Dewi Lestari, Soal Media Sosial dan Tren Penulis di Era Kekinian

Bekerjasama dengan Ubud Writers & Readers Festival 2018, Beritabaik berkesempatan berbincang dengan penulis yang banyak menelurkan karya-karya best seller, Dewi Lestari. Kali ini kami berbincang soal media sosial dan tren penulisan karya di era teknologi yang sudah berbeda dari lima atau sepuluh tahun lalu. Seperti apa?

Dee -begitu ia akrab disapa- menuturkan jika selama ini ia menggunakan media sosial untuk berkomunikasi dengan para penikmat karyanya. Ia merepresentasikan dirinya sebagai penulis melalui akunnya alih-alih sebagai wadah berbagi cerita kehidupan pribadinya.

"Konten media sosial saya upayakan lebih banyak ke pekerjaan ketimbang personal, karena saya memang lebih ingin teridentifikasi dengan karya saya daripada kehidupan pribadi," ujar Dee.

Ia juga kerap memanfaatkan media sosial untuk riset bahan tulisannya, seperti menanyakan nama tempat atau narasumber dan Dee merasa terbantu dengan cara itu.

Baca juga: Inovasi Karya dan Eksplorasi Film Gaya Richard Oh

Perkembangan teknologi di masa kini juga ternyata membuat pola penerbitan karya penulis mengalami perubahan. Penulis kini bisa dengan mudah mempublikasikan karyanya secara online.

"Dari sisi kreator, semua kanal yang bisa dipakai berbagi, tentunya menjadi celah baginya berkarya. Menurut saya ini baik, karena para kreator tidak harus lagi bergantung kepada jalur-jalur konvensional untuk bisa berkarya dan membagikan karyanya," katanya.

Penulis tak perlu lagi bersusah payah menawarkan karyanya untuk diterbitkan. Justru kini penulis yang karyanya banyak digemari secara online malah diburu penerbit untuk kemudian dibuatkan bukunya.

"Jika kemudian penerbit yang mengubah manuvernya, berburu penulis dan bukan lagi diburu, saya rasa itu adalah perkembangan wajar mengingat kondisi di era teknologi ini. Informasi semakin tidak bisa dibendung. Termasuk kreativitas," tutur Dee.

Justru dengan gaya seperti ini menurutnya justru bisa melihat mana karya yang bisa diterima pembaca. "Perkembangan yang kita lihat sekarang ini tak lain tak bukan adalah demokratisasi informasi," tambahnya.

Dalam membuat karyanya Dee menuturkan bahwa kualitas tulisan bukan tergantung pada lama tidaknya proses pembuatan buku. "Ada tendensi untuk kita menilai bahwa buku yang bagus itu ditulisnya pasti lama, sementara buku yang ditulisnya kilat itu cenderung tidak bermutu. Sebetulnya tidak sesederhana itu," jelas Dee.

Ia mencontohkan novelet 10 ribu kata dengan novel epik 100 ribu kata tentu berbeda waktu pengerjaanya namun dari segi kualitasnya tak menjamin karya 100 ribu kata lebih baik.

"Walau hasil akhirnya sama-sama jadi satu buku. Tapi belum tentu yang 10.000 bakal lebih jelek hasilnya. Jadi, lama atau tidaknya pengerjaan kembali kepada jenis buku apa yang hendak ditulis serta tingkat kesulitannya, tetapi tidak berarti yang ditulis lama hasilnya bakal berkualitas. Bisa saja lamanya itu karena ternyata tidak digarap dengan sungguh-sungguh, disambi dengan banyak pekerjaan lain, nulisnya berhenti-berhenti," terangnya.

Baca juga: Ibu Susi dan Ndaba Mandela Ramaikan Ubud Writers & Readers Fest

Penulis yang tengah menyukai tulisan karya Yuval Noah Harari ini menyebut jika matang atau tidaknya penulisan kadang tidak bisa jernih dinilai oleh penulisnya sendiri. Ia pun memberikan tips bagi para penulis pemula yang ingin berkarya supaya jangan cepat berpuas diri. 

"Luangkanlah waktu dan sumber dayamu untuk penyuntingan yang baik. Ada editor-editor lepasan yang bisa membantu memoles naskah kita. Jangan cepat berpuas diri. Menulis adalah keahlian yang harus terus digali seumur hidup. Selalu belajar. Ketika kamu membaca karya orang lain, baca bukan cuma untuk terhibur, melainkan juga untuk sambil belajar," tutup Dee.

Masih banyak inspirasi dari sosok sastrawan modern ini yang bisa digali. Dee akan menjadi salah satu dari 160 pembicara di Perhelatan sastra dan seni terbesar di Asia Tenggara Ubud Writers & Readers Festival 2018 yang akan digelar 24-28 September mendatang.


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler