Mengenal Sisi Lain Kehidupan Perempuan Peneliti di LIPI

Bandung - TemanBaik ada yang tahu bagaimana kehidupan seorang peneliti? Kita kenalan yuk dengan Neni Sintawardani, seorang peneliti utama di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Ia mulai bekerja di sana sejak 1983. Sebagai peneliti, fokus utamanya adalah melakukan penelitian seputar pengolahan limbah cair dan sanitasi berkelanjutan. Bisa dibayangkan enggak apa yang Neni teliti? Yang jelas, enggak jauh-jauh dari kotoran manusia, baik feses maupun urine. Jijik enggak? Tapi, tidak ada kata jijik bagi Neni.

Ia pun tidak ragu nyemplung ke sungai yang kotor, bersentuhan dengan kotoran manusia, serta hal-hal kotor lainnya. Bahkan, perbincangan seputar kotoran seolah jadi santapan sehari-hari. "Kami biasa mengerjakan hal-hal yang terkait feses, urine, buangan-buangan manusia. Itu kadang-kadang bikin ketawa, kalau lagi makan, kita suka ngomongin itu," ujar Neni kepada BeritaBaik.

Bagi Neni dan para peneliti di LIPI, hal seperti itu jelas hal biasa, Tapi, perbincangan serupa tidak bisa dilakukan di lingkungan lain, termasuk keluarga. "Hal yang dianggap wajar belum tentu dianggap orang lain wajar juga. Tapi hal itu menyenangkan, banyak kejadian-kejadian kocak di lapangan," tutur Neni.

Neni sendiri sudah banyak melakukan penelitian, di antaranya biogas dari limbah pabrik tahu dan biotoilet. Untuk biogas bahkan sudah berjalan efektif di salah satu daerah di Sumedang, Jawa Barat.

Sebagai peneliti, ia akan merasa sangat puas jika hasil penelitiannya dipakai secara luas oleh masyarakat. Apalagi jika manfaat positi benar-benar hadir sebagai dampak dari hasil penelitiannya.

"Kalau digunakan masyarakat, itu berarti penelitian kita ada gunanya, bukan hanya untuk diri sendiri. Kalau buat diri sendiri, ada publikasi ilmiah dan lain-lain, Tapi itu hanya buat diri sendiri meski ada dampak untuk institusi," ungkapnya.

Baca Ini Juga Yuk: Lika-liku Ine Rahayu, 33 Tahun Mengajar Tunagrahita

"Kita kan ada tanggung jawab untuk masyarakat. Misalnya ini ada penelitian kita yang bisa membantu persoalan masyarakat (dan dipakai), itu rasanya enggak sa-sia penelitian kita," jelas Neni.

Sebagai peneliti, mimpi besarnya adalah ingin menghasilkan teknologi atau alat untuk meningkatkan kualitas sanitasi dan kualitas kehidupan masyarakat. Tapi, hal itu perlu dukungan dari berbagai pihak, mulai pemerintah, swasta, hingga tentunya masyarakat.

Ia pun terus berusaha melahirkan berbagai penelitian. Ia tidak pernah merasa lelah dan berusaha mengabdikan hidupnya agar bermanfaat bagi masyarakat.

Impian ke Luar Negeri
Bagi Neni, menjadi peneliti bukan cita-cita masa kecilnya. Ia justru lebih menyukai hal-hal berbau sejarah dan sastra. Beragam buku terkait hal-hal itu pun jadi santapannya sejak kecil. Bahkan, kecintaannya terhadap sejarah dan sastra masih terus berjalan hingga kini.

Hingga ketika masa SMA, ia banyak membaca buku. Di satu titik, ia akhirnya bermimpi agar bisa pergi ke luar negeri. Karena orangtuanya banyak memiliki teman akademisi dan peneliti, ia banyak mendengar hal-hal menyenangkan bahwa mereka bisa pergi ke luar negeri.

Ia lalu berpikir untuk menjadi peneliti agar bisa mewujudkan mimpinya. Neni menempa diri hingga akhirnya bisa jadi peneliti di LIPI. "Ternyata betul, begitu masuk LIPI, dua tahun kemudian saya dikirim sekolah ke luar negeri. Saya sekolah di Jerman. Saya menghabiskan waktu 7,5 tahun di sana dari pertengahan 1985. April 1993 saya pulang dan tugas lagi di sini," tuturnya.

Sebagai peneliti, Neni mengaku merasa memiliki kebebasan. Ia bisa melakukan dan meneliti apapun yang disukainya. Di saat yang sama, ia juga bisa memecahkan berbagai persoalan dari penelitian yang dilakukannya. "Buat saya jadi peneliti enggak ada yang membosankan. Rasanya hidup kita lebih dinamis adn penuh tantangan," ujarnya.

Pentingkan Memasak
Sebagai peneliti, Neni mengaku banyak kehilangan waktu untuk keluarganya. Sebab, sebagian hidupnya lebih banyak dilakukan untuk melakukan penelitian.

"Yang mengerikan itu kadang waktu 24 jam itu enggak cukup (untuk penelitian). Kadang saya mengorbankan waktu untuk keluarga demi ke laboratorium, ke lapangan, dan lain sebagainya. Tapi pengorbanan keluarga bukan main, mereka mau mengerti," ungkapnya.

Sebagai istri dan ibu dari dua anak, ia merasa mereka memberi dukungan sangat besar. Sang suamilah yang berperan besar dalam memberi pengertian itu. "Peran suami saya sangat besar karena dialah yang jadi jembatan dari semuanya," ucap Neni.

Baca Ini Juga Yuk: Kisah Inspiratif Sofiah, Tunanetra yang Jadi Guru SLB di Bandung

Selain waktu yang terbatas, jarak juga jadi pemisah Neni dan keluarganya. Sebab, keluarganya tinggal di Serpong, Tangerang, sedangkan Neni lebih banyak di Bandung. Ketika akhir pekan atau saat berlibur, Neni pun berusaha untuk memberikan seluruh waktunya bagi mereka. Ia punya kegiatan wajib jika sedang bersama keluarga.

"Saya membiasakan dan merasa punya kewajiban, setiap di rumah selalu masak, Orang sering sekali meledek enggak mungkin saya bisa masak. Tapi, bagi saya, masak itu jadi salah satu cara untuk bisa mengeratkan keluarga," katanya.

Selain memasak, makan bersama juga jadi rutinitas saat berkumpul. Ia juga menghindari membawa pekerjaan ke rumah demi menjaga waktu sempitnya agar benar-benar berkualitas untuk keluarga.

"Suami selalu selalu nyuruh saya untuk istirahat kalau saya di rumah. Tapi saya enggak bisa, waktu saya di rumah saya pakai untuk pekerjaan domestik (rumah tangga). Saya juga selau berusaha untuk disiplin, enggak bawa kerja ke rumah. Minimal saya berusaha tidak menyentuh (pekerjaan)," jelas Neni.

Ibu dari Para Peneliti
Sebagai peneliti, Neni tidak pernah menyesali keputusan langkahnya meski banyak kehilangan waktu untuk keluarga. Apalagi, ia selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi mereka. Sebab, ia sudah terlanjur menjalani seluruh kehidupan dan kariernya. Karena itu, ia berusaha membagi peran dan tugas antara sebagai peneliti atau wanita karier dan keluarga.

Selain bisa menghasilkan berbagai penelitian, ia juga merasa bisa memberi manfaat bagi orang lain. Sebab, ia seolah menjadi ibu bagi para peneliti muda di LIPI dan para mahasiswa yang melakukan penelitian. Ada rasa bangga saat ia punya andil menjadikan seseorang dari peneliti 'amatir' menjadi peneliti andal. Bukan hanya orang lokal, ia juga banyak membimbing peneiti muda asing dan mahasiswa asing.

"Yes, itu satu sisi memuaskan bagi saya kalau seseorag yang saya bimbing jadi 'seseorang', bisa memenangkan sesuatu dalam kancah kompetisi di bidangnya, itu bagi saya sudah cukup. Mereka juga sudah seperti anak bagi saya," ungkap Neni.

Sebagai wanita karier, ia pun berpesan bagi para wanita yang memiliki multiperan sebagai wanita karir dan ibu rumah tangga. Kuncinya adalah siapkan mental dan disiplin. Sebab, semuanya harus dijalani secara seimbang meski dengan berbagai cara.

"Anda harus siap berselancar di tiga titik itu (wanita karier, istri, dan ibu). Nikmati. Tidak perlu terlalu tinggi (mengejar impian), tapi nikmati, kemudian syukuri," ucapnya.


Foto: Oris Riswan Budiana


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler