Bayu Skak Konsisten Bawa Bahasa Jawa di Youtube Hingga Film

Surabaya - Nama Bayu Eko Moektito alias Bayu Skak mungkin tak asing lagi bagi TemanBaik. Youtuber kelahiran Malang 25 tahun lalu ini memang semakin aktif menyumbang karyanya di industri hiburan tanah air.

Meski karirnya sebagai Youtuber sejak tahun 2010 bermula dari project coba-coba, akan tetapi Bayu berhasil menorehkan prestasi di bidang ini. Berkat kreativitas dan konsistensinya menggunakan bahasa daerah dalam setiap konten Youtube, Bayu berhasil mengantongi Golden Play Button dari Youtube Indonesia pada pertengahan 2017 lalu.

Tak berhenti disitu, Bayu juga mulai mengasah kemampuan beraktingnya melalui sejumlah film seperti Marmut Merah Jambu (2014), Check In Bangkok (2015), Relationshit (2015), dan Hangout (2016).

Berbekal pengalaman tersebut serta keinginan yang kuat untuk melestarikan bahasa daerah, Bayu pun menginisiasi 'Yowis Ben' (2018) film berbahasa daerah pertama yang tayang di seluruh bioskop Indonesia.

Perjuangan Bayu dalam mewujudkan 'Yowis Ben' tentu tak mudah. Pada awalnya Bayu harus mengalami pahitnya penolakan ide film ini oleh beberapa produser. "Karena 80 persen naskahnya berbahasa Jawa, kebanyakan produser malas meliriknya. Ini kok sangat segmented sekali. Siapa yang mau nonton film segmented seperti ini? Jadi, nggak akan mungkin berhasil," tutur Bayu.

Baca Ini Juga Yuk: Trik Rika Rafika Ajarkan Milenial Budaya Sunda Lewat Lagu

Tetapi, bukan Bayu Skak kalau langsung menyerah begitu saja. Mayoritas penduduk Indonesia yang merupakan suku Jawa menjadi acuannya dalam berkarya. "Kalau kita amati lagi, kira-kira 40 persen penduduk Indonesia ini tahu Bahasa Jawa. Kalaupun misalnya ada yang nggak tahu, kita sediakan subtitle yang sekomunikatif mungkin agar filmnya tetap bisa dinikmati," ujar Bayu.

Optimisme Bayu pun berbuah manis. Meski sempat dihujat dan dilabeli anti kebhinnekaan oleh sebagian kalangan, rupanya film 'Yowis Ben' justru berhasil meraup jumlah satu juta penonton pada penayangannya. Bahkan, mendapatkan dukungan dari Presiden RI Jokowi, hingga Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Muhadjir Effendy.

"Bahkan saya nggak menyangka kalau 'Yowis Ben' mendapatkan rating 9,1 di IMDb dari total koresponden sekitar 3000-an. Dan semuanya pujian-pujian positif yang masuk, tidak ada komentar negatif," tutur Bayu.

Keberuntungan berkat 'Yowis Ben' pun tak berhenti disitu bagi Bayu. Secara akademis, Bayu pun mendapat apresiasi dari pihak kampusnya karena berhasil menciptakan sebuah film berbahasa daerah yang fenomenal. Bayu pun akhirnya meraih kelulusan setelah hampir 7 tahun berkuliah di Universitas Negeri Malang.

Animo yang tinggi dari masyarakat dalam menyambut karyanya telah mendorong Bayu untuk membuat 'Yowis Ben 2'. Melalui film yang akan tayang pada 14 Maret 2019 ini, Bayu lebih optimis berkat penggarapan serta konsep cerita yang lebih matang.

"Kalau disimpulkan, 'Yowis Ben 1' merupakan pembuktian. Tentang 4 anak muda yang ingin membuktikan dirinya di hadapan orang banyak. Sedangkan 'Yowis Ben 2' merupakan maintain. Ketika orang-orang sudah melihat siapa dia, maka dia harus melanjutkan dan menjaga kepercayaan orang banyak tersebut," papar Bayu.

Meski masih konsisten mengusung bahasa daerah, pada filmnya kali ini Bayu tak hanya mengeksplorasi unsur Jawa saja. Dilatarbelakangi oleh adanya unsur historis di masa lalu yang akhirnya menimbulkan kecanggungan antara suku Jawa dan Sunda, Bayu pun ingin mematahkan stigma tersebut melalui karyanya.

"Kalau dari sejarahnya, katanya dulu pernah ada perang antara Jawa dan Sunda. Tapi, kita ini kan sudah menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, mindset seperti ini harus segera diubah dan saya ingin membuktikan melalui karya saya, kalau kedua suku tersebut bisa bersatu," tutur Bayu.

TemanBaik, di usianya yang masih muda ini, Bayu telah berhasil membuktikan prestasi dan kualitas dirinya di hadapan masyarakat Indonesia. Diakui Bayu, pada perjalanan karirnya memang banyak tantangan yang harus ia hadapi. Akan tetapi, Bayu memilih tetap konsisten dalam berkarya. "Kuncinya adalah berani. Kita harus bondo nekat. Kalau nggak seperti itu, mungkin saya nggak bisa seperti sekarang ini," tandas Bayu.

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler