Menarik Makna Fantasi Lewat Karya Seniman Yudrika Nur Adilla

Bandung - Pameran seni bertajuk 'Escapism' digelar di Co&Co, Jalan Dipatiukur No. 33 Bandung. Pameran ini menampilkan karya seniman Yudrika Nur Adilla dan bagaimana ia menyikapi sebuah pelarian imajinernya.

Mahasiswi Seni Rupa Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung ini menyebut pamerannya adalah upaya penyajian fantasi sebagai bentuk pelarian sejenak tiap manusia. Ia juga seperti membuka mata apresiatornya untuk menjadikan fantasi sebagai wadah menuangkan ide baru.

"Saat realita enggak ngasih kebebasan, fantasi bisa ngasih itu semua. Fantasi ngasih ruang buat ide-ide kita," ujarnya.

Secara umum, karya dalam pameran ini dibagi menjadi tiga fragmen, yaitu Imaginal Scene, The Kidnap Monster, dan Pipe Dreams. Ketiganya punya kisah berbeda, namun tetap bermakna sama, yakni pelarian.

Baca Ini Juga Yuk: Menelisik Masa Lampau Keluarga Tionghoa Era 1950-an



Ia menyebut Imaginal Scene sebagai rekonstruksi pelarian imajiner. Bentuk-bentuk yang dimunculkan lahir dari euforia petualangan imajinasi.

Selain itu, ragam warna yang dihadirkan seolah merepresentasikan fantasi sebagai ruang yang memberikan banyak energi. Dalam karya ini, Yudrika menggambarkan fleksibilitas fantasi yang mampu menyuguhkan ruang multifungsi, yang tidak pernah habis dieksplorasi.

Objek tangan dan kaki serta objek di sekelilingnya disebut sebagai 'memory recall area' atau area yang memanggil memori masa lampau. Ini menjadi jembatan antara penjelajah dan memori yang terpanggil.

Karya Imaginal Scene merupakan fragmen pameran yang karyanya boleh disentuh, sedang dua fragmen lainnya tidak. Sentuhan dengan karya itulah yang bisa memanggil memori di masa lampau.

"Kadang fantasi bukan hanya bicara hal-hal yang enggak nyata. Tapi hal-hal nyata juga ada dalam fantasi. Misalnya saat berfantasi, kita bisa langsung punya keinginan atau ambisi tertentu," terangnya.

Baca Ini Juga Yuk: Sketsa Urban & Cerita Menarik dalam Pameran 'Serap Tampak Tapak'



Sementara itu, The Kidnap Monster bercerita duliasme fantasi yang dalam ruang imajiner Yudrika dihadirkan sebagai sosok monster penculik. Fantasi hadir sebagai jeda dari realita, memberikan fitur rekreasi, serta menghadirkan rasa senang dan nyaman. Namun, fantasi juga bukan wilayah aman untuk ditinggali, ia tetap menjadi jeda, menjadi ruang sementara.

Lalu, fragmen ketiga, Pipe Dreams, menceritakan rangkuman perjalanan imajiner ke dalam medium lebih variatif. Yudrika mengeksplorasi medium kanvas kain benang dan masih banyak lagi untuk menyuguhkan karya di fragmen ini. Karya itu kumpulan pengalaman dan memoar yang hadir ke dunia nyata.

“Pipe Dreams itu kayak suvenir perjalanan imajiner,” terangnya.

Sebagai penutup, Yudrika menyebut karya dalam pameran tunggal 'Escapism' yang dibuatnya menekankan pada kesadaran terhadap hadirnya ruang jeda bernama fantasi. Ruang ini bisa dikunjungi manusia, kapanpun ia mau untuk berlari sejenak dari realita. Namun, ruang ini juga bukan ruang aman untuk ditinggali terlalu lama.

"Jadi ada kalanya kita harus kembali ke realita. Tapi untuk ruang pelarian sejenak, ruang jeda, fantasi adalah zona yang nyaman," pungkasnya.

TemanBaik, kamu masih bisa main-main ke dunia fantasi Yudrika sebab pameran ini masih berlangsung sampai tanggal 28 November 2021 mendatang. Selamat mengapresiasi!


Foto: Rayhadi Shadiq


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler