Andy Sutioso, Arsitek yang Bikin Sekolah Semi Palar Bandung

Bandung - Siapa sangka, sosok Andy Sutioso (50) yang berlatar belakang arsitek justru memiliki kepedulian tinggi terhadap dunia pendidikan. Ia bahkan sejak 2006 terjun total untuk membangun dan mengoperasionalkan sekolah yang diberi nama Semi Palar di Jalan Sukamulya, Kota Bandung.

Semula, sekolah ini hanya menampung siswa prasekolah. Hanya anak-anak kecil saja yang belajar di sana. Lama-kelamaan, sekolah itu berkembang hingga kini memiliki jenjang TK, SD, SMP, termasuk SMA meski berstatus non formal.

"Motivasi terbesar saya adalah anak saya, sebelum masuk SD, dia drop out di playgroup sampai dua kali. Saya akhirnya tarik dia untuk dimasukin TK, dia mogok lagi sekolah," kata Andy kepada BeritaBaik.id.

Rasa tidak nyaman bersekolah membuat anaknya tidak betah. Dari situ, ia mulai berpikir untuk membangun sekolah yang membuat siswanya senang belajar tapi tidak berorientasi pada nilai dan angka. Di sisi lain, pendidikan pada siswa harus tetap di kedepankan dan diberikan dengan cara menyenangkan.

"Dari situ saya punya mimpi bikin sekolah di mana anak-anaknya senang, enggak stres, akhirnya (dibikin Semi Palar), dari situ konsepnya," ungkap Andy.

Bak gayung bersambut, kegelisahan Andy ternyata sejalan dengan teman-temannya. Mereka menginginkan anak-anaknya sekolah di tempat yang berbeda dengan sekolah pada umumnya.

Dari situ, Andy dibantu rekan-rekannya merancang betul konsep sekolah dan mewujudkan membangun sekolah. Para siswanya adalah anak dari teman-teman Andy. Kini, belasan tahun berlalu dan banyak penyempurnaan yang dilakukan, baik dari segi bangunan maupun kegiatan belajar.

Baca Ini Juga Yuk: Sihar Sitinjak, Sosok Penyelamat Saat Bencana

Jika TemanBaik datang ke lokasi, sepintas pasti enggak nyangka jika Semi Palar adalah sebuah sekolah. Para siswanya bukan berpakaian seragam sekolah seperti pada umumnya. Mereka memanggil guru dengan sebutan kakak.

Bahkan, Andy sebagai Koordinator Utama Semi Palar sering bergaya kasual. Ia tampil bahkan menggunakan celana pendek. Koordinator utama sendiri adalah jabatan tertinggi di sana. Jika di sekolah umum, jabatan itu adalah kepala sekolah. Tapi, anak-anak di sana juga memanggil 'kak' terhadap Andy, bukan 'pak' seperti di sekolah umum.

Panggilan yang terkesan non formal itu sengaja diberlakukan di sana. Tujuannya agar tidak ada kekakuan. Tapi, di saat yang sama, sikap saling menghormati dan menghargai tetap dijunjung tinggi antara guru, siswa, dan orang-orang di Semi Palar.

Melalui Semi Palar, ada mimpi besar yang ingin diwujudkan Andy. Ia ingin mencetak para siswa yang pintar, kreatif, hingga berkarakter. Hal itu yang kemudian dibentuk melalui gaya pendidikan di sana.

Ia pun bersyukur karena sekolahnya tetap berjalan hingga kini, bahkan semakin besar. Apalagi, ia bukan berasal sebagai tenaga pendidik. "Saya bukan sarjana pendidikan, tapi para orangtua mau menyekolahkan anaknya di sini," ucap Andy.

Sementara sebelum mendirikan Semi Palar, Andy yang merupakan lulusan arsitektur Universitas Parahyangan Bandung dan magister di Australia. Ia sempat berprofesi sebagai artsitek sejak masih aktif kuliah hingga lulus. Tapi, kurang dari lima tahun ia menjalankan profesinya itu.

Ia menanggalkan profesi arsitek sejak sekitar 1997. Ia sempat aktif mengajar di kampus hingga menjadi konsultan sebuah lembaga pendidikan di Cimahi. Lembaga pendidikan itulah yang membuatnya memiliki bekal untuk mendirikan sekolah.

Tapi, jiwa sebagai arsitek tetap tidak bisa hilang. Salah satu buktinya, Semi Palar didesain oleh Andy. Sehingga, area sekolah benar-benar tertata apik dan punya keindahan tersendiri. Hal itu bikin nyaman siapapun yang beraktivitas di sana.

Baca Ini Juga Yuk: Salut! Perempuan Ini Relakan Rumah Jadi Penampungan Anjing-Kucing

Sementara urusan pendidikan di Semi Palar, cara berbeda dilakukan. Misalnya saat mengajarkan soal tanaman, siswa diajak langsung memahami suatu tanaman sampai cara menanamnya. Jadi, bukan cuma teori.

Uniknya, di sana siapapun bisa menjadi guru tamu, salah satunya penjual jamu. Saat belajar seputar rempah-rempah, penjual jamu diajak masuk ke kelas dan menerangkan semua yang diketahuinya. Di saat yang sama, guru atau yang disebut kakak pendamping menjelaskan sisi lain seputar rempah, misalnya nama ilmiah suatu tanaman.

Siswa di sana juga diajarkan kemandirian dan kreativitas tinggi. Salah satunya, bagi siswa SMP, ada program Perjalanan Besar yang membuat mereka harus bertualang ke kota lain. Hasil dari perjalanan itu akhirnya dibuat menjadi sebuah buku. Bahkan, sekelas anak tingkat SD pun sudah diajarkan untuk membuat buku cerita. "Buku yang sudah diterbitkan total sekitar 30-an," ucap Andy.

Belajar di Semi Palar juga tergolong jauh dari hapalan. Misalnya, saat belajar peristiwa sejarah, bukan tanggal peristiwa yang harus diingat siswa. Mereka justru diajarkan bagaimana mengambil hikmah dari suatu peristiwa sejarah agar hal negatif tidak lagi terjadi di masa depan.

Hal keren lainnya, siswa di sana juga dicetak agar berani tampil di depan umum. Saat tugas membuat buku selesai misalnya, mereka melakukan proses peluncuran sebagaimana umumnya. Peluncuran buku dihadiri banyak orang dan mereka memaparkan berbagai hal tentang bukunya.

Andy sendiri mengaku puas dengan apa yang dilakukannya. Tapi, ia mengaku terus belajar untuk membuat Semi Palar semakin lebih baik dari waktu ke waktu.


Foto: Oris Riswan Budiana


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler