Kebaruan Media Fotografi dalam 'Welcome to The Machine'

Bandung - Sajian visual keren hadir di Orbital Dago, Kota Bandung. Bertajuk 'Welcome to The Machine', pameran seni ini coba membongkar genetik dan DNA fotografi serta mengelaborasinya dengan medium seni rupa lain.

Masuk dalam rangkaian Bandung Photography Treinnale, pameran fotografi ini menampilkan enam seniman: Asmujo Jono Irianto, Angga Aditya Atmadilaga, Oco Santoso, Patriot Mukmin, Dikdik Sayahdikumullah, serta Willy Hermawan.

Mereka menyajikan karya-karya yang tidak hanya berkutat di wilayah representasi permasalahan sosial, tetapi juga memuat kritik tersendiri.

Dalam pengantar pameran, Henrycus Napitsunargo selaku kurator 'Welcome to The Machine' menyebut, pameran ini mencoba menampilkan bagaimana genetik dan 'DNA' fotografi dibongkar menjadi beberapa fragmen. Kemudian dilakukan defragmentasi kembali serta dikolaborasikan dengan medium seni lainnya.

Perkembangan teknologi juga banyak memberi intervensi dalam proses elaborasi karya berbasis fotografi untuk memutakhirkan wacana kritik dan mediumnya. Ada semacam keresahan, gugatan, kritik, maupun otokritik yang tersirat jelas pada karya-karya dalam pameran ini.

"Dalam praktek seni berbasis fotografi hari ini, kecerdasan seniman mengurai dan membentuk kembali genetik medianya menjadi poin penting dalam proses berkarya. Sifat materialitas dan imaterialitas yang dimiliki oleh fotografi juga dimanfaatkan sebagai sarana hibridisasi dengan sifat atau karakter medium yang lain," tulisnya.

Baca Ini Juga Yuk: Mural Sarat Pesan dari Mahavisual dan Stereoflow

Secara singkat, para penampil coba membawakan ide dengan keunikan dan karakternya. Pertama, ada karya Asmudjo J. Irianto yang coba mengangkat persoalan antroposen.

Ini menunjukan aktivitas manusia memiliki pengaruh global terhadap ekosistem bumi. Kehidupan manusia yang memiliki sistem artifisialnya sendiri terkadang memiliki irisan dengan ekosistem bumi, tapi tidak jarang terjadi penghancuran diri di kedua belah pihak.

Lewat karyanya, Asmudjo memilih pendekatan straight photography yang dikonfigurasikan penggunaan material abrasif secara jelas menggarisbawahi permasalahan tersebut.

Selanjutnya, ada karya Oco Santoso yang merefleksikan gugatan terhadap persoalan citraan pada era digital saat ini yang justru membiaskan ingatan dan narasi tanda. Menggunakan pendekatan sinematis yang dituangkan dalam citra diam, penumpukan memori dalam satu bingkai memberi efek distorsi dan kerusuhan (chaos) pada karya Oco.

Masih dalam koridor era digital, lewat karyanya, Willy Himawan menyampaikan mekanisme transformasi citra fotografi dengan menambahkan teknik overpaint pada cetakan foto yang didematerialisasi menjadi data digital. Kemudian data tersebut diwujudkan dalam material kembali dengan format berbeda melalui kanal digital.

Baca Ini Juga Yuk: 'Menunda Kekalahan', Karya Todung Mulya Lubis di Dunia Sastra

Di sisi lain, Dikdik Sayahdikumullah menyajikan ide ketidakterbatasan pemikiran manusia dengan keterbatasan teknologi yang sekadar bergantung pada data. Ia menggunakan bio-landscape personal sebagai representasi dari ketidak terbatasan, kemudian diformulasikan dengan proses ekstrapolasi menggunakan alat deteksi realitas sederhana. Proses tersebut menghadirkan transfigurasi kisi-kisi visual, dan hasilny adalah photomontage yang epik!

Masih ada nama Patriot Mukmin yang mengangkat fenomena aliran lukisan mooi indie dan prinsip ‘Tri Mutti' versi dirinya dengan metode merobek, memisahkan, mengurai lalu kemudian digabung kembali untuk mendapatkan makna visual baru.

Ia menganyam lukisan bergenre mooi indie dengan cetakan fotografi dari jepretan lanskap (landscape) berkarakter similar untuk menghasilkan hibridasi visual sebagai ekspresi estetikanya.

Terakhir, ada Angga Aditya Atmadilaga. Ia menyikapi karya fotografi dalam koridor seni grafis yang menganut cetak tinggi dan cetak dalam. Lewat karyanya, Angga menampilkan visual kontras sebagai bagian dari manifestasi gelap-terang.

Ia juga menambahkan material tembus pandang yang ditoreh dan membentuk bayangan serta menekankan sikap emosional lewat cahaya, bayangan, serta warna hitam-putih.

"Defragmentasi genetika medium fotografi dengan media lainnya menjadi signifikansi dalam karya-karya di pameran ini. Tujuan penyampaian pesan sebagai prioritas utama dalam berkarya justru membongkar batasan setiap medium dan membuka ruang-ruang eksperimen serta eksplorasi tanpa batas seperti yang terefleksikan oleh karya-karya di pameran ini," pungkas Henrycus mengenai pameran ini.

TemanBaik, pameran seni 'Welcome to The Machine' masih berlangsung hingga 12 Oktober 2021 mendatang. Kamu masih bisa mengapresiasi dengan mengunjungi Orbital Dago setiap harinya, tentu dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat ya. Selamat mengapresiasi media baru dalam seni fotografi!


Foto: Rayhadi Shadiq/Beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler