Didi Mainaki, dari Reporter Agustusan hingga Tugas di Piala Dunia

Bandung - Sosok Didi Mainaki cukup familiar bagi warga Jawa Barat, khususnya suporter Persib Bandung. Ia adalah reporter Radio Republik Indonesia (RRI). Salah satu keahlian istimewanya adalah melakukan reportase pandangan mata pertandingan Persib.

Saat pertandingan Persib tak disiarkan televisi, sosok Didi cukup dinantikan untuk melakukan reportase di RRI. Sebab, melalui reportasenya, pecinta Persib bisa mendapat kabar terbaru soal pertandingan 'Maung Bandung'. Bahkan, masih banyak orang yang setia mendengar siaran radio meski Persib disiarkan televisi.

Sebab, siaran radio memiliki beragam kelebihan. Siaran radio bisa didengar saat pendengarnya melakukan beragam aktivitas. Bahkan, siaran radio bisa didengar saat pendengarnya mengemudi, masak, atau bekerja. Kalangan tunanetra pecinta Persib sangat mengandalkan siaran RRI untuk tahu bagaimana jalannya pertandingan.

Didi sudah menjadi reporter spesialis pertandingan Persib sejak 1998 dan masih aktif hingga kini. Berkat tugasnya itu, ia sudah menginjak berbagai tempat di stadion. Sudah tak terhitung berapa stadion yang pernah ia singgahi untuk melaporkan pertandingan Persib.

"Stadion se-Indonesia sudah didatangi semuanya dari mulai Sigli (Aceh) sampai Wamena (Papua). Dulu enggak pernah kebayang bisa begitu. Dulu cuma membayangkan (melakukan reportase) hanya di Stadion Siliwangi Bandung," kata Didi kepada BeritaBaik.id di Kantor RRI Bandung, Rabu (11/9/2019).

Yang menarik, semula pria 50 tahun itu tak pernah berpikir menjadi reporter. Apalagi, saat pertama bekerja di RRI pada 1991, ia bertugas di bagian teknik. Ia juga sempat ditugaskan di bagian tata usaha.

Tapi, ia didaulat menjadi reporter untuk berita umum sejak 1994. Ia pun banyak belajar hingga akhirnya bisa bertugas dengan baik. Ia ditempatkan bertugas di Kabupaten Bandung. Selain itu, ia juga mendapat tugas tambahan dengan menjadi reporter pertandingan sepak bola. Sejak 1998, ia pun secara khusus ditugaskan menjadi reporter pertandingan Persib.

Uniknya, Didi tak punya latar belakang pendidikan di bidang penyiaran atau jurnalistik. Bekalnya menjadi reporter, khususnya untuk pertandingan sepakbola, hanya kegemarannya jadi komentator di kampung halamannya di Majalengka. Bekal lainnya adalah semangat untuk belajar.

"Kalau ada acara Agustusan di kampung, kalau ada lomba-lomba saya selalu jadi reporter. Begitu kerja di RRI melihat senior siaran sepak bola, saya merasa bisa," ucapnya.

Karena merasa bisa menyiarkan pertandingan sepak bola, ia lalu mengungkapkan keinginannya pada penyiar di RRI. Tak langsung terwujud. Ia harus belajar dulu. Saat ada pertandingan sepakbola, ia sempat diajak ikut bersama reporter ke Stadion Siliwangi di Kota Bandung.

Di sana, Didi dibekali tape recorder. Saat laga berlangsung, ia diminta melakukan reportase pertandingan sepak bola dan merekam suaranya. Reportasenya pun tak disiarkan. Hasil dari rekaman suaranya itu lalu dievaluasi oleh penyiar seniornya. Dari situ, ia mendapat masukan agar bisa menjadi reporter pertandingan sepak bola dengan baik.

Momentum pertama ia pertama kali melakukan reportase pertandingan Persib adalah pada 1998. Saat itu, ia diberi waktu untuk reportase selama 5 menit. Biasanya, reportase pertandingan dilakukan beberapa orang secara bergiliran. Sehingga, ia diberi jatah 5 menit sebagai permulaan. Ada rasa grogi yang begitu tinggi dirasakan Didi. Sebab, saat itu keinginannya jadi reporter pertandingan Persib bisa terwujud.

"Lima menit itu saat itu kerasa lama. Setelah itu, saya dievaluasi lagi, dikasih tahu kurang dan lebihnya apa," tutur Didi.

Secara perlahan, durasi reportase Didi pun terus bertambah, mulai dari 15 menit hingga 90 menit pertandingan dan berlangsung sampai sekarang. Saat bertugas, ia biasanya ditemani reporter lain. Salah satu rekan setianya adalah Pudjo Hastowo.

Motivasi Didi makin besar setelah suaranya di RRI sering didengar orang-orang dekat. Bahkan, ia tak ragu menerima kritik dan masukan dari para pendengar, termasuk orang-orang yang dikenalnya.

Semangat Didi pun semakin berlipat saat bertemu pendengar setianya dari kalangan tunanetra. Pendengarnya itu sengaja datang ke Kantor RRI Bandung untuk bertemu Didi dan Pudjo. "Karena keterbatasan fisik, dia bilang hanya bisa mendengarkan radio biar tahu pertandingan Persib. Dia bilang terima kasih dan siaran Persib sangat ditunggu sama dia," tuturnya.

"Dari situ semakin menebalkan keyakinan dan semangat saya, meski Persib sering disiarkan di televisi, siaran di radio harus tetap ada karena dibutuhkan," katanya.

Ditugaskan ke Piala Dunia
Di RRI Bandung, tak banyak yang bisa menjadi reporter pertandingan sepakbola. Sebab, sang reporter harus bisa menjelaskan secara detail sebuah pertandingan. Sehingga, pendengar akan bisa membayangkan bagaimana jalannya pertandingan. Bahkan, riuh rendah dan tingkah suporter di stadion harus bisa dijelaskan dengan baik.

Kemampuan Didi dalam melaporkan pertandingan sepak bola pun sering membuat gregetan pendengar. Bahkan, sampai ada pendengar yang harus mengubah kebiasaan jika mendengar Didi melaporkan pertandingan Persib.

Pendengarnya itu adalah orang Tasikmalaya. Sang pendengar mengungkapkan istrinya jadi punya kebiasaan selalu menjauhkan gelas, piring, dan barang yang mudah pecah lainnya darinya saat mendengar siaran pertandingan. Sebab, beberapa kali sang pendengar melempar benda di sekitarnya karena greget mendengar reportase Didi dalam menjelaskan suasana pertandingan. Itu membuktikan bahwa siaran atau reportasenya bisa membuat pendengar merasa hadir di stadion dan menggugah emosinya.

"Itu jelas menambah kepuasan saya. Hal begitu juga menambah semangat saya," ucap Didi.

Kemampuan Didi dalam reportase pun berbuah penghargaan besar. Ia sempat ditugaskan untuk meliput Piala Dunia 2018 di Rusia. Di sana, ia melaporkan berbagai hal unik, suasana, serta beragam hal menarik lainnya.

"Siaran di sana lebih banyak ke laporan sebelum atau sesudah pertandingan. Misalnya sebelum pertandingan bagaimana suasana di sana, wawancara suporter. Nanti setengah pertandingan atau setelah pertandingan laporan lagi," paparnya.

Bisa menginjakkan kaki di Rusia bagi Didi jelas sebuah hal luar biasa. Tak pernah sekalipun terlintas dalam benaknya akan bisa bertugas di sana. Ia pun memandang pencapaiannya itu sebagai puncak terbaik dari karirnya sebagai reporter.

Pendengar Setia Berujung Cinta
Menjadi reporter yang suaranya sering wara-wiri di radio, ternyata membuat Didi memiliki banyak pendengar setia atau penggemar. Pekerjaannya itu pun seolah memberi berkah. Sebab, ia akhirnya menikah dengan pendengar setianya.

"Istri saya termasuk pendengar setia. Saya nikah awalnya gara-gara dia mengidolakan saya," kelakar Didi sambil tersenyum.

Sang istri, Mety Yulianti, dulunya aktif di komunitas pendengar RRI. Metty sering berkunjung ke RRI Bandung dan lama-kelamaan bisa dekat dengan Didi. Karena cinta yang sama-sama terpaut, Didi dan Mety akhirnya menikah. Keduanya kini sudah dikaruniai tiga anak yang semuanya laki-laki.

Karena awalnya merupakan pendengar setia, rumah tangga Mety dan Didi berjalan manis. Mety sangat memahami tugas Didi sebagai reporter yang kadang tak kenal waktu.

"Dari awal nikah sampai sekarang enggak masalah ketika harus siaran dan pulang malam, ditinggal ke luar kota berhari-hari. Malah istri saya suka ngasih masukan, misalnya kenapa kok siarannya kayak kurang semangat," tuturnya.

Bahkan, sang istri tak mempermasalahkan sangat jarang bisa menikmati suasana Idul Fitri bersama Didi. Sebab, Didi sudah sejak 1990-an sering ditugaskan untuk liputan arus mudik dan balik. Biasanya, minimal dua minggu ia harus jauh dari keluarga dan tinggal di sekitar tempatnya liputan.


Foto: dokumentasi pribadi Didi Mainaki







Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler