Taufik Faturohman, Berjuang Lestarikan Bahasa Sunda

Bandung - Sosok Taufik Faturohman cukup dikenal di Jabar. Ia bisa dibilang merupakan sosok pejuang pelestari bahasa Sunda. Salah satu yang kegiatannya adalah aktif sebagai penulis buku berbahasa Sunda. Sejak tahun 1979 hingga kini, ia sudah banyak membuat buku, mulai dari buku humor hingga buku pelajaran bahasa Sunda untuk di sekolah.

"Saya pribadi bikin buku mungkin sudah 100 judul dari tahun 1979. Kebanyakan buku pelajaran," ujar Taufik kepada BeritaBaik.

Melalui buku, ia ingin membuat bahasa Sunda tetap lestari. Ia pun berupaya agar generasi muda di Jabar mencintai bahasa Sunda dan ikut melestarikannya.

Untuk anak-anak misalnya, salah satu cara yang dilakukan untuk anak-anak adalah membuat buku berbahasa Sunda yang didominasi oleh gambar.

"Kepuasan bagi saya itu ketika melihat anak-anak yang tidak paham bahasa Sunda menjadi paham. Makanya di buku-buku itu kita ajak memahami bahasa Sunda sambil 'bermain' (dengan diperbanyak gambar)," tuturnya.

Ia berprinsip generasi muda Sunda tidak harus berorientasi pintar berbahasa Sunda. Tapi, mereka justru harus dibuat mencintai bahasa Sunda. Jika mencintai, maka generasi muda akan mau mempelajari dan menggunakan bahasa Sunda itu sendiri.

"Jadi bukan gimana caranya anak-anak pintar bahasa Sunda, tapi gimana caranya membuat mereka menyukai bahasa Sunda," jelas Taufik.

Selain buku, Taufik juga aktif mengkampanyekan penggunaan bahasa Sunda dengan cara lain. Contohnya dengan Sudong alias Sulap Dongeng yang digagasnya sejak 2006.

Lewat Sudong, Taufik sering memamerkan keahlian sulapnya sambil bercerita dan melawak dalam bahasa Sunda. Cara itu diharapkan efektif membuat generasi muda mencintai bahasa Sunda.

Ia juga menggagas Borangan alias Ngabodor Sorangan sejak beberapa tahun lalu. Borangan sendiri mirip dengan stand up comedy. Bedanya, borangan ditampilkan dengan menggunakan bahasa Sunda.

"Borangan itu terpancing saat booming stand up comedy di Jakarta," ucap Taufik.

Berbagai cara yang dilakukan Taufik pun mendapat pengakuan dan apresiasi dari pemerintah. "Tahun 2016 saya oleh pemerintah diberi anugerah Tokoh Pelestari Bahasa Daerah Nasional," pungkasnya.

Penghargaan yang diterimanya pun tidak membuat Taufik terlena. Ia terus berusaha melakukan berbagai hal agar bahasa Sunda tetap lestari.

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler