Kisah Hidayat Kusumanegara Berjuang di Kalimantan & Timor Leste

Bandung - Hari Veteran Nasional 2019 jadi salah satu momentum untuk mengingat besarnya perjuangan para veteran. Bukan hanya dalam upaya kemerdekaan, tapi juga mempertahankan kemerdekaan itu sendiri.

BeritaBaik.id pun menemui Kolonel (Purn) H. Hidayat Kusumanegara di Kantor DPD LVRI Jawa Barat, Kota Bandung, Jumat (9/8/2019) sore. Di tengah kesibukannya, pria yang menjabat Wakil Ketua DPD LVRI Jawa Barat itu memberi sambutan hangat.

Saat diajak berbincang seputar kisah perjuangannya, Hidayat tampak bersemangat. Meski sesekali batuk, ia menuturkan kisah perjuangannya dengan rinci. Hidayat sendiri adalah seorang TNI yang aktif dalam kurun 1967-1997. Ia pernah ditugaskan di berbagai wilayah di Indonesia dan mengemban beberapa jabatan.

Salah satu pengalaman yang akan ia kenang selamanya adalah bertempur di Kalimantan Barat pada 1967. Saat itu, yang dihadapi penyebar paham komunisme dari China. Mereka menyusup ke Kalimantan Barat melalui jalur Malaysia.

"Di Kalimantan Barat itu betul-betul bergeraknya di hutan. Kadang dalam satu hari kita jalan tidak melihat matahari sama sekali, tidak melihat langit. Karena Kalimantan kan hutannya sangat lebat," kata Hidayat.

Selama perjalanan menuju sasaran tempur, Hidayat dan semua pasukan harus menghadapi medan terjal. Logistik habis dan harus makan seadanya, mulai dari ular hingga dedaunan. Bahkan, kaki pasukan cukup sering dihinggapi lintah.

"Kalau kita bergerak di hutan itu terus tiba-tiba melihat ada lubang, kelihatan langit, rasanya (lega) bukan main," ungkap pria tiga anak dan tiga cucu itu. Penumpasan penyebar paham komunis pun berhasil dilakukan. Sehingga, paham komunis yang dilarang di Indonesia bisa ditekan.

Pengalaman berkesan berikutnya adalah saat bertempur di Timor Timur pada 1975. Saat itu, yang dihadapi dua pleton pasukan TNI adalah tentara Fretelin alias Front Revolusioner Independen Timor Timur.

Sebuah serangan fajar membuat tentara Fretilin saat itu meninggal di area terbuka. Kesuksesan tersebut tidak lepas dari strategi tentara Indonesia saat itu. Serangan fajar sendiri terpaksa dilakukan mengingat tentara Fretilin punya banyak senjata canggih saat itu. Kondisi itu berbeda dengan tentara Indonesia.

Baca Ini Juga Yuk: Mengenal 4 Jenis Veteran yang Terdapat di Indonesia

"Penyergapan dilakukan subuh, kira-kira pukul empat. Saat mereka masih tidur, kita mendekati mereka dengan berjalan pelan. Setelah dekat, kita merayap. Setelah jelas musuhnya (dari jarak dekat) kita lempar granat dan buka tembakan," tutur Hidayat.

Di Timor Timur, Hidayat cukup lama bertugas, tepatnya selama 10 tahun. Daerah tempatnya bertugas pun cukup istimewa karena cukup sering terjadi perang dan pemberontakan. Ia pun sudah terbiasa melihat ada rekan-rekannya gugur di medan perang dengan kondisi mengenaskan.

Tapi, Hidayat mengaku tak pernah mengalami luka serius selama bertugas di Timor Timor, termasuk selama kariernya menjadi tentara. "Kuncinya berdoa dan kita harus ikuti aturan strategi tempur," ucapnya.

Di tengah berbagai dinamika yang dihadapi, Hidayat pernah juga merasa ada keajaiban. Keajaiban itu bahkan bisa membuatnya hidup hingga di usia 78 tahun saat ini.

"Saya pernah dilempar granat sama musuh malam-malam, itu tahun 1981 waktu jadi danyon (komandan batalyon). Saat itu pasukan Fretilin datang malam-malam ke dan melempar granat," tuturnya.

Beruntung, granat itu tidak meledak meski mendarat di dekatnya yang saat itu ada di area terbuka. Padahal, jika saat itu meledak, Hidayat kemungkinan akan meninggal dunia. Itu berbeda dengan rekannya yang sama-sama dilemar granat. Granat itu meledak dan membuat rekannya gugur. "Karena pertolongan Tuhan dan takdir, granat itu tidak meletus," jelas Hidayat.

Ia sendiri berharap perjuangan bersama rekan-rekannya di masa lalu menjadi cermin bagi generasi muda. Di masa lalu, para pejuang mengorbankan segalanya untuk berjuang meraih dan mempertahankan kemerdekaan.

"Peristiwa prjuangan itu harus bisa jadi gambaran ke generasi penerus bahwa untuk tegaknya NKRI perlu perjuangan dan pengorbanan. Begitu juga anak muda sekarang, perlu ada perjuangan dan pengorbanan, harus rela berkorban, pantang menyerah, harus bersatu demi Indonesia," pungkas Hidayat.


Foto: Oris Riswan Budiana/BeritaBaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler