompleks dan para pengarang bisa menunjukan masalah krusial yang mendasar dan menjadikannya inspirasi untuk eksplorasi lebih lanjut.

"Unsur lain yang bagi saya menarik ialah perihal kompleksitas isi: bagaimana melalui ruang yang sempit, kompleksitas tema bisa dieksplorasi sehingga punya perspektif yang baru," tambah Joko.

Wadah untuk Karya Berkualitas
Sebagai informasi, Penulis Emerging adalah program yang ditujukan untuk menemukan calon bintang-bintang sastra muda Indonesia ini sudah diadakan setiap tahun sejak 2008. Emerging adalah istilah yang digunakan oleh UWRF untuk para penulis Indonesia yang memiliki karya berkualitas namun belum memperoleh publikasi yang memadai.

Sebagai salah satu komitmen Yayasan untuk memberikan ruang dan menghadirkan karya-karya anak bangsa ke hadapan dunia internasional, Festival juga akan menerjemahkan karya-karya terpilih penulis emerging yang telah lolos seleksi tersebut ke dalam bahasa Inggris. Karya-karya mereka juga akan dibukukan dan diterbitkan ke dalam buku antologi dwibahasa yang akan diluncurkan pada Ubud Writers & Readers Festival.

"Ada representasi menarik dari anak muda Indonesia dari seluruh nusantara dengan berbagai karya menarik yang membahas tema perubahan iklim. Kami juga bangga dapat menawarkan kepada mereka beberapa lokakarya dengan penulis hebat dari University of Iowa, Amerika Serikat," tutur Janet DeNeefe, selaku Pendiri dan Direktur UWRF.

Dalam situasi pandemi COVID-19, panitia mengupayakan hadirnya program yang terbaik bagi tiap peserta terpilih, semisal lokakarya bersama para mentor berikut penerbitan karya secara daring. Partisipasi peserta secara langsung di lokasi festival akan dipertimbangkan mengingat kondisi finansial serta ketentuan penyelenggaraan yang kondusif semasa pandemi.

Seleksi Penulis Emerging Indonesia ini telah sukses memperkenalkan penulis-penulis Indonesia ke kancah internasional. Banyak di antara para alumni Seleksi Penulis Emerging Indonesia yang terus konsisten berkarya dan menjadi sosok berpengaruh di dunia sastra Indonesia dan internasional. Beberapa alumni Seleksi Penulis Emerging Indonesia ini adalah M. Aan Mansyur (2009), Kurnia Effendi (2010), Avianti Armand (2011), Aprila R.A Wayar (2012), Mario F. Lawi (2013), Faisal Oddang (2014), Norman Erikson Pasaribu (2015), Soetan Radjo Pamoentjak (2016), Ibe S. Palogai (2017), Andre Septiawan (2018), Chandra Bientang (2019), dan masih banyak lagi.

Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) ke-18 bakal kembali diselenggarakan secara daring dan on-site di Ubud, Bali, pada tanggal 8-17 Oktober 2021 mendatang. Jangan sampai lewatkan keseruannya, ya!

Foto: Dok. Ubud Writers & Rewaders Festival/Fotografer- Anggara Mahendra

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler