Feminisme dan Semangat Juang dalam Pameran Tunggal Tjutju Widjaja

Bandung - Seniman Tjutju Widjaja menggelar pameran tunggal bertajuk 'Sumarah' di Selasar Sunaryo Art Space, Kota Bandung. Pameran ini menampilkan nilai feminisme untuk menginspirasi pengunjungnya.

Lewat karya lukisnya, Tjutju coba menghadirkan semangat Sri Sumarah yang merupakan tokoh dalam cerpen karangan Umar Kayam. Dalam cerpennya, Kayam menggambarkan Sri Sumarah sebagai perempuan yang menerima ajaran khas Jawa, menjelang pernikahannya. Mengikuti perjalanan hidup Sri Sumarah, makna 'Sumarah' bukan lagi sekadar pasrah menerima, lebih dari itu sumarah adalah laku ikhlas.

Selain semangat Sri Sumarah, disertasi Tjutju berjudul 'Representasi Feminisme Kelenteng Perempuan dan Zhai Ji di Bandung' pada Program Studi Doktor Ilmu Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (ITB), juga jadi salah satu latar belakang yang terkait dengan karyanya. Ia meraih gelar doktor pada usia menjelang 80 tahun.

Dalam penelitiannya, Tjutju menulis Zhai Ji adalah pendeta perempuan yang berbakti di Kelenteng Perempuan. Kelenteng ini khas, sebab menampung para perempuan yang terusir dari keluarga karena berbagai alasan.

Lebih jauh lagi, penelitian Tjutju mengungkapkan, bagi perempuan-perempuan tersebut tidak ada lagi kebebasan menjalani kehidupan personal, melainkan menjadi pelaksana ritual keagamaan dan mempraktikkan laku pelayanan tanpa pamrih.

Baca Ini Juga Yuk: 'The Lyrics of Self Acceptance', Cara Berdamai Lewat Seni

Bagi Tjutju, ini hal yang luar biasa: terbuang dari keluarga justru tidak membuat para pendeta perempuan menjadi pendendam. Sebaliknya, mereka rela memberikan hidupnya jadi pelayan umat. Perilaku yang luar biasa. Perilaku inilah yang kemudian disarikan menjadi sejumlah frasa dan kata, yang dianggap merepresentasikan semangat, spirit, atau inti.

Lewat karya dalam pameran tunggalnya, Tjutju coba menginterpretasikan feminisme perjuangan, khususnya pada masyarakat Tiongkok. Berangkat dari sistem patriarki yang pernah berlaku zaman dahulu dalam narasi Sri Sumarah, Tjutju menggali lagi dan mendapatkan emosi yang kemudian dituangkan ke dalam lukisan.

Karya-karya Tjutju coba mengangkat tiga isu mengenai feminisme. Pertama, soal diaspora dan perpaduan budaya Tionghoa di Nusantara, lebih tepatnya di Bandung. Kedua, isu perempuan dan gender. Ketiga, tentang lukisan kaligrafi dan abstrak. Secara menyeluruh, Tjutju sebenarnya membuat seri karya abstrak, semi abstrak, juga kaligrafi.

"Sumarah lalu diambil jadi judul pameran, untuk memberi tekanan pada semangat tersebut. Cara kerja Tjutju Widjaja, mulai dari merumuskan sejumlah kata dan frasa yang dianggap menggambarkan akhlak para Zhai Ji atau laku sumarah itu," tulis Heru Hikayat, kurator pameran 'Sumarah' dalam pengantarnya.

Kata dan frasa disajikan melalui sapuan kuas pada bidang gambar menjadi kaligrafi dengan keterampilan khas yang dipelajari melalui disiplin ketat. Tjutju menyapukan kuas pada bidang kanvas berlapis kertas xuan, dengan gestur bebas. Artinya, tidak melulu mengikuti pakem tradisi kaligrafi Tiongkok.

Baca Ini Juga Yuk: Jejak Perjalanan Ki Manteb, Dalang Ikonik yang Nyentrik

Kaligrafi bebas ini adalah lapis pertama lukisan. Gestur bebas datang dari penghayatan atas kisah hidup dan akhlak para Zhai Ji. Penghayatan atas semangat seorang Sumarah.

Pada lapis kedua, sapuan kuas lebih bebas lagi menggelorakan semangat. Hingga lapisan ketiga adalah sapuan kuas yang mengemuka meninggalkan seluruh latar itu.

"Semua itu adalah latar, narasi di belakang. Yang terdepan adalah sapuan kuas, dengan gestur yang menghayati. Sapuan kuas Tjutju Widjaja. Kuat sekaligus lembut. Meledak sekaligus terkendal," tutup Heru.

TemanBaik, kamu masih bisa mengunjungi pameran ini hingga 5 September 2021 mendatang. Jadi, jangan sampai terlewatkan! Oh ya, terapkan protokol kesehatan saat main ke pameran ya! Biar kita semua sama-sama nyaman. Selamat mengapresiasi!


Foto: Rayhadi Shadiq/Beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler