Alan Makarim Produksi Mangkok Cantik dari Pelepah Pinang

Bandung - Ada banyak material atau bahkan limbah yang bisa dimanfaatkan di sekitar kita loh TemanBaik. Seperti kreasi pelepah yang satu ini. Di tangan Alan Makarim, pelepah pinang disulap jadi tempat makan yang cantik.

Ide pembuatan pelepah ini berawal dari keresahannya melihat lingkungan. Dari sana, Alan tergerak untuk melakukan sesuatu.

"Mulai di bulan November 2018, sepulang dari Wakatobi dan mendengar berita paus mati dengan perut berisi plastik. Dari sana, kami coba gali, apa sih yang bisa kita lakukan untuk lingkungan," kenang Alan kepada BeritaBaik, Minggu (29/09/2019).

Kemudian, perjalanan salah seorang teman Alan, yakni Rengkuh Banyu ke India memberikannya ide untuk membuat produk yang ramah lingkungan di Indonesia. "Di India, material ini (pelepah pinang) sudah banyak dimanfaatkan. Kalau di India, pelepah pinang dibuat sebagai piring untuk digunakan dalam acara adat," jelas Alan.

Ide menggunakan pelepah pinang sebagai alat makan pun kemudian ia bawa ke Indonesia. "Ternyata, (pelepah pinang) di Indonesia enggak kalah banyak, sampai akhirnya kami menemukan satu daerah di Jambi bernama Teluk Kulbi yang punya perkebunan pinang sebesar 1.800 hektare," papar pria berkacamata ini.

Pada November 2018, Alan bersama Rengkuh Banyu dan Almira Zulfikar, berinisiatif memanfaatkan pelepah pinang. Tiga anak muda ini memproduksi mangkok berbahan pelepah pinang di Jambi dengan nama Plepah.

Baca Ini Juga Yuk: Cobain Ello Jello, Gelas Berbahan Jelly yang Enak dan Sehat

Pengerjaannya dilakukan oleh warga setempat dibantu dua orang pelajar SMK asal Jambi yang menjadi pengawas produksinya ini. Sebab tim Plepah sendiri bermarkas di Kota Bandung.

Kini, Alan dan kawan-kawan terus melakukan riset untuk mengoptimalisasikan mesin pembuatan mangkoknya. "Saat ini, kami lagi riset untuk optimalisasi mesin. Gimana mesin yang bagus? Karena mesinnya bikinnya sendiri. Segala dibikin sendiri yang bisa," jelas pria kelahiran 15 September 1992 ini.

"Tantangan utamanya bagaimana membuat mesin yang optimal. Kami tahu permintaannya bisa banyak, jadi kami mulainya dari acara kecil dulu, yang membutuhkan sekitar 50-60 buah dulu. Jadi, saat ini masih event by event saja, itu juga acara-acara kecil," tutur Alan.

Selain melakukan riset untuk mesin, Alan juga tengah memikirkan cara untuk mengembangkan warga setempat. "Kami juga lagi riset bagaimana mengolah ini (pelepah pinang) dan bagaimana mendevelop masyarakatnya. Karena kami datang sebagai social project bukan sebagai industri," ungkap Alan yang menuntaskan S1 jurusan Desain Produk di ITB ini.

Gilbert, salah seorang tim dari Plepah berharap mereka tak hanya menjadi solusi namun juga sebuah proyek sosial. "Ada social project di balik Plepah ini. Karena bisa dibilang kita problem solving, tapi juga dengan pemberdayaan sosial juga," papar Gilbert.

TemanBaik tertarik bikin produk ramah lingkungan serupa? Alan membagikan pesan nih buat kamu yang ingin memulai bikin produk. "Kalau mau memulai sesuatu yang baru selalu ada dua masalah. Pertama, apa kita baru? Kedua, sudah pernah ada yang coba tapi gagal," jelas pria yang menempuh S2 Creative and Cultural Entrepreneurship di ITB ini.

"Tapi walaupun ternyata produk yang mau dibikin sebenarnya sudah ada, selalu berpikir dan ambil yang pertama saja. Untuk teman-teman yang mau bikin produk kayak gini, jangan takut enggak ada pasarnya. Karena pasti ada rezekinya karena permasalahan ini adalah permasalahan global," pesannya.


Foto: Nita Hidayati/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler