Kisah Sena Maulana, Desainer Senjata dan Mobil Tempur Kelas Dunia

Bandung - TemanBaik pernah mungkin sudah biasa mendengar profesi desainer kan? Tapi, kebayang enggak jika ada profesi sebagai desainer senjata dan kendaraan tempur?

Salah seorang yang memiliki profesi itu adalah Sena Maulana. Ia menggelutinya sejak tahun 2000-an di PT Pindad (Persero). Saat itu, ia bahkan masih berstatus mahasiswa jurusan Desain Produk di ITB.

Hingga kini, ia sudah merancang lebih dari 10 desain senjata dan kendaraan tempur. Mulai dari senjata SS2, kendaraan tempur Anoa, serta berbagai produk membanggakan lainnya. Hasil desainnya sudah banyak diproduksi PT Pindad (Persero) dan diekspor ke negara lain juga loh.

"Titik kepuasan saya adalah ketika produknya setelah jadi dipakai dan ketika dipakai berguna," kata Sena kepada BeritaBaik.

Dalam merancang sebuah produk, Sena mengaku tidak bekerja sendirian. Berbagai ahli terlibat agar suatu senjata atau kendaraan tempur benar-benar bisa diproduksi. Peran Sena sebagai desainer adalah merancang tampilan produk agar tidak hanya enak dilihat, tapi juga nyaman digunakan.

Detail banget loh TemanBaik pembuatan senjata atau kendaraan tempur itu. Bahkan, sampai lekukan tangan saat membuka pintu kendaraan tempur juga diperhatikan agar pemakainya nyaman.

Untuk membuat suatu produk, waktu yang dibutuhkan berbeda-beda. Tapi, idealnya perlu waktu hingga 2 tahun agar rancangan suatu produk benar-benar sempurna dan bisa diproduksi.

"Secara teori kalau hitung-hitungan 2 tahun cukup. Tapi kadang hampir enggak cukup waktu 2 tahun itu," ungkap Sena.

Ditantang TNI Bikin Kendaraan Tempur

Sebelum tahun 2000-an, Indonesia ternyata memiliki masalah tersendiri. Saat itu, Indonesia lebih banyak mengimpor senjata dan kendaraan tempur dari negara lain. Persoalannya, senjata atau kendaraan itu kadang tidak boleh digunakan dalam suatu permasalahan. Misalnya saat menangani aksi separatisme di Aceh, ada produk senjata atau kendaraan tempur yang tidak diizinkan penggunaannya oleh pihak yang menjual senjata.

Hal itu menjadi keprihatinan tersendiri. Direktur Utama PT Pindad saat itu pun berhasrat menciptakan kendaraan tempur sendiri agar bisa dipakai oleh TNI. Mimpi itu akhirnya menemukan jalan.

Pindad 'ditantang' TNI untuk membuat kendaraan tempur. Sena pun pada akhirnya diminta untuk merancang kendaraan itu bersama tim. Tantangannya besar loh, dalam waktu sebulan, kendaraan tempur itu harus sudah selesai.

"Kita diberi waktu 30 hari untuk merancang panser dari bahan truk dan budjet-nya Rp500 juta. Kita pusing, siang-malam kita merancang," ujar Sena.

Sejarah baru Indonesia dalam pembuatan kendaraan tempur pun dimulai. Saat itu, kendaraan tempur dengan nama AVR1 P1 berhasil dibuat sesuai target. "Itu pertama kalinya Indonesia punya kendaraan tempur (buatan dalam negeri) dan (pemerintah) pede memberikan kendaraan itu ke angkatan," tuturnya.

Saat itu, menurut Sena, dari segi tampilan, kendaraan tempur itu kurang baik. Tapi, sisi kenyamanan dirasa luar biasa oleh penggunanya. Kendaraan itu juga efisien untuk dipakai dan tepat sasaran karena digunakan TNI. Sejarah baru pun berlanjut. Indonesia melalui Pindad untuk pertama kali bisa memiliki senjata buatan sendiri dengan nama SS2 sebelum tahun 2005. "SS2 itu proyek senjata buatan Pindad pertama," ucapnya.

Seiring perjalanan waktu, Sena bersama Pindad terus menciptakan beragam produk. Yang paling banyak adalah kendaraan tempur, mulai dari APC, kendaraan Intai, Badak, Komando, hingga ambulans. Indonesia pun semakin dikenal dunia karena mampu memproduksi senjata dan kendaraan tempur yang mumpuni.


Wisuda Membawa Water Canon

Perjalanan Sena sebagai desainer pun memiliki sisi keunikan tersendiri. Saat diwisuda di ITB pada tahun 2000, ia datang membawa kendaraan water canon. Saat itu, ia jadi pusat perhatian tersendiri. Sebab, sepanjang sejarahnya, tidak pernah ada mahasiswa yang membawa kendaraan sebesar itu.

Kendaraan itu adalah salah satu hasil rancangan Sena bersama tim. Itu jadi pembuktian bahwa anak Indonesia bisa menciptakan sesuatu yang hebat. Bahkan, Sena membuat tugas akhir kuliah yang hebat. "Tugas akhir saya bikin kendaraan panser inti. Itu jadi dan bentuknya ada," kata Sena.

Sena sendiri memang menggemari dunia militer. Tapi, kecintaannya pada hal-hal yang berbau militer ternyata bisa klop dengan dirinya sebagai desainer. Sehingga, ia merasa profesi sebagai desainer sangat menyenangkan. Apalagi ia bisa berkontribusi menciptakan produk untuk dipakai militer.

Ia pun kini masih aktif menjadi desainer. Tapi, itu merupakan profesi pribadi, di luar pekerjaannya sebagai Direktur Utama PT Pindad Enjiniring Indonesia (PEI) yang merupakan anak perusahaan PT Pindad.

"Itu (desainer) masih sampai sekarang dan saya bisa memisahkan posisi saya sebagai Dirut di sini dan sebagai Sena secara personal," tutur Sena.


Sempat Pergi tapi Kembali

Ada pelajaran yang bisa dipetik dari sosok Sena. Ia memulai karirnya benar-benar dari nol. Di Pindad, ia memulai langkahnya saat melakukan praktik kerja sebagai mahasiswa. Hingga akhirnya ia diangkat menjadi pegawai kontrak.

Karir Sena pun terus menanjak dan pernah menduduki beberapa jabatan penting, di antaranya Kepala Departemen Pemasaran dan Kepala Humas PT Pindad. Ia pun terus bekerja keras mengerahkan kemampuan maksimal untuk perusahaan. Ia pun cukup sering ke luar negeri untuk memasarkan produk buatan Pindad. Di saat yang sama, ia terus mencari ilmu agar karirnya berkembang.

Sena sempat mencari tantangan baru dan memutuskan keluar dari Pindad. Tapi, meski bekerja di tempat lain, Sena tetap menjalani profesi sebagai desainer. Ia sempat merancang beberapa kendaraan tempur untuk TNI.

"Setelah kerja di luar 3 tahun dan saya dapat tawaran kerja di sini," ungkapnya.

Ia pun menempuh proses ketat. Hingga akhirnya, sejak delapan bulan lalu, ia diangkat menjadi Direktur Utama PT PEI. PT PEI sendiri memiliki beberapa anak perusahaan, salah satunya Rumah Sakit Pindad. PT PEI dan anak perusahaannya juga fokus menciptakan produk yang tidak dibuat Pindad, mulai dari baju antipeluru hingga rel dan roda kereta api.

Hasil manis didapatkan PT PEI di bawah kepemimpinan Sena. Bersama lebih dari 400 karyawan, PT PEI mencetak rekor manis sepanjang perjalanan perusahaan. Setelah cukup sering rugi, akhirnya PT PEI bisa menghasilkan keuntungan.

"Alhamdulillah sampai tengah tahun kemarin yang tadinya kita rugi Rp17 miliar, pada pergantian tahun kemarin kita membukukan untung Rp400 jutaan," jelas Sena.

Ia pun tidak mau terlena dengan kesuksesannya. Ke depan, ia bakal terus mengembangkan perusahaan dan anak-anak perusahaan. Ia pun ingin meningkatkan kesejahteraan bagi para karyawannya. Sebab, ia merasa kesuksesan perusahaan tidak akan bisa berjalan olehnya seorang diri. Ada andil para karyawan yang patut diberi kenyamaan dan penghargaan.


Keluarga dan Mimpi Besar

Kesuksesan yang diraih Sena saat ini diakuinya tidak lepas dari peran keluarga. Pria kelahiran Bandung, 24 Februari 1978 itu mengaku sangat didukung keluarganya. Mereka menjadi pendorong semangat Sena dalam berkarir meski kadang waktu untuk keluarga sangat terbatas. "Mereka sangat mendukung (karir saya)," ucap Sena.

Sebagai suami dan ayah dari dua orang anak, Sena punya mimpi besar. Ia ingin mengajak keluarganya jalan-jalan menggunakan pesawat sendiri. Mimpi itu yang kini berusaha dibangun. "Impian saya pengin sekolah pilot, pengin punya pesawat sendiri, pengin jalan-jalan sama keluarga," tutur Sena.

Ia pun berharap mimpi itu bisa terwujud dalam beberapa tahun ke depan. Itu akan jadi bukti cinta dan pekerjaannya yang memang didedikasikan untuk keluarga.

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler